Showing posts with label Perang. Show all posts
Showing posts with label Perang. Show all posts

Ribuan Warga Israel Masuk ke Perlindungan Bom

Ribuan Warga Israel Masuk ke Perlindungan Bom
Ribuan warga Israel segera memasuki tempat-tempat perlindungan bom publik ketika sirene penanda serangan udara untuk pertama kalinya terdengar di Greater Tel Aviv, Yerusalem, Kfar Saba dan daerah Binyamina, Selasa malam (8/7/2014).

Hal itu menandai meningkatnya jangkauan roket-roket yang ditembakkan para pejuang Hamas di Gaza pada hari pertama "Operation Protective Edge" yang digelar Israel, The Jerusalem Post melaporkan yang dikutip Miraj News, Kamis.

Dua dentuman keras terdengar di pusat kota Jerusalem tidak lama setelah sirine peringatan roket terdengar pada pukul 21:56 malam waktu setempat. Ribuan warga memasuki tempat penampungan bom, sementara yang lain tetap berada di luar rumah dan kafe.

Sebuah baterai Iron Dome berhasil mencegat roket masuk melalui Tel Aviv. Hamas mengumumkan telah menembakkan empat roket M-75 ke ibukota negara Yahudi itu.

Juru bicara kepolisian Israel, seperti dilansir Mirajnews.com, Rabu (9/7/2014), Micky Rosenfeld mengatakan tidak ada roket yang ditembakkan dari Gaza menghantam ibukota, meskipun dua roket menghantam kawasan luar kota.

Setidaknya satu roket menghantam di wilayah Mateh Yehuda dekat ibukota. Sebuah roket menghantam dekat sebuah rumah, tapi tidak ada kerusakan.

Kota Yerusalem mengumumkan malam itu juga bahwa akan dibuka tempat perlindungan bom publik di seluruh sisi ibukota. Pemerintah kota juga merekomendasikan agar warga membuka tempat penampungan pribadi mereka.

Begini Cara Intel Kopassus Menyamar Masuk Sarang GAM

Hari ini pasukan elite TNI AD, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merayakan hari jadinya yang ke-62. Pasukan korps baret merah ini menggelar syukuran di Gedung Balai Komando, Markas Besar Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur.

Banyak kisah menarik sepanjang perjalanan pasukan elite Indonesia ini yang luput dari publikasi media. Media ini akan mengulas beberapa pengalaman unik maupun operasi militer korps baret merah tersebut.

Sebagai seorang prajurit komando, anggota Kopassus dibekali berbagai keahlian. Di antaranya kemampuan intelijen yang mumpuni.

Satuan intelijen Kopassus atau Sandha Kopassus saat pencabutan status daerah operasi militer (DOM) pada akhir tahun 1998, berhasil masuk berulangkali ke lingkaran kekuasaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Salah satu anggota intelijen Kopassus yang berhasil memasuki kekuasaan GAM bahkan menjadi orang kepercayaan Muzakir Manaf ialah Sersan Badri (nama samaran), anggota Sandi Yudha Kopassus.

“Saya pernah menyamar jadi tukang durian yang mengirim dagangan dari Medan ke Lhokseumawe. Saya pernah ditempeleng aparat saat melewati pos penjagaan karena diminta jatah durian,” kata Sersan Badri seperti dikutip dalam buku Kopassus untuk Indonesia, karangan Iwan Santosa dan EA Natanegara.

Saat itu kata Badri, untuk menyusup ke sarang GAM sangatlah sulit. Ia pun memutuskan menyamar menjadi seorang pedagang buah Aceh di perantauan. Pekerjaan itu lah yang kemudian mengantarkanya masuk sarang GAM.

Badri dan rekan-rekannya juga harus mengecoh patroli TNI agar tidak bisa menyergap GAM dengan memberi bocoran tentang gerakan TNI supaya GAM bisa menghindar. Penyamaran yang dilakukan Badri begitu tertutup, hanya unsur pimpinan yang mengetahuinya.

