Showing posts with label Lomba Artikel Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Lomba Artikel Ramadhan. Show all posts

Ramadhan, Momentum Membangun Kebangsaan yang Lebih Baik



Ramadhan Untuk Kemajuan Bangsaku: Pemanfaatan Ramadhan Sebagai Momentum untuk Membangun Masa Depan Kebangsaan yang Lebih Baik

Qashmal Saifuddin Bantasyam, Universitas Syiah Kuala
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro
Jln. Tgk. Cot Bak Bi Desa Lamklat Kec. Darussalam Aceh Besar

              "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa. Sebagaimana diwajib atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Tidak terasa bahwa kita kembali memasuki bulan yang penuh rahmat dan berkah, yakni Bulan Ramadhan yang bertepatan pada tahun 1433 H. Bulan yang diwajibkan shiyam, dan bulan diturunkannya Al-Quran pertama kali sebagai hidayah bagi manusia. Bulan Ramadhan ini merupakan momen yang paling dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia, dimana momen Ramadhan ini mereka manfaatkan untuk beribadah dan mengejar kebaikan sebanyak-banyaknya. Begitu banyak rahmat dan berkah yang diberikan Allah dalam Bulan Ramadhan ini. Selain pahala amal baik yang diberikan berlipat-lipat, dan bukan tidak mungkin hidayah yang diberikan kepada kita yang dapat merubah hidup kita selamanya.
Bulan Ramadhan juga merupakan yang penuh ampunan, dimana hal ini dimanfaatkan oleh umat muslim sebagai ajang untuk introspeksi diri. Di Bulan Ramadhan inilah, kita me-review kembali diri kita, tentang apa saja yang sudah kita lakukan di masa lalu, baik itu perbuatan-perbuatan baik, maupun dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Dan juga tentang bagaimana harapan kita untuk menjadi individu yang lebih baik ke depannya, yang dapat berguna bagi orang tua, keluarga, teman, rekan kerja, bahkan untuk bangsa kita sendiri, Indonesia. Hal itu semua merupakan proses yang kita jalani selama Bulan Ramadhan, guna menyongsong kemenangan yang hakiki.
Sebagai ajang perbaikan dan introspeksi diri, ada beberapa aspek dalam setiap diri kita yang diharapkan dapat diperbaiki selama bulan Ramadhan. Dimana jika kita berbicara mengenai kemajuan bangsa, untuk memajukan sebuah bangsa itu sendiri, perbaikilah terlebih dahulu individu-individu yang terdapat di dalam bangsa tersebut. Hasilnya, kumpulan individu yang baik tersebut akan membentuk karakter-karakter yang menjadi pondasi untuk membangun bangsa, yang mampu memimpin, menggerakkan, dan mengajak individu-individu lainnya untuk sama-sama bergerak menuju masa depan kebangsaan yang lebih baik. Ada 3 aspek manusia yang diharapkan dapat diperbaiki selama Bulan Ramadhan ini (Albani, Syukri, 2011).
Aspek pertama yakni aspek qalbiyah, yakni hal yang berhubungan dengan hati kita. Dimensi ini akan berkaitan dengan aqidah kita sebagai seorang manusia. Sejauh mana kita memahami tujuan di Bulan Ramadhan dan hasil yang kita dapatkan setelah Ramadhan berakhir. Hasil yang dimaksud disini yakni seberapa besar perkembangan ibadah, keyakinan, dan keinginan untuk menjadikan semua aktifitas yang kita lakukan selama bulan Ramadhan menjadi ibadah, sehingga indikator sukses atau tidaknya puasa kita yakni seberapa besarkah kuantitas ibadah kita tadi. Jika kita melakukannya dengan khusyuk dan serius, maka anugerah pertama yang lahir dankita dapatkan di Bulan Ramadhan yang termanfaatkan adalah anugerah qalbiyah atau keimanan, yang sangat berpengaruh terhadap kualitas diri kita untuk menjadi muslim dan pribadi yang lebih baik, beragama, dan berkarakter.
