Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Ini Efek Konsumsi "Brownies" Ganja Untuk Kesehatan

Ikhwanesia - Penemuan Badan Narkotika Nasional mengenai adanya ganja yang dicampurkan dalam bahan makanan dan dimasak berbentuk kue brownies dan cokelat ramai diberitakan dalam dua hari ini. Berita tersebut juga menimbulkan kecemasan para orangtua karena khawatir anak-anak mereka tanpa sengaja membeli kue ganja tersebut.

Menurut dokter spesialis saraf Fritz Sumantri Usman, konsumsi ganja, apa pun bentuknya, bisa menimbulkan efek ketagihan.

Ini Efek Konsumsi "Brownies" Ganja Untuk Kesehatan

Ini Efek Konsumsi "Brownies" Ganja Untuk Kesehatan
Brownies Ganja, ilustrasi

Berbeda dengan heroin, sabu, atau narkoba lainnya, menurut Fritz, efek ganja ke badan tidak banyak. "Kalau sabu atau amfetamin, efeknya jelas, halusinasi dan sebagainya. Kalau ganja, efeknya hanya menenangkan saja, Ganja itu menstimulasi kerja di otak kita, dan (hasil) stimulasinya yang menyenangkan. Zat ini akan merilis neurotransmiter dopamin. Efek yang sama juga dihasilkan dari menonton film porno atau makan, tetapi tingkat rilisnya berbeda" ujar dokter dari RS Fatmawati, Jakarta, ini.

Karena efeknya tersebut, di dunia kedokteran masih terdapat pro dan kontra mengenai keamanan ganja.

"Kondisi itu bisa mengganggu proses pembentukan dopamin pada kemudian hari sehingga ada kemungkinan menderita penyakit parkinson. Bukan berarti orang yang sakit parkinson itu karena ganja. Namun, pemakaian ganja meningkatkan risiko," katanya.

Beberapa penelitian juga menunjukkan penggunaan ganja sejak usia remaja bisa menurunkan tingkat kecerdasan seseorang.

Pemakaian ganja juga bisa menjadi pintu masuk untuk penggunaan narkoba jenis lainnya. "Sama seperti rokok yang bisa jadi pintu masuk bagi zat berbahaya lainnya," tandasnya.

Maka dengan demikian, konsumsi ganja baik itu langsung atau brownies ganja sebaiknya dihindari, Ini Efek Konsumsi "Brownies" Ganja Untuk Kesehatan. (Sumber: health.kompas.com)

Kenapa Harus Ke Dokter?


Saat Dosen sedang asyik menerangkan pengertian diagnosa di depan kelas,tiba-tiba hp bergetar. Kelas mendadak hening. AC yang dari tadi lari-lari entah ke mana, seketika membuat perkumpulan dan datang merongrong tubuh. Jantung sudah tak terdeteksi lagi berapa kecepatannya di saat sayup-sayup hpku mengeluarkan suaranya yang selama ini tertahan.  Kemudian , semua tatapan tertuju padaku, kecuali satu orang. Dosenku! Aku pura-pura tak melihat dan menebar senyum tak berdosa ke arah mereka. Dalam hati ada perang yang tengah terjadi. Kira-kira kesimpulannya begini : Aih, lupa lagi silent-kan hp.

“Kak Aaaaaaay, kucing aku sakit nih. Baiknya diapain ya?”
Entah si dosen denger atau engga, dari hati terdalam saya minta maaf karena harus segera membalas sms ini. Hitung-hitung belajar jadi dokter hewan yang cepat tanggap.
Sembari (pura-pura) memperhatikan penjelasan sang Bapak,  saya mulai membalas pesan seorang adik dengan menekan tombol hp dengan dua jempol. Kiri dan kanan. Maklum, hpnya masih bertombol. Bedalah dengan anak jaman sekarang yang udah keren. HP segede gaban, mainannya mulai dari angry bird sampai flappy bird. Kalo janjian sama temen, bisu. Masing-masing terpaku dengan gadget masing-masing.
Eits, sebentar. Aku bales dulu ya BBMnya.

