Berkendara dengan jenis transportasi kereta memang banyak diminati
sebagian besar masyarakat kita. Selain perjalanan relatif cepat, tarif
pun terjangkau serta tersedia untuk beberapa kelas tertentu. Namun
segala sesuatu memang ada sisi positif dan negatifnya. Di samping
kepraktisan dalam penggunaan jasanya, ternyata kereta juga memiliki
kelemahan dari sisi keamanan, baik secara materiil maupun moril,
terutama bagi kaum hawa.
Yang menjadi tren dalam penggunaan KRL
saat ini adalah adanya gerbong kereta khusus wanita di daerah
Jabodetabek. Gerbong ini terletak pada dua posisi ujung, yakni di
gerbong 1 dan 8. Mungkin saja penempatan gerbong ini ditujukan agar
menjadi ciri khas gerbong pada kereta, sehingga mempermudah pengguna
untuk menaikinya.
Secara tidak langsung, diadakannya gerbong
kereta khusus wanita berawal dari isu gender yang berada dalam
pembangunan. Di sini gender berbeda dari seks atau jenis kelamin
laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Yang termasuk isu gender
antara lain stereotipe terhadap perempuan, beban kerja, marjinalisasi,
subordinasi, dan kekerasan (violence). Kekerasan di sini tidak hanya
dilakukan melalui serangan fisik, tetapi juga terhadap integritas mental
psikologis seseorang sehingga dapat berdampak pada trauma. Dan salah
satu dari sekian yang tergolong ke dalam bentuk kekerasan gender menurut
Ratna Saptari, adalah pelecehan seksual, baik yang tergambar secara
tindakan maupun hanya komentar (ucapan verbal). Hal inilah yang menjadi
awal permasalahan dari dibentuknya gerbong khusus wanita.
Jika
dibandingkan dengan gerbong atau jenis kereta lain, gerbong khusus
wanita memang tergolong aman dan nyaman. Sayangnya, gerbong khusus ini
hanya ada pada jenis KRL commuter line yang tarifnya pun lebih tinggi
dari yang lain. Sebagai perempuan, terutama perempuan muslim, memang
sebaiknya jika dalam perjalanan memilih posisi yang aman dibanding harus
berdesakan dan bercampur baur dengan yang lain. Ini berlaku di jenis
transportasi apapun. Dan menggunakan jasa kereta dengan gerbong khusus
ini bisa disebut pilihan yang cukup tepat. Namun yang menjadi
pertanyaan, bagaimana jika tidak semua orang yang mampu menggunakan jasa
ini tetap menghendaki keamanan dan kenyamanan untuk dirinya? Apakah
perlu dibuat sistem gerbong khusus ini untuk semua jenis kereta,
walaupun pengawasannya kurang?
Sebelum sistem ini futuh, sebaiknya
memang penjagaan atas keamanan pribadi ditanggungjawabkan kepada diri
kita sendiri, itu menurut pendapat saya. Kita tidak perlu menunggu
sampai seluruh kendaraan umum menyediakan tempat tertentu untuk
perempuan agar keamanan lebih terjamin.
Saya pun sempat melakukan
pengamatan dan perbandingan saat menaiki KRL commuter line khusus wanita
dan KRL ekonomi. Dari segi kenyamanan, saya akui memang jauh berbeda.
Tapi keamanan? Seperti di bahas di awal, penjagaan lebih kepada diri
kita pribadi. Sebelum kereta diberangkatkan, biasanya banyak pedagang
berseliweran di gerbong ini, dan tak jarang komentar atau ucapan lain
berkonotasi miring ditujukan pada pengguna jasa yang notabene ‘menarik’.
Sedangkan kondisinya di KRL ekonomi memang cukup padat dan faktor
keamanannya kurang, tetapi bukan tidak mungkin jika ada penjagaan lebih
kepada diri kita sendiri di samping mencari posisi nyaman dalam kereta,
kita pun dapat mencegah segala kemungkinan negatif yang ada. Penjagaan
itu bisa berupa pakaian yang dikenakan ataupun perilaku.
Ya,
sebenarnya itu semua adalah pilihan. Memang akan lebih baik jika selain
memilih kereta khusus wanita, penjagaan diri pribadi juga tetap ada.
Semoga Allah selalu melimpahkan hikmah dan berkah di setiap perjalanan
hamba-hambaNya. Amin.