Aspek kedua yakni aspek moralitas, yakni hal yang berkenaan dengan moral dan perilaku terhadap sesama. Salah satu tujuan utama di Bulan Ramadhan yakni harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ada sebuah mahfudzat yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Hendaknya kita memiliki misi yang sedemikian rupa selama Bulan Ramadhan ini. Ramadhan bisa melahirkan sikap yang membahagiakan untuk sesama umat. Inilah cita-cita kedua yang dapat ditelurkan oleh Ramadhan. 
Pelatihannya bisa dimulai dari belajar sabar, berbaik sangka, mendahulukan kepentingan dan prioritas. Pelatihan selama satu bulan ini harus menjadi perubahan dan perbaikan sikap diri. Menjadi orang yang lebih santun dan menjadi orang yang lebih ramah dalam pergaulan sosial. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan pasti akan membutuhkan bantuan dari orang lain. Disinilah aspek moralitas akan sangat berperan dalam proses hablumminannas (Hubungan terhadap sesama manusia). Oleh karenanya, harus dipastikan Ramadhan ini bisa merobah moralitas diri yang berujung pada perubahan moralitas kolektif.
Aspek ketiga yakni aspek perbuatan. Kita harus memastikan bahwa kita dapat merubah segala perbuatan kita menjadi hal yang baik dan positif setelah Ramadhan. Tentunya perubahan yang dimaksud disini adalah perubahan yang permanen, bukan yang temporer. Ini juga merupakan salah satu indikator kesuksesan Ramadhan kita, untuk mengetahui apakah kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik seutuhnya atau tidak. Itulah yang disebut dengan manusia paripurna, dan menuju keadaan diri yang sempurna. Diri yang sempurna adalah diri yang sudah mampu merubah perilaku dan perbuatan menjadi lebih baik lagi, menambah kebaikan, serta mengikis keburukan.
Menurut saya, kurangnya ketiga aspek tersebut merupakan penyebab yang menjadikan keadaan negera kita menjadi carut-marut seperti ini. Jangan salahkan negaranya, tapi salahkan individu yang terdapat di dalam negara tersebut. Negara tidak bisa berdiri sendiri tanpa rakyatnya. Namun apa yang akan terjadi jika rakyatnya tidak memberikan hal yang baik kepada negaranya? Bulan Ramadhan sangat berperan besar dalam merubah paradigma masyarakat yang seperti itu. Jika semua individu memiliki kesadaran yang sama akan 3 aspek yang saya jelaskan sebelumnya, tentu hal-hal buruk tidak akan terjadi di negara kita.
Keberkahan Ramadhan itu tidak hanya dapat dirasakan oleh seorang individu saja, tetapi bisa di rasakan seluruh alam ini. Keberkahan ramadhan sejati adalah keberkahan seluruh alam beserta isinya. Begitu juga ketika kita melihat konteks suatu bangsa. Dengan datangnya bulan suci ramadhan, maka akan tercipta suatu atmosfer yang berbeda. Bulan ramadhan di sebut juga bulan Tarbiyah (Pendidikan). Artinya, ketika seseorang menjalani bulan ramadhan sebaik-baiknya dan dengan sepenuh hati, maka akan terciptalah pribadi-pribadi yang mulia. Sehingga pribadi-pribadi tersebut akan menjadi pondasi dan komponen pembangun bangsa yang lebih baik.
Kondisi bangsa kita akhir-akhir ini sangat menyedihkan. Moral kita makin merosot dari waktu ke waktu. Praktik korupsi, pencucian uang, skandal, dan seluruh kegiatan kriminal lainnya telah menguasai negara kita. Seharusnya, setiap umat muslim itu harus mempunyai sikap takut kepada Allah. Jika kita sudah takut kepada Allah, maka kita pasti tidak akan berani melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk dan hina. Perlu adanya suatu kebangkitan dan penyegaran secara menyeluruh bagi setiap lapisan masyarakat Indonesia. Bulan suci Ramadhan inilah dapat dijadikan momentum untuk mencapai tujuan tersebut, yang berperan dalam rangka perbaikan diri, untuk menjadi lebih berkarakter, lebih bermoral guna mencapai kemajuan bangsa yang diharapkan oleh masyarakat kita selama ini. 
