Ketika “Tipu” Medan Meraup Laba dari Aceh

Ketika “Tipu” Medan Meraup Laba dari Aceh
oleh Darmansyah

Inilah cuplikan kecil bagaimana lekatnya ekonomi Aceh bertaut dengan Medan. Panen raseuki di tanah indatu ini “meuhambo” dengan deras di kota provinsi tetangga itu. Sebuah fenomena yang telah berlangsung lama dan disegarkan kembali oleh wartawan senior Darmansyah dalam sebuah tulisan ringan yang menggelitik.

***
Lobi Garuda Plaza,  di Jalan Sisingamangaraja, Medan, di suatu pagi, awal April  lalu, mirip  suasana “meunasah” di Kampung Aceh.  “Meunasah” yang mengaumkan koor zikir  “dhalail khairat.” Zikir paduan suara berharmoni magis yang biasanya dilantunkan dengan intonasi tinggi, terkadang juga mendayu, di “balee meunasah gampong.” Zikir yang bisa juga menghentak dengan retorika yang “ribet.” Retorika, yang hari itu bereinkarnasi di lobi hotel bintang tiga itu dan menjalarkan aumannya ke kisi-kisi ruang. 

Simaklah riuhnya benturan kalimat “kelat”  dari lafadh huruf “t” berdetak. Huruf “t”  ber”getah” dari aksentuasi dialog serabutan. Dialog gaduh, yang terkadang berdentam dan garang dari kalimat berstruktur  centangprenang. Kacau. Tak beraturan. Kalimat bersilang tanpa tatakrama pengucapan. Hari itu, ketika kami “takziah” ke “meunasah” Aceh itu, ada suara gaduh di meja “reception” tentang kealpaan pencatatan “bocking” kamar. Suara bernada tinggi, mirip orang bertengkar, berhamburan mengiringi kecemasan sang tamu ketika tidak mendapatkan kamar hotel.

Bahkan, dari sudut lain, masih di area lobi, di keremangan pagi Gayo Cafe, sekawanan orang bertampang pengusaha asyik bercas cis dengan volume suara besar menegosiasikan harga sebuah proyek sembari menghirup seduhan kopi pagi dan mengapungkan persilangan kata, “jeut, bereh, kah” ataupun “hana masalah” yang berdengung.  Percakapan yang sangat khas Aceh. Nuansa  “gentlement” yang di ujung “haba”nya, percakapannya, ditutup tawa berderai.

Jangan alpa pula menyimak celoteh berisik yang berlarian dari sudut sebuah restoran, yang subuh itu disulap sebagai tempat “breakfast,”  di sayap kiri lobi. Suara berisik yang menaburkan kalimat pendek “peu lom,” apalagi, dan “neu cok laju,” silakan ambil terus,  bernada perintah, dari tamu yang tergagap mengambil hidangan pagi. Kalimat yang diucapkan tanpa basa basi itu membuat tenggelam bisik sepasang tamu “bule,” yang hanya bisa tersenyum hambar dan mengangkat kepala melongokkan pandang kearah asal suara.

Masih di ruang lobi. Di sofa, yang melingkar di tiang tengah, teronggok rombongan tamu “gampong” meregang kantuk. Berdesakan. Mereka masih menunggu antrian kamar, dengan tas bergeletakan di lantai, sembari berceloteh mengumpat jengkel dalam  kalimat  “carut marut” yang ditujukan kepada “room boy” atas pelayanan adem ayem.

Di teras depan dua keluarga berwajah kusut melintas dan mendenguskan suara gerutu dalam kalimat yang sangat Aceh,”hana le kama,” tidak ada lagi kamar. Keluarga ini berpapasan dengan seorang lelaki “berstelan” pejabat,  di depan pelataran, yang tampak bergegas untuk  menyeberang Jalan Sisingamangaraja sembari menyeringaikan  penyesalannya dalam kalimat pendek,”tuwoe bocking,” lupa pesan. Dan ia melengos ke arah satpam minta dicarikan taksi.