Berulang kali Badri diuji kesetiaannya oleh petinggi GAM dengan memintanya menyembunyikan sanak keluarga mereka. Selama tiga bulan lebih ia diuji kesetiaanya oleh petinggi GAM.

Kepercayaan yang akhirnya timbul tidak disia-siakan Badri. Dalam suatu kesempatan, tim intelijen Kopassus berhasil menemukan bongkar muat sebanyak 125 pucuk senapan milik GAM yang berhasil diselundupkan dari Thailand dan Malaysia.

Ketika Amerika Menyerang Aceh, Perlawanan Kuala Batee

"Aceh pernah digempur Amerika Serikat akibat politik dagang dan provokasi Belanda. Pelabuhan Kuala Batu di Susoh, Aceh Selatan pun rata dengan tanah."

Sejak tahun 1789 Aceh sudah menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Kapal-kapal dari Amerika datang untuk memuat lada yang kemudia diangkut ke Amerika Serikat, Eropa dan Cina. Menurut M Nur El Ibrahimy dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, setiap tahun diangkut sekitar 42.00 pikul atau sekitar 3.000 ton. Pusat perdagangan itu dilakukan di Pelabuhan Kuala Batu, Susoh.

Sejak tahun 1829, karena harga lada di pasaran internasional merosot, jumlah kapal Amerika yang datang ke pelabuhan Aceh mulai menurun. Di antara kapal yang datang dalam masa kemerosotan ekonomi itu adalah kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh.

Pada 7 Februari 1831 kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Selatan. Ketika Endicot dan anak huahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala dengan kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buahnya terbunuh.

Peristiwa itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abat menjalin hubungan dagang belum pernah terjadi perompakan seperti itu. Menurut M Nur El Ibrahimy, ada beberapa penyebab terjadinya peristiwa tersebut.

Pertama, peristiwa itu dipicu oleh kekecawaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh Amerika dalam perdagangan lada. Hal itu diketahui sustu ketika, berat lada yang dibeli dari Aceh 3.986 pikul tapi ketika dijual kembali oleh Amerika beratnya menjadi 4.583 pikul. Hal itu dilakukan melalui pemalsuan takaran timbangan. “Caranya, melalui sebuah sekrup yang dapat dibuka di dasar timbangan yang berbohot 56 lbs., diisi 10 atau 15 pon timah sehingga dalam satu pikul lada orang Aceh dikecoh sebanyak 30 kati,” jelas M Nur El Ibrahimy.

Penyebab lainnya, perompakan itu terjadi akibat provokasi Belanda karena Amerika telah berhasil menguasai perdagangan lada dikawasan pantai barat-selatan Aceh. Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh dimata dunia dengan tuduhan bajak laut dan tidak mampu melindungi kapal-kapal asing yang berlabuh diperairannya.

Aceh membantah hal itu, kepada para pedagang asing dan dunia internasional kerajaan Aceh memberi penjelasan bahwa perompakan itu ditunggangi Belanda. Belanda sengaja mempersenjatai sebuah kapal Aceh yang dirampasnya. Kapal itu dinahkodai oleh seorang suruhan Belanda yang bernama Lahuda Langkap.

Saat merompak kapal Friendship milik Amerika di Kuala Batu pada 7 Februari 1831, Lahuda Langkap dan anak buahnya yang dibayar Belanda dalam perampokan itu menggunakan bendera Kerajaan Aceh.

Pembajakan kapal Friendship itu kemudian tersiar luas di Amerika Serikat menjadi jelas ketika kapal tersebut tiba kembali di pelabuhan Salem pada tanggal 16 Juli 1831. Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal Friendship dan Partai Whip (Partai Republiken) yang beroposisi terhadap pemerintahan Presiden Jackson, sekaligus seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu, langsung menyurati Presiden Jackson pada tanggal 20 Juli 1831.

Silsbee meminta agar Pemerintah Amerika menuntut ganti rugi atas pelanggaran yang dilakukan oleh penduduk Kuala Batu terhadap kapal Friendship. Ia juga menyampaikan petisi yang ditandatangani oleh seluruh pedagang Salem kepada Pemerintah Amerika Serikat. Isinya, meminta agar dikirimkan kapal perang ke perairan Aceh untuk menuntut ganti rugi dan penguasa yang bertanggung jawab atas Kota Pelabuhan Kuala Batu.