Salah satu pemikir Islam kontemporer pernah berkata, “Kebangkitan dapat dimulai dengan kebangkitan spiritual dari setiap individu itu sendiri”, sehingga kita dapat semua dapat mewujudkan suatu bangsa yang lebih baik dengan bingkai Ukhuwah Islamiah (Ikatan sesama muslim). Semoga dengan bantuan berkah Ramadhan ini, hal ini bisa secepatnya terealisasikan. Amiin…

Ramadhan Untuk Kemajuan Bangsaku


Oleh: Istiqamah
Kemajuan bangsa ditentukan oleh tegaknya moral penduduknya dan runtuhnya bangsa disebabkan oleh runtuhnya moral penduduknya. Namun, seringkali kita ingin menegakkan moral bangsa, tetapi kitalah yang membuat moral itu mustahil untuk ditegakkan. Ramadhan membantu kita merekonstruksi moral bangsa yang berantakan. -Prof Dr Syahrin Harahap, MA-
Mari kita diskripsikan beberapa persoalan bangsa belakangan ini. Bukan lagi rahasia jika indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kasus korupsi terbersar di dunia, dari Gayus sampai Nazarudin. Seorang ibu yang mengeluhkan pelayanan medis yang kurang baik malah dipersalahkan karena keluhannya yang sebenarnya keluhan tersebut justru membangun pihak rumah sakit jika ditanggapi dan diperbaiki. Belum lagi  tauran yang terjadi antar siswa sampai menelan korban jiwa. Aksi demo baik mahasiswa maupun masyarakat yang memblokir jalan atas nama membela hak dan keadilan, merampas hak orang lain menggunakan jalan umum, bahkan sampai menginjak foto petingginya yang  sebenarnya sama saja menginjak bangsa sendiri. Dan bebagai persoalan bangsa lainnya. Jika semua persoalan bangsa disatukan maka masalah indonesia saat ini adalah masalah “moral”sebagaimana kutipan dalanm ungkapan Syahrin Harahap diatas.
Sebenarnya moral kitalah yang membuat bangsa bermasalah. Mari kita ambil contoh moral yang terjadi di luar negri. Tidak usah jauh-jauh, malaysia negri tetangga, jika mobil kita tiba-tiba mogok di pinggir jalan, kita tinggalkan saja, dijamin tidak akan hilang. Seorang teman dari Taiwan bercerita pernah ketinggalan hand phone disebuah taman, namun hand phone tersebut langsung diantarkan oleh polisi ke kediamannya, karena seseorang yang menemukan hand phone tersebut langsung menyerahkan pada polisi. Belum lagi kita bercerita tentang jepang dan negara maju lainnnya. Mungkin sebagian dari kita akan berpendapat, “ya iya lah.. hidup mereka memang sudah makmur, pantas saja kalau mereka jujur.” Nah, mana duluan telur atau ayam?, nunggu makmur dulu baru jujur atau jujur dulu baru makmur?. Kalau kejujuran menandakan kemakmuran dan kemajuan suatu negara. Maka logikanya gampang saja, cukup dengan bersikap jujur, maka bangsa kita akan maju, setidaknya “dianggap maju”. Menurut penuturan Bapak Shalahuddin Wahid, untuk memandang duniawi tidak berlebih-lebihan, perlu “moral dan etika” yaitu pengendalian dalam diri kita. Akhlak itu intinya “kejujuran”. Jujur terhadap Tuhan, Jujur terhadap alam, Jujur terhadap manusia, Jujur terhadap praktek budi pekerti. Di bulan ramadhanlah kita dapat berlatih diri membiasakan kebajikan tersebut.