Masih di area lobi, di depan kotak “lift,” tiga pejabat sebuah kabupaten asyik berdiskusi cas, cis, cus sesukanya dalam bahasa daerah berdialek “jamee,” tanpa peduli sorot  keheranan tamu di sekitarnya. “Rapat kerja,” ujarnya dengan nada risih ketika pandangan kami bertabrakan. Jawaban “pembenaran” dari sikap salah kaprah karena tidak ada pertanyaan yang kami lontarkan  tentang kegiatannya di hotel “meunasah” Aceh itu.
Rapat kerja,” dalam tanda dua petik, di hotel berbintang tiga itu, yang sekaligus menyertakan anak istri atas nama rekreaksi dan “nyambi” wisata belanja di mall Sun Plaza di Kampung Keling atau pun super market Carefour di Medan Fair, kawasan Jalan Gatot Subroto, untuk menyebut, dua dari sekian banyak, tempat “shoping” paling digandrungi keluarga ekonomi “pejabat” Aceh jika berada di Medan.
                                                           ***
Garuda Plaza,  ketika hari kami  “ziarah” sedang melimpah pengunjung. Padahal, saat  itu bukan pekan liburan. Tidak pula di bulan promosi yang biasanya di iklankan secara rutin di koran lokal terkenal Banda Aceh. Hari itu, Garuda Plaza Hotel, memang sedang “booming” tamu. “Booming” dengan “okupansi” atau tingkat hunian “overload,” melebihi kapasitas. Tingkat hunian yang mengharuskan tamu mengantri untuk mendapatkan jatah kamar. Atau mem”bocking” seminggu sebelumnya.

Dan ketika kami konfirmasi suasana  melimpah  ini dengan Hendra Arbie, pemilik sekaligus pengelola  hotel,  ia menjawab dengan enteng,” biasa.”

Ya, biasa. Biasa, ketika hotel milik keluarga Minang, yang mengidentikkan usahanya sebagai rumah “syedara,” sekaligus  “meunasah” Aceh  tempat tumpangan para “aso lhok,” penghuni asli. “Meunasah” yang melekatkan  nama ruangan dan ornamen khas Aceh di banyak sudutnya sebagai tali pengikat kekerabatan dengan tanah “indatu.” Tali kekerabatan yang menyebabkan  para “aso lhok” sumringah ketika nongkrong di  Gayo Kafe sembari menyeruput kopi Aceh berlabel “Ulee Kareng Kupi” atau “Gayo Mountain Cafe.” Atau pun mendecakkan lidah kala menyantap kuliner “bu gurih,”  semacam nasi uduk, ber“eungkot kayee,” ikan tongkol yang diproses lewat perebusan dan dijemur sampai keras, di waktu makan pagi.

Bahkan, untuk memelihara harmoni emosional dengan “gampong,”  para syedara, panggilan tamu asal Aceh, diberikan secara gratis koran lokal terbitan Banda Aceh yang  setiap paginya disorongkan ke pintu  kamar-kamar. “Pokoknya,  segala bau “Aceh”  didekatkan kepada tamu  untuk betah di rumah keluarganya,” ujar Parlaungan Lubis, wartawan koran lokal di Aceh yang berkantor di sebuah ruang di hotel itu sejak duapuluh tahun terakhir. 

Tidak hanya sekadar menjadi “rumoh keluarga,” Garuda Plaza juga “menyantuni” tamu Acehnya dengan diskon “besar,” asal bisa menyodorkan “ka-te-pe” lokal. Ka-te-pe, yang ketika “perang,” dulu, berwarna merah putih selebar telapak tangan, dan mendiskriminasikan pemegangnya sebagai warga antah berantah.