“Eh, sakit? Masih mau makan, ga? Dia lemes apa masih bisa loncat-loncat?”
Sebenernya pengen ngetik “Sakit apa?” Tapi kalo saya bales kaya gitu, apa gunanya dia bertanya ke saya yang masih menjadi calon dokter hewan ini. (kemudian teringat perjuangan masuk ke FKH , inget malam-malam begadang sampai lupa gimana cara tidur, terus dianterin ikut tes sebab undangan ga lulus, terussss….)
Stop! Kembali ke laptop.
“Ini, habis ketabrak di depan rumah. Ga ada yang berdarah sih. Cuma dia jadi lemes gitu. Terus dikasih makan, gamau. Gimana ya kak?”
“Oh yasudah, coba kamu bawa ke klinik aja dek. Kakak tunggu di kampus sekarang,ya”
Sebenarnya pengen bales “Dik, kira-kira kalo kamu kecelakaan, ibu kamu konsultasi dulu ga ke dokter kamu harus digimanain? Sementara kamu ga sadarkan diri, sambil berteriak dalam hati : Bu, bawa aku ke rumah sakit sekarang!”  tapi aku tetap harus mengontrol emosi.
“Kak, ga bisa ya ngasih tau ini harus digimanain dulu?”
Ya Allah, aku belum mau mati. Kumohon perintahkan kepada Izrail untuk sekejap lagi saja menjemputku. Ini harus kuselesaikan.
“Emmm.. Ya itu. Kamu bawa aja ke klinik sekarang. Di sini ada dokter, beserta kakak-kakak koas. Insya Allah bakal diperiksa lebih lanjut.”
“Oke deh, kak.”
Alhamdulillah. Setidaknya sebagai calon dokter hewan yang baik, aku udah nunjukkin apa yang harus dia lakukan. Datang ke klinik untuk pemeriksaan lebih lanjut. *kemudian kalem*
Yang begini nih, sebenernya sudah sering terjadi. Seiring dengan perkembangan teknologi,  minta resep pun sudah bisa via BBM, atau mensyen-an di twitter, atau kalo ga mau ketauan tetangga, bisa via DM (alias direct message twitter), email, dan banyaakk lagi.
Oke, mungkin itu bisa ditolerir. Tapi, kalo soal nanya ke dokter, untuk mastiin si pasien sakit apa hanya via BBM atau apapun itu (yang tak bertatap langsung), itu adalah sesuatu hal yang mustahil. Dokter (ataupun calon dokter) itu bukanlah peramal. Bukanlah seseorang yang paham betul soal telepati, apalagi bermain hati.
Yaudah daripada panjang lebar ceramah, ini nih saya kasih tau kenapa si dokter perlu ketemu langsung dengan pasien.
Diagnosa. Merupakan suatu usaha seorang dokter untuk mencari tahu (bukan tahu isi atau tahu goreng, ya) atas status dari seorang pasien. Dimulai dari mengisi sinyalemen (tanda-tanda yang dapat dilihat secara kasat mata), kemudian anamnesa (menginterogasi pemilik pasien; berhubung aku adalah (calon) dohe, maka yang diajak bicara ya sipemilik, bukan pasiennya. :”) lalu, mulailah pemeriksaan status praesens. Melakukan auskultasi, inspeksi, palpasi dan perkusi. Apa aja sih itu? Yuk kita bahas satu persatu.

1. Inspeksi dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik. Dokter mengamati secara cermat mulai dari tingkah laku dan keadaan pasien. 

2. Palpasi adalah suatu tindakan pemeriksaan yang dilakukan dengan perabaan dan penekanan bagian tubuh dengan menggunakan jari atau tangan. Palpasi dapat digunakan untuk mendeteksi suhu tubuh, adanya getaran, pergerakan, bentuk, maupun ukuran. Dengan kata lain bahwa palpasi merupakan tindakan penegasan dari hasil inspeksi, disamping untuk menemukan yang tidak terlihat. (terdapat benjolan, pengecilan ukuran organ, dsb)

3. Perkusi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi getaran/ gelombang suara yang dihantarkan kepermukaan tubuh dari bagian tubuh yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan ketokan jari atau tangan pada permukaan tubuh. Perjalanan getaran/ gelombang suara tergantung oleh kepadatan media yang dilalui. Derajat bunyi disebut dengan resonansi. Karakter bunyi yang dihasilkan dapat menentukan lokasi, ukuran, bentuk, dan kepadatan struktur di bawah kulit. Sifat gelombang suara yaitu semakin banyak jaringan, semakin lemah hantarannya dan udara/ gas paling resonansi
4. Auskultasi adalah mendengarkan suara di dalam tubuh pasien (sering) menggunakan stetoskop karena biasanya dilakukan di daerah abdomen, jantung, dan paru. Biasanya dokter menggunakan alat stetoskop, kemudian setelah dapat hasilnya, dokter akan membandingkan dengan denyut fisiologi (normal).