Indonesia memang bukan negara islam, namun tidak bisa dipungkiri bahwa dominasi penduduk indonesia adalah islam, bahkan kebanyakan para petinggi dan pemimpinnya sekalipun adalah islam. Sehingga bagi bangsa indonesia dampak bulan ramadhan bukan hanya sekedar bagi sebagian penduduknya yang beragama islam saja, tapi ramadhan berdampak pada bangsa indonesia pada umumnya. Karena itu pula, suasana ramadhan begitu terasa di indonesia, terutama lewat media yang secara tiba-tiba saja memberi hiburan yang katanya islami, yang kenyataannya justru haha hihi. Media justru memberi hiburan melalaikan yang jika diperhatikan malah jauh dari nilai-nilai islam. Berbaur antara laki-laki dan perempuan, perempuan yang tidak menggunakan jilbab, atau berjilbab namun seperti tidak berjilbab karena tetap saja auratnya kelihatan. Ramadhan bukanlah untuk diisidengan hiburan-hiburan kondang yang saat ini media menamakannya islami. Konser islami, ngabuburit dengan hura-hura dan sebagainya. Ramadhan adalah bulan pengampunan, bulan yang dinanti, Marhaban yaa Ramadahan, selamat datang wahai ramadhan adalah sebuah ungkapan penantian akan bulan pengampunan. Di bulan ramadhan seharusnya kita meningkatkan amal dengan ibadah. Memperbaiki ruhiah kita, menekan nafsu, melupakan gejolak dunia, bulan yang mengharuskan kita berbagi. Ramadhan untuk bangsa adalah membantu kita merekonsturksi moral yang saat ini menjadi masalah terbesar bangsa. Jika kebiasaan bulan ramadhan telah terpatri, maka masalah moral akan teratasi, jangankan untuk korupsi, mencuri mangga saja tidak berani.
Menurut ustad Syed Hasan Alatas, ramadhan adalah bulan yang banyak mengandung hikmah didalamnya. Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda, malah dibulan ramadhan Allah telah menurunkan kitab suci Al-Qurankarim yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Di bulan ramadhan, umat islam diwajibkan untuk berpuasa. Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari egala sesuatu yang membatalkannya (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya), semenjak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah, karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya. Puasa ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan sabar, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terhindar dari sifat tamak dan rakus, dan lain sebagainaya. Sikap seperti ini adalah wujud moral yang harus dimiliki bangsa untuk maju. Haus akan kebenaran dan hina akan kesalahan.
Puasa melatih kita untuk menahan haus dan lapar, mendidik untuk merasakan bagaimana perasaan seorang fakir yang kelaparan. Karenanya, ramadhan adalah bulan yang menyamaratakan. Jika perasaan sama rata ini tersampaikan, maka tidak ada lagi penduduk kota yang memiliki lahan luas dengan bangunan-bangunan tinggi yang tak terisi  dan penduduk pingiran yang sempit dengan bangunan kumuh namun begitu padat. Jika semua telah sama rata, maka jadilah sperti pada masa kekhalifahan Umar, bingung mencari kemana lagi harta harus diinfaqkan, karena kemakmuran rakyat telah sama rata.
Ramadhan oh Ramadhan, seandainya ramadhan dimanfaatkan sebagaimana semestinya maka persoalan bangsa manakah yang harus kita khawatirkan?. Ketika hikmah puasa di bulan ramadhan tergapai, moral bangsa terekonstuksi, paham bangsa menuju pada sikap dan nilai-nilai dasar islam. Namun yang penting diingat adalah tanggung jawab ibadah dalam islam baik dibulan ramadhan maupun dibulan yang lain bukanlah pada bangsa, tapi tanggung jawab kewajiban ibadah kepada Allah SWT. Ketakutan salah dan dosa adalah wujud ketaqwaan kepada Allah SWT, bukan kepada hukum penjara, karenanya akhlak dan moral tersebuat lebih utuh dan ikhlas. Bukan sebuah pemaksaan yang menimbulkan pemberontakan jiwa yang justru membawa kepada kerusakan moral. Mari sambut Ramadhan menuju rekonstruksi moral untuk kemajuan bangsa.