Dengarlah bagaimana resepsionis perempuan menanyai seorang tamu yang mengaku dari Aceh. “Tolong katepenya” Dan sang tamu gelagapan merogoh dompet mengeluarkan katepe untuk mendapatkan diskon limapuluh persen bagi pemegang katepe Aceh. Promosi siip!!

Sebagai bisnis yang mengidentifikasikan dirinya sebagai “meunasah,”  Garuda Plaza tidak hanya “membocorkan” dompet “syedara”  tapi juga menyimak secara seksama lengkok ekonomi “seudati” di tanah “indatu.” Lengkok ekonomi Aceh, yang hari-hari ini bagaikan, “roller coaster,” dari pasang naik pertumbuhan duit yang digelontorkan Jakarta atas nama dana otonomi khusus, dana bagi hasil migas dan dana alokasi umum untuk memadamkan “birahi” kemerdekaan.

Sebagai “syedara, juga, Garuda Plaza takzim membaca “resam” kesantunan “adat peuteumerohom” dengan menghindar kesan meraup  laba ketika banjir “raseuki” menggenangi “buya gampong .” Dan dalam posisi lain, “meunasah” Aceh ini tak ingin menjadi “buya lua.”   

Mereka hafal sebuah adagium yang hidup sebagai “joke” di tahun tujuhpuluhan hingga awal duaribuan, yang mencabik hati keluarga Batu Phat atau keluarga Syamtalira Aron, ketika perut bumi mereka dihisap gasnya untuk mensejahterakan elite Jakarta, “buya gampong ta dong-dong, buya lua ba reseuki.” Buaya kampung kebingungan, buaya luar menangguk rezeki.

Adagium, yang kini, ketika mobil “CRV, Innova ataupun Mitsubhisi double cabin, berseliweran di selangkang rangkang dipelesetkan  dengan kalimat, “buya gampong beuraseuki, buya lua meucok laba,” buaya kampung mendapatkan rezeki, buaya luar mengumpulkan laba.


Adagium “plesetan” yang muncul usai perdamaian Aceh. Adagium yang populer ketika “syedara glee,” saudara gunung, bekas kombatan GAM, turun ke kota dan mendapat rezeki dari jatah proyek dan menimba “fee” untuk kemudian dibelanjakan ke Medan atau Jakarta membeli simbol prestiseus mobil CRV, bepergian dengan pesawat di klas bisnis.


Sebuah adagium yang tidak lagi dilontarkan dengan emosional, seperti beberapa dekade sebelumnya, ketika ekonomi Aceh tumbuh menanjak dan masyarakatnya terpuruk ke dasar kemiskinan, dan memunculkan sinisme  menggemaskan di setiap “haba,” pembicaraan,  di keude kupi, balee meunasah  hingga menjadi diskusi di setiap “bakda” maghrib. Adagium, yang kemudian, menjadi kalimat perlawanan yang menyulut “prang sabil,” perang kemerdekaan, dengan Jakarta akibat ketimpangan  distribusi pendapatan. 

Distribusi dari penghasilan minyak dan gas yang menyembur di perut Perueulak  dan Syamtalira Aron untuk kemudian membuat liarnya adagium, “buya gampong ta dong-dong, buya tamong beurasueki.” Adagium yang menghela  perlawanan atas nama keadilan dengan label tuntutan “kemerdekaan.” Sebuah adagium,  yang kala itu, dan kini, disimak secara khidmat oleh pengelola  Garuda Plaza untuk mendekatkan jarak dengan para syedara dengan menukarkannya lewat jasa pelayanan penginapan.                                                            
                                                           ***
Garuda Plaza  bukan satu-satunya  tempat “raseuki,” rezeki Aceh “meuhambo,” bertebaran, di provinsi jiran itu. Masih banyak “meunasah” lainnya sepanjang Jalan Sisingamangaraja, hingga ke Jalan Puri atau Jalan Amaliun,  tempat “syedara” melepas penat. Tempat melepas “raseuki,” yang kemudiannya, ditangkap  secara bijak oleh Bank Aceh, dengan membuka kantor cabang utama di kawasan itu guna memudahkan orang-orang “asho lhok” menyolokkan kartu ke lobang ATM dengan menarik isi rekeningnya.