Nah, setelah itu dilakukan akan ada tindakan lanjutan. Jika salah diagnosa, maka terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, salah ngasih obat, dan salah-salah lainnya.Jadi, masih ragu buat ke dokter dengan hanya mengandalkan sebuah gadget? ^_^

Banda Aceh, 14 April 2014

Referensi :
-TIm Diagnosa Klinik.2014. Penuntun Praktikum Diagnosa Klinik Veteriner. Laboratorium Klinik FKH Unsyiah
-Widodo, S. 2011. Diagnostik Klinik Hewan Kecil. IPB Press. Bogor

Perkembangan Strategi Erapon Di Indonesia


Indonesia telah melaksanakan program eradikasi polio dengan melakukan program imunisasi polio secara intensif di seluruh Indonesia melalui program pengembangan imunisasi/PPI sejak tahun 1980. Tahun 1980 program vaksinasi polio dimulai dan pada tahun 1990 cakupan imunisasi rutin > 90%. Jumlah kasus polio di Indonesia telah berhasil diturunkan sebesar 97% yaitu dan 773 kasus pada tahun 1988 menjadi 23 kasus yang dilaporkan pada tahun 1993. Tahun 1995 virus polio liar terakhir ditemukan di Kabupaten Malang, Probolinggo, Cilacap, Palembang, dan Medan.

Sejak tahun 1995 tidak pernah ditemukan lagi kasus polio liar di Indonesia dan direncanakan bebas polio tahun 2005 oleh WHO. Untuk meningkatkan kegiatan memutus mata rantai penularan, PIN telah dilaksanakan berturut-turut tahun 1995, 1996, 1997, dan tahun 2002 dengan cakupan lebih dari 90% sesuai anjuran WHO.

Namun pada bulan Maret 2005, seorang anak laki-laki berusia 20 bulan di daerah Sukabumi, Jawa Barat, dinyatakan lumpuh karena polio. Sesuai dengan Global Polio Eradication Initiative 2004-2008 bahwa kelumpuhan akibat polio yang terjadi di negara yang sudah tidak terjadi transmisi penyakit polio dalam waktu lama merupakan kejadian luar biasa dan dianggap kegawatan kesehatan masyarakat(KLB). Analisis genetik virus polio tersebut menunjukkan bahwa virus polio tersebut merupakan virus polio tipe 1 yang diimpor dari Nigeria , kejadian luar biasa polio tersebut juga telah terjadi dan menyebar ke negara-negara bebas polio. Lima belas negara yang bebas polio lainnya juga telah terjangkit penyakit ini, termasuk Yaman dan Arab Saudi.

Di Indonesia kejadian luar biasa tersebut ditindaklanjut dengan dilakukannya pemberian imunisasi secara intensif .

Kejadian luar biasa kasus polio di Indonesia sampai dengan tanggal 21 Maret 2006 ditemukan pada 305 anak yang tersebar di 10 provinsi di Indonesia, yaitu Jawa Barat (59 kasus), Banten (160 kasus), Jawa Tengah (20 kasus), Lampung (26 kasus), Jakarta (4 kasus), Sumatera Utara (10 kasus), Riau (3 kasus), Jawa Timur (10 kasus), Sumatera Selatan (5 kasus), dan Nangroe Aceh Darussalam-NAD (5 kasus) Kasus polio liar yang terakhir dilaporkan pada seorang anak di Aceh Tenggara pada 16 Februari 2006 .

Setelah dilaksanakan imunisasi secara intensif di seluruh indonesia dengan PIN dan Sub PIN ,sejak saat itu sampai sekarang tidak terdapat laporan KLB Polio di Indonesia.

sumber: majalah-farmacia.com

Pertussis : Batuk 100 Hari Yang Mematikan



Mungkin Anda belum terlalu familiar dengan nama ini. Pertusis dalam kehidupan sehari-hari lebih sering dikenal dengan nama ‘batuk rejan’, atau ‘batuk 100 hari’. Jenis batuk ini bukan jenis batuk biasa yang biasa kita alami. Jika batuk biasa dapat sembuh dalam 3-4 hari, batuk ini dapat berlangsung lama bahkan dapat menyebabkan kematian terutama jika menyerang anak bayi yang berusia dibawah 6 bulan.