Seorang Gadis dan Sajadah Impian



Oleh: Kiky Edward
Ketika duduk lama diatas sajadah , mengingat Allah dengan khusyuknya , terlintas sebuah ingatan lama di kepala perihal sebuah Sajadah.
Sekitar 16 Tahun yang lalu,  saya mengenal 2 orang anak gadis yang datang dari sebuah kampung  terpencil ke kota. Mereka kakak beradik  yang kembar. Umurnya sekitar 17 tahun. Mereka datang ke kota dengan niat mencari pekerjaan , karena mereka adalah tulang punggung keluarganya semenjak ayahnya meninggal ketika mereka masih duduk di kelas 2 SD. Mereka akhirnya bekerja sebagai seorang Pembantu.  Namun satu diantaranya beberapa bulan kemudian memutuskan untuk pulang, karena ingin mejaga ibu mereka di kampung  yang hanya tinggal berdua dengan adik lelaki mereka yang tak dapat berbicara.
Saat itu, Bulan Ramadhan tiba. Gadis  itu terlihat Shalat dengan sangat khusyuk di setiap malam. Sering kali terlihat setelah shalat ia mengelus-ngelus sebuah sajadah dengan tatapan amat berharap seperti berdoa, dan baru terakhir ia lipatkan dengan amat rapi dan ia simpankan ditempat yang paling aman. Begitu-begitu selalu yang terlihat, perlakuan yang amat hormat bagi sebuah sajadah.
Sekali waktu timbul juga rasa heran di kepala. Apa gerangan yang membuatnya menyukai sajadah itu. Maka saya mengganti sajadah itu dengan sajadah yang lain untuk ia gunakan. Ternyata sajadah yang baru ini mendapat perlakuan yang persis.
Lepas 3 tahun sudah semenjak Ramadhan tersebut. Masa itu saat akan tibanya lebaran ke-tiga gadis itu di sini. Sampailah sebuah kartu ucapan yang amat indah dan bernyanyi pula bila dibuka. Selamat Hari raya mohon Maaf Lahir dan Bathin rupanya ucapan yang ada di dalam kartu itu. Ucapan selamat lebaran yang lebih cepat seminggu dari jadwalnya ternyata datang dari negeri jiran, beserta sebuah foto. Dari foto itulah gadis itu tau, bahwa saudari kembar perempuannyalah yang mengiriminya kartu tersebut. Ia amat senang akan kabar baik dari saudari perempuannya itu. Tapi bersamaan dengan itu ia teringat akan keadaan ibunya di kampung yang mungkin ingin juga mendengar kabar dari saudarinya yang kini nun jauh.
Ia berniat pulang ke rumahnya sebentar saja, untuk menemui ibunya di kampung. Apalagi ibunya kini hanya tinggal berdua dengan adiknya yang tak dapat berbicara itu, semenjak saudara kembarnya telah memutuskan untuk pergi ke negeri jiran menjadi seorang TKI  setahun lalu.
Beberapa hari Sebelum pulang, ketika masa lenggang gadis itu menyusun-nyusun pakaiannya ke dalam tas yang sama dengan yang pertama kali ia bawa kesini. Ia menyusunnya dengan rapi, selagi saya hanya menggoyang-goyangkan kaki dengan santai di atas kursi di kamar yang sama.  Dalam suasana lenggang itu entah ada pasal apa gadis itu  bercerita sebuah perihal.
Ia bercerita bahwa semasa ia di rumahnya di kampung ia tidak pernah merasakan nikmatnya Shalat di atas sebuah  Sajadah yang lembut. Mereka Selalu Shalat diatas sebuah tikar Pandan yang ujung-ujungnya mulai terlepas dan bolong disana-sini. Tikar yang dibeli Ayahnya ketika beliau masih hidup. Tikar itulah satu-satunya  alas  ia dan keluarganya Shalat. Sejak kecil ia dan saudari kembarnya selalu ingin sekali merasa shalat diatas sebuah sajadah, apalagi ketika masa Ramadhan tiba dan anak-anak pergi ke meunasah untuk shalat taraweh. Sekali-sekali timbul juga rencana untuk membujuk ibu mereka membelikan sajadah, agar tak perlu mereka membujuk-bujuk teman mereka untuk membagi sajadah menjadi membujur untuk dipakai berdua walaupun kaki tetap dingin. Tapi setelah sekian tahun bujukan pada ibu mereka, sajadah itu belum terbeli juga. Apalah daya ibu mereka hanya seorang penjual sayur yang uangnya tak seberapa.