Garuda Plaza, plus “meunasah” seputar Jalan Sisingamangaraja hanyalah satu  barisan dari banyak “enclaf”  pendatang Aceh menggelontorkan “eumpang peeng,” tas duit. Yang lainnya, gelontoran duit “syedara,  bisa dicatatkan,  di Pasar Ikan Lama, Pasar Petisah, Medan Mall, Plaza Thamrin,  selain Sun Plaza dan Carrefour di komplek Medan Fair. Bertakziah ke sana, pasti terdengar sapaan akrab “pajan jinoe” atau pun “peu haba” di sudut gang atau ketika kepergok  sama-sama menawar barang.

Hingga kini, tak ada penelitian secara spesifik untuk menghitung besaran  angka “raseuki gampong” dihamburkan ke Medan. Dulunya,  ketika BRR masih eksis, ada hitungan kasar yang diuraikan secara acak  oleh sebuah koran terbitan Medan, hasil wawancara  serabutan dengan seorang pengamat ekonomi Unsyiah, yang mengatakan, sekitar delapan puluh persen anggaran lembaga itu menjadi “cashflow” di provinsi tetangga. Angka yang tak pernah ada klarifikasi finalnya. Sehingga memunculkan pendapat lainnya yang lebih ekstrim, yang mematok angka rupiah BRR yang “terbang” ke luar Aceh bisa mencapai sembilan puluh persen lebih.

“Urut saja, sejak dari kebutuhan semen, besi hingga  sayur dan telor ayam, bahkan ongkos buruh pun mengalir ke sana,” kata sang pengamat.

Waktu itu, katanya, duit BRR, baik dana APBN maupun lembaga donor yang  digelontorkan ke Aceh tidak kurang dari Rp 60 triliun. Ia juga mencatat duit yang tersisa di Aceh hanya untuk membayar harga tanah uruk, pasir, “fee pajak nanggroue,” ongkos penginapan dan untuk bayar makan “bu gurih” pagi. Lainnya?  “Batu bata saja didatangkan dari Medan dan Batam.” Entahlah.

Berangkat dari kenyataan itu, yang pasti, orientasi ekonomi Aceh, sampai hari esok, “magnet”nya masih berada di Medan. Tidak hanya “hambo” belanja konsumtif tapi juga  barang modal serta ekspor impor di”atur” di Medan. Seluruh aspek bisnis.

“Coba tunjukkan kepada  saya mana kegiatan ekonomi Aceh yang tidak disentuh tangan Medan,” tantang Rustam seorang ekonom Unsyiah yang lain, pada suatu siang kepada kami.

“Anda tahu? Sejak dari wortel, telur ayam, air kemasan, hingga komoditi ekspor semaca CPO, kopi, karet dan coklat arus ekspornya berpangkal atau berujung ke Medan,” katanya dengan geram.

Bahkan, sang ekonom lulusan S3 dari University Kebangsaan Kuala Lumpur itu dengan kalimat meninggi memberi angka ratusan milyar duit penduduk Aceh tertanam di sektor “properti”  di Medan.

“Mereka bukan membeli rumah. Tapi membeli kampung mewah di Medan. Mereka tertawan  simbol gaya hidup moderen di sektor investasi properti di sana. Mungkin lebih nyaman hidup di sana,” kata sang ekonom.
Ia bisa memahami pilihan hidup  yang diputuskan orang kaya Aceh di Medan. “Anda tahu harga kebutuhan hidup di Aceh? Tiga kali lipat dari di Medan,” katanya mengambil contoh harga lontong pagi yang Rp9 ribu di Banda Aceh, dan hanya Rp3 ribu di Medan. Kalau tidak karena alasan kerja, anak sekolah dan ikatan emosional  kampung halaman di sini, gila apa kita menetap di Aceh.