Kuman penyebabnya bernama Bordetella pertussis. Kuman yang satu ini dapat berpindah dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak udara atau melalui barang-barang yang telah terkontaminasi kuman ini seperti kain, mainan anak. Ketika sang penderita bersin atau batuk, maka ribuan kuman akan tersebar ke lingkungan sekitar. Itulah mengapa penyakit ini sangat menular.

Bagian dari tubuh kita yang diserang oleh kuman ini adalah selaput lendir dari saluran nafas. Saluran nafas kita menjadi meradang dan bengkak, hal ini juga berakibat pada bertambahnya produksi dari lendir yang sangat berlebihan. Karena lendir yang dihasilnya jauh melebihi yang biasanya ditambah dengan pembengkakan, membuat saluran nafas kita menjadi sempit. Inilah yang membuat tubuh kita merespon batuk dengan tujuan agar sumbatan ini dapat dikeluarkan.

Pada kasus yang lebih parah, terutama pada anak bayi, dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang berakibat kematian.

Apa Gejalanya ?
Gejala muncul setelah 5 sampai 21 hari setelah pertama kali terpapar dengan kuman ini, namun umumnya berkisar antara 7 sampai 10 hari. Pada awalnya gejalanya seperti flu biasa, berupa pilek, kering atau peradangan pada tenggorokan, demam. Namun, biasanya lendir yang dihasilkan biasanya sangat berlebihan.

Setelah muncul gejala ini, penderita bersifat sangat menular sampai kurang lebih 2 minggu berikutnya. Pada tahap ini, penderita harus dipisahkan yang lainnya, terutama dengan bayi. Seperti yang telah disebutkan di atas, pada bayi, penyakit ini bisa menjadi sangat parah sampai pada kematian. Bersamaan dengan gejala flu tadi, timbulah batuk. Biasanya batuk akan bertambah buruk pada malam hari. Frekuensi batuk bisa bervariasi. Bisa hanya beberapa kali sampai ratusan kali perhari, namun biasanya berkisar antara 12 sampai 15 kali.

Pada saat batuk, biasanya wajah penderita menjadi memerah dan mata penderita menjadi berair. Pada sebagian kasus, karena batuk yang begitu beratnya, mengakibatkan tidak ada kesempatan penderita untuk menghirup oksigen diantara periode batuk tersebut, sehingga asupan oksigen menurun dan wajah menjadi membiru.

Kesulitan bernafas tadi itu menyebabkan antara periode batuk itu, penderita menarik nafas dengan suara melengking. Karena suara melengking ini lah dalam bahasa Inggris penyakit ini biasa disebut dengan ‘whooping cough’. Biasanya pada akhir batuk, penderita akan muntah.

Pada anak bayi kurang dari 6 bulan, suara melengking ini jarang ditemukan. Gejala yang timbul biasanya tidak spesifik, seperti, penurunan berat badan yang berarti yang mengakibatkan memerlukan perawatan di rumah sakit. Namun, bayi umur ini lah yang menderita penyakit paling serius.

Pada orang dewasa, gejala yang ditimbulkan mungkin hanya batuk kering dengan nafas melengking. Biasanya batuk akan berakhir 6 sampai 8 minggu, walaupun dengan menggunakan antibiotik. Namun pada sebagian kasus, bisa mencapai 3 bulan atau lebih, maka tak heran, penyakit ini sering dinamakan ‘batuk 100 hari’.

Pada anak, penyakit ini lebih mudah dikenali dari suara batuknya yang khas yaitu suara melengking saat mengambil nafas. Namun pada yang tidak khas, para ahli kesehatan biasanya memastikannya dengan mengambil usapan dari hidung atau tenggorokan untuk memastikan apa kuman penyebabnya.

Apa Bahaya Pada Bayi ?
Komplikasi terparah biasanya terjadi jika penyakit ini menyerang bayi. Sekitar dua pertiga kasus pada bayi, mengharuskan bayi dirawat di rumah sakit. Bahkan data di Inggris, menunjukan 1 dari 500 bayi yang terserang pertusis meninggal dunia.