Baru disini, ia merasa amat diberkahi dapat mengunakan sajadah walaupun sebenarnya juga bukan miliknya. Sembari Shalat mengingat Allah, sembari berdoa agar di jagakan ibunya yang jauh, sembari itu juga ia amat bersyukur dapat shalat di atas sajadah saat ini. Dari situ saya tak heran lagi melihat tingkah polah hormatnya pada sajadah selama ini.
Lanjut kemudian gadis itu mengutarakan isi hatinya selama ini juga, bahwa  Ia amat ingin memiliki sebuah sajadah untuk dibawa pulang dan diberikan pada ibunya , agar dapat juga ibunya merasakan shalat di atas Sajadah yang lembut ini, seperti yang ia dapat rasakan di sini.
Mendengar cerita itu, saya  tak dapat memikirkan apa-apa lagi, kecuali menyuruhnya membawa pulang sajadah yang ia amat ia senangi, dan memberikan beberapa sajadah lainnya.
Kami kemudian mengantarkannya pulang kerumahnya di kampung. Setelah 2 jam berkendara, ketika telah sampai, dari ujung pandangan nampak seorang ibu tua keluar dari pintu rumah panggunggnya yang tua lagi miring mencoba-coba menilik siapa yang datang dari ujung jalan karena keterbatasan matanya yang rabun. Tapi ia tetap  menunggu di depan pintu melihat dengan setia hingga teranglah sosok siapa yang datang, yang ternyata anak gadisnya yang bersemangat menapaki jalannya menuju pelukan ibunya tercinta.
Sebuah nikmat tak terkira dalam kesederhanaan.
Sebuah Memori yang datang dari 16 tahun yang lalu.  Hanya sebelah tangan umur saya saat itu. Seorang penonton kisah yang tak berkomentar apa.  Tapi yang saya yakini, memori lama 2 anak kembar ini tak datang kembali tanpa tujuan.
Adalah hanya karena rahmat Allah jua sebuah hidayah datang. Hidayah yang pertama datang karena telah berusaha lama untuk mendekatkan diri kepada Allah, duduk berdiam, sembari mengisi bulan Ramadan. Pandangan lama akan Sajadah itulah cara penyampaiannya. Ditunjukkannya bahwa tak lain tak bukan sungguh hidup ini adalah sebuah rasa merasai, dan berbagi kepada sesama adalah cara terbaik mengisi relung kebaikan di jiwa. Kebaikan dari hati adalah sebuah rasa bahagia dan bangga yang juga menjadi obat pengingat diri di masa datang jika Allah mengizinkan.
Sebuah pesan  yang amat penting tak pernah datang secara mudah, ia memerlukan kode-kode dan saringan-saringan agar boleh disampaikan kepada yang dipesankan. Adalah tugas kita untuk tak berhenti berpikir, dan terus cerdas sebagai seorang muslim. Karena Allah mencintai orang yang berpikir akan ilmu yang ia dapat. Dalam kesadaran pemikiran itu, saya rasa merasai akan diri saya sendiri. Sudahkah saya berbagi lagi saat ini?
Itulah yang meyakini saya, bahwa Ramadhan inilah saat yang tepat menyegarkan kembali akan kesenangan kita akan merasa- rasai dan berbagi. Sungguh saya yakini nikmat berbagi lebih nikmat dari berbagi itu sendiri. 