Ia menuding, banyak elite Aceh yang dulunya berjuang untuk kesejahteraan “rakyat,” bahkan dengan mengangkat senjata, kini kawin atau memboyong anak istrinya  ke Medan dan menghabiskan duit hasil proyeknya di mal-mal besar.

Sang pengamat menunjuk kawasan elit Medan, komplek perumahan  Setiabudi, di bagi timur kota, nyaris menjadi “gampong” Aceh. “Gampong” orang berduit di Aceh, dari  pejabat sampai toke-toke proyek di ujung Singkil hingga ke pucok Blang Kejeuren, berlomba membeli  rumah di kawasan itu  mulai dari hitungan harga ratusan juta hingga milyaran rupiah.

“Rumah milik para pejabat berlabel kepala satuan kerja hingga  milik kepala dinas sampai kepala daerah kabupaten. Tidak hanya milik pejabat, toke-toke, apakah dia kontraktor atau pun pengusaha swasta yang terbilang kaya, punya rumah di sini,” ujar seorang teman, yang selain  menempati  salah satu rumah di sudut komplek, juga pernah menyodorkan sejumlah  nama penghuni asal Aceh di sana.

Menurut sang teman, arus investasi orang Aceh di sektor properti Setiabudi bukanlah kasus baru. Kasus ini adalah pengulangan dari kejadian serupa di zaman barter, ketika orang kaya Aceh, seperti pemilik  CV Lubuk, NV Permai, Firma Anda, Aceh Kongsi ataupun CV Perdata ramai-ramai “membeli” perkampungan “mewah” di kawasan Medan Baru awal tahun enampuluhan.

Perkampungan, ketika kami menelusurinya  di awal April lalu itu telah banyak berubah dan berpindah tangan. Suasana perkampungan itu pun sudah mulai kumuh. Di beberapa sudut jalan terdapat genangan air dari parit yang tersumbat dan sampah secara liar berserakan. Terasa agak dibiarkan. Tapi “aura” Acehnya masih pekat walaupun perumahaan itu menjadi   “kuno” setelah berumur lima dasawarsa. Kuno sebagai bangunan dengan plafon rendah dan sebagiannya sudah dilego anak cucu pemiliknya. Padahal dimasa jayanya kawasan elit ini  pernah mendapat predikat sebagai “Kebayoran Baru” nya Medan.

Perkampungan elit ini masih meninggalkan jejak kental keacehannya dari sebuah masjid besar yang dibangun dari sadaqah  saudagar Aceh, kala itu, dengan nama  Istiqamah. Di masjid ini hingga sekarang masih  terpelihara tradisi “khauri maulod,” zikir “dhalail khairat ”  setiap malam Jumat dan tadarus dan shalat tarawaih berjamaah di malam – malam bulan Ramadhan.

Kampung ini, sepertinya, disengaja oleh para pemiliknya didekatkan dengan kantor perwakilan pemerintah provinsi di Jalan Patimura, yang  jaraknya sepenggal langkah.

“Kami dulu sepakat untuk menjadikan kantor perwakilan itu sebagai simbol keutuhan masyarakat Aceh di sini. Semacam “balee gadeng,” ujar Syahnan seorang penghuni “awai”  dari komunitas Gayo yang masih tersisa di Medan Baru.

Komunitas Medan Baru memang mencerminkan “plural”nya kesukuan di Aceh. Ada Gayo, Alas, “Jamee,” Melayu dan sebagainya. Untuk itulah, menurut Syahnan perlu sebuah “Balee Gadeng”  sebagai rumah musyawarah yang yang menampung keluhan sekaligus membahas dan memutuskan seluruh persoalan yang dihadapi perkauman. Juga untuk mendapat informasi tentang gejolak di kampung. “Semacam rumah komunitaslah,” kata kakek yang dulunya pengusaha kaya  di zaman “barter.”[]

Share this