Komplikasi yang timbul biasanya berupa:

    Organ paru, berupa pneumonia (radang pada jaringan paru), atelektasis (kolaps dari jaringan paru) dan bronchiectasis (kantong infeksi pada saluran nafas kecil dari paru). Yang biasa menyebabkan kematian pada bayi adalah pneumonia dan apnea (suatu periode tanpa nafas)
    Pendarahan, biasanya pada mata (subconjunctival hemorrhage) akibat batuk yang amat parah.
    Hernia, karena batuk yang parah menyebabkan tekanan dalam perut meningkat yang menyebabkan hernia.
    Kejang. Ini disebabkan karena kurangnya pasokan oksigen ke otak atau karena pendarahan kecil pada otak.

Bagaimana Bila Terkena ?
Hal yang pasti Anda harus menghubungi ahli kesehatan Anda. Antibiotik jenis makrolid seperti eritromicin dapat membunuh bakteri Bortella pertussis ini. Namun, terkadang penggunaan antibiotic tidak berpengaruh pada gejala yang ada. Hanya, antibiotic ini sangat berguna untuk menurunkan angka penularan kepada orang lain.

Seperti yang telah disebutkan di atas, setelah gejala pertama timbul, penderita akan bersifat menularkan sampai kurang lebih 2 minggu. Namun dengan pemberian antibiotic, waktu itu dapat dipersingkat menjadi sekitar 5 hari.

Yang dapat Anda lakukan sendiri di rumah, berupa:

    Buat penderita senyaman mungkin untuk bernafas, Biasanya posisi paling nyaman jika penderita dalam keadaan duduk.
    Bersihkan lendir dan muntahan pada saat batuk. Hal ini dimaksudkan agar lendir atau muntahan itu tidak masuk ke dalam paru.
    Perhatikan dengan baik komplikasi-komplikasi yang timbul seperti pneumonia agar sedini mungkin dapat diobati.
    Pastikan, penderita mendapat asupan gizi yang baik untuk membantu proses penyembuhan.

Cegahlah selagi dapat
Secara umum ada dua cara pencegahan agar Anda atau anak Anda tidak terkena penyakit ini:

    Pemberian Antibiotik. Permberian antibiotic berguna bagi orang yang belum kebal dan terpapar dengan penderita pertussis ini.
    Vaksisnasi. Vaksinasi ini sangat bermanfaat dalam mencegah terjangkitnya penyakit ini.

Berkat Vaksin
Sebenarnya, kita dapat sedikit berlega hati dengan ditemukannya vaksin untuk penyakit ini. Vaksin ini diberikan pada usia anak 2, 3, dan 4 bulan yang memacu tubuh untuk menghasilkan sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit ini. Namun untuk menjaga agar tingkat pertahanan tubuh memadai, maka vaksin ini dianjurkan diberikan sekali lagi pada usia sebelum masuk sekolah.

Vaksin ini diperkenalkan pada tahun 1950. Sejak saat itu, angka kejadian penyakit menurun sangat drastic. Di Inggris, sebelum vaksin ini diperkenalkan terdapat 200,000 kasus pertahun. Namun setelah tahun 1950, menurun sangat drastic menjadi 2,000 kasus pertahun.

Di Indonesia sendiri, sejak 1970, pemerintah telah mengharuskan anak-anak untuk mendapatkan vaksin ini. Biasanya vaksin ini diberikan bersama vaksin untuk penyakit polio dan tetatus, yaitu DPT.

Perkembangan terbaru, pada tahun 2005, telah dikembangkan vaksin penguat (booster) yang bernama Tdap (tetanus-diphtheria-acellular pertussis). Vaksin ini digunakan penderita dewasa yang sering terpapar tidak hanya dengan Bordetella pertussis namun juga kuman tetanus dan difteri.

Referensi

‘Batuk 100 Hari yang Sangat Menular’ www.kompas.com
‘DTaP/IPV/Hib’ www.immunisation.org.uk
‘Fast Fact About Whooping Cough’ www.pertussis.com
‘Learn About Whooping Cough’ www.pertussis.com
‘Medinfo: Whooping Cough’ www.medinfo.co.uk
‘Pertussis: Department of Health- Policy and Guidance’ www.dh.gov.uk
‘Whooping Cough (Pertussis) – Patient UK’ www.patient.co.uk
‘Whooping Cough- Health Encyclopaedia-NHS Direct’ www.nhsdirect.nhs.uk
‘Whooping Cough Printout for Doctors’ www.whoopingcough.net