*Sebuah Kisah Nyata, 21/7/12

Esensi Bulan Ramadhan Demi Peningkatan Integritas Bangsa




Oleh : Rizqina Rosma
Ramadhan merupakan sebuah media pendidikan . Di bulan inilah, kita belajar menjadi sosok yang ulung sebagai controller dalam segala hal. Selain itu, bulan ini memang pantas kita jadikan madrasah besar sebagai sarana memperbaharui ibadah, meningkatkan kualitas diri serta membelenggu diri dari hal-hal yang haram bahkan makruh sekalipun, demi berlomba – lomba memperoleh derajat muttaqin yang kaffah. Seorang ahli dakwah pernah mengatakan,  di samping mengajarkan kita mengendalikan diri, selama bulan puasa umat islam juga dilatih kedisiplinan. Keterampilan dan kedisiplinan yang diperoleh selama bulan ramadhan sejatinya membekas dan menjadi bekal dalam menjadi kehidupan dalam sebelas bulan lainnya, sehingga puasa seseorang benar – benar bermutu, bukan puasa soh (kosong). Mediator keterampilan yang paling dekat adalah ketika memenuhi undangan berbuka puasa, karena waktu berbuka adalah satu waktu maka tidak ada alasan untuk datang agak sedikit telat. Sungguh, kedisiplinan tersebut merupakan hal yang perlu dipertahankan bukan hanya dalam menghadiri undangan bubar di bulan ramadhan, tapi juga perlu dibangun kesadaran memenuhi undangan di luar bulan ramadhan seperti rapat, mengumpulkan tugas, dan sebagainya. Sebab, sudah semestinya semua kepatuhan yang telah dipraktikkan di dalam bulan suci ramadhan juga harus direalisasikan di dalam kehidupan sehari – hari ( di luar bulan ramadhan). Esensi makna puasa terdapat aturan utama bagi umat Islam, yaitu dilarang makan, minum, merokok, dan segala hal lainnya yang dapat membatalkan puasa dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Aturan – aturan tersebut sanggup diikuti dan dijalankan oleh umat Islam selama bulan puasa, umat Islam rela meninggalkan rasa kantuknya sejenak untuk memenuhi sahur dan langsung berhenti makan ketika waktu imsak telah tiba, meski secara lahiriah tidak ada yang mengawasi. 

Kita juga mengamati suasana di sore hari, mulanya jalanan sangat padat  untuk sekedar ngabuburit atau membeli penganan berbuka puasa. Namun, menjelang waktu berbuka tiba maka jalanan pun sepi. Hal ini menandakan umat Islam sangatlah disiplin dalam bulan ramadhan. Refleksi kedisipinan yang diterapkan umat islam di bulan ramadhan patut diacungi jempol, ini menandakan sebuah kemajuan bangsa yang sangat nyata jika dibandingkan tingkat kedisiplinan di luar bulan ramadhan.
Kita juga menyadari semua tindakan kita secara lahiriah selalu dikaitkan dengan maraknya bulan ramadhan. Betapa tidak, kebanyakan dari kita yang suka menerobos lampu merah jalanan sedikit bersabar dan menunggu sejenak lantaran khawatir dengan nilai puasa yang tergadaikan. Hiruk pikuk dari bulan ramadhan yang penuh beragam kelebihan yang tidak dimiliki bulan lain inilah memang mendikte dan melatih kita agar bersikap protektif dan membangun kredibilitas diri kita. Bulan Ramadhan melatih diri kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, terutama yang mengandung dosa. Di bulan ramadhan kita berpuasa, kita menahan lapar dan dahaga. Bukan itu saja, tetapi juga menahan segala yang dapat membatalkan puasa, juga segala yang dapat merusak puasa. Terutama hal-hal yang dapat menimbulkan dosa. Sehingga di dalam bulan ramadhan kita dapat terbiasa dan terlatih untuk menghindari dosa-dosa kita agar kita senantiasa bersih dari perbuatan yang dapat menimbulkan dosa.
 Latihan ini menimbulkan kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing, berkata kotor, berbohong, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan lain sebagainya.Sudah seharusnya kita patut bersyukur bahwa tanpa terasa seluk – beluk kehidupan berjalan sangatlah cepat. Kita telah mampu merasakan kembali bulan suci ramadhan yang belum tentu semua orang mampu merasakannya dikarenakan faktor – faktor yang dibawah kuasa-Nya. Konsep membangun kredibilitas yang telah dicontohkan Rasulullah saw, seperti sifat shiddiq (benar), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathanah (cerdas) bisa kita mulai realisasinya dalam bulan suci ramadhan ini, mengingat momentum untuk memulai mengimplementasikannya sangatlah relevan dan kondusif.
 Membangun kredibilitas diri juga erat kaitannya dengan kecerdasan yang identik dengan ilmu pengetahuan, tentunya di bulan ramadhan kitab suci Al-Qur’an sudah seharusnya menjadi pegangan mutlak yang ditelusuri kandungannya dan direalisasikan dalam sepanjang hidupnya. Orang yang berilmu dan berwawasn luas dianggap mempunyai kecerdasan intelektual. Hal ini belumlah cukup tanpa dibarengi dengan kecerdasan spiritual, yaitu kemampuan menerjemahkan tanda – tanda alam yang merupakan pemberian Allah dalam pikiran, sikap dan perilaku. Selanjutnya, kecerdasan emosional juga sangat urgen untuk diperlukan dalam membangun kredibilitas, seperti sabar, tidak egois dan sombong, tenang , tidak gegabah serta mampu mengendalikan emosi dan sikap. Nah, uraian di atas sangatlah jelas menggambarkan nilai bulan ramadhan begitu edukatif untuk mendidik bangsa.
Bulan Ramadhan mengajarkan akan adanya tujuan setiap perbuatan dalam kehidupan. Di bulan puasa kita diharuskan sungguh-sungguh dalam beribadah, menetapkan niat yang juga berisi tujuan kenapa dilakukannya puasa. Tujuan puasa adalah untuk melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil. Tapi jika tujuannya gagal maka puasa tidak ada arti apa-apa. Jadi, kita terbiasa berorientasi kepada tujuan dalam melakukan segala amal ibadah.
Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita hidup ini harus selalu mempunyai nilai ibadah. Setiap langkah kaki menuju masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat adil pada manusia ibadah, tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan ibadah, sampai tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat dijadikan ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua dapat bernilai ibadah. Bulan ramadhan mengajarkan pada kita akan arti hidup hemat dan sederhana. Setiap hari kita membeli kue dan minuman untuk berbuka puasa. Dari sekian banya kue dan minuman yang kita beli. Hanya minuman segelas teh buatan kita sendiri yang diminum. Yang lain banyak tertinggal dan sebagian terbuang keesokan harinya. 
Hal ini menyadarkan kita, bahwa apa yang kita beli banyak-banyak sebelum berbuka, hanyalah hawa nafsu saja. Kebutuhan kita hanyalah segelas teh manis! Mengapa kita harus membeli banyak-banyak minuman dan kue-kue yang akhirnya tidak kita makan? Hal ini menyadarkan kita betapa kita harus hemat, membeli sekedar yang dibutuhkan. Kelebihan uang yang kita punyai mungkin dapat kita sedekahkan bagi yang lebih membutuhkan melalui cara apapun.
Kita mesti berupaya agar ritualitas dan rutinitas puasa ramadhan memberi dampak kedisiplinan dalam kehidupan sehari –  hari. Di samping beragam aktivitas yang dilakukan secara berkala, seperti membaca Al- Qur’an, bersedekah dan lainnya, rutinitas yang dijalankan dalam bulan ramadhan memang kita akui sangatlah teratur dan tertata sangat tertib, sehingga membuat kita menyadari bahwa ramadhan adalah kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup, yang nantinya akan tercermin dalam kehidupan kita sehari – hari walaupun ramadhan telah berlalu.
 Setiap iktibar dari bulan suci ramadhan kita harapkan mampu mendedikasikan kita semua agar lebih produktif juga di luar bulan ramadhan, karena itulah esensi dari puasa yang mabrur. Semoga!