Di samping itu, salah seorang pemilik kapal Friendship yang lain. Robert Stones, bersarna dengan Andrew Dunlop dan salah seorang sahabatnya yang dekat dengan Presiden Jackson, meminta kepada Menteri Angkatan Laut, Levy Woodbury, agar mendesak Presiden Jackson mengirim kapal perang ke Kuala Batu. Silsbee sendiri secara pribadi menulis surat kepada Woodbury, menggambarkan betapa besar keresahan yang ditimbulkan oleh peristiwa Kuala Batu di kalangan pedagang-pedagang Salem.

Pemerintah Amerika sebelum menerima imbauan dari Senator Silsbee telah memutuskan akan mengambil tindakan terhadap pelanggaran atas kapal Friendship di Kuala Baru itu. Setelah membaca peristiwa itu dalam surat-surat kabar, Woodbury segera memerintahkan agar disiapkan segala keperluan untuk menuntut ganti rugi atas pelanggaran tersebut.

Sebelum menerima surat dan Silsbee, dia telab mengadakan konsultasi dengan Presiden Jackson pada tanggal 21 Juli 1831. Tujuannya, mendapatkan persetujuan Presiden atas surat yang akan dikirim kepada Silsbee. Isi surat ini meminta informasi mengenai peristiwa Kuala Batu. Selain itu, juga dalam rangka memberi tahu Presiden bahwa dia sedang mempersiapkan eskader Pasifik untuk melaksanakan suatu tugas di Sumatra.

Ketika Presiden Jackson menerima imbauan Silsbee, tanpa ragu-ragu segera mendukung dengan membubuhi disposisi singkat dalam surat tersebut, isinya, meminta agar kasus Kuala Batu menjadi perhatian, serta kalau diangap perlu pemerintah Amerika melalui Menteri Angkatan Laut harus mengeluarkan surat perintah kepada Kapten kapal Potomac.

Potomac merupakan kapal perang terbaik dalam armada Amerika Serikat waktu itu. Ketika kasus Kuala Batu jadi pembicaraan di Amerika, kapal tersebut sedang dalam persiapan membawa Menteri Luar Negeri Amerika Van Buren ke Inggris. Akan tetapi atas perintah Presiden Jackson kapal itu dialihtugaskan untuk berangkat ke Aceh.

Pada tanggal 9 Agustus 1831, Komodor John Downes, selaku kapten Potomac diberi instruksi yang lengkap mengenai segala tindakan yang harus dilakukan sesampainya di Kuala Batu. Pertama-tama dia harus mencari informasi lebih dahulu mengenai insiden di Kuala Batu.

Apabila informasi yang diperoleh sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh kapten kapal Friendship di Washington maka dia harus menuntut ganti rugi atas kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Aceh terhadap kapal Friendship. Kalau tuntutan itu tidak dipenuhi, dia harus menangkap pelaku-pelaku kejahatan tersebut dan inembawa mereka ke Amerika Serikat untuk diadili sebagai bajak laut.

Perintah lainnya, benteng-benteng di Kuala Batu harus dimusnahkan. Sebaliknya, bila informasi yang diperoleh di Kuala Batu berbeda dengan keterangan Kapten Kapal Friendship, maka Amerika hanya meminta ganti rugi serta menghukum pelakunya.

Pada 29 Agustus 1831, kapal Potomac berangka dari New York ke Aceh dengan membawa 260 marinir. Sebelum sampai di Kuala Batu Komodor John Downes kapten kapal tersebut melakukan penyimpangan terhadap instruksi Menteri Angkatan Laut Amerika yang diterimanya.

Ia terpengaruh dengan cerita yang didengarnya dan kapten kapal Friendship, Endicot, dan orang-orang Inggris yang dijumpainya di Tanjung Harapan dalam pelayarannya ke Kuala Batu, yaitu bahwa harapan untuk mendapat ganti rugi dan penguasa Kuala Batu tidak mungkin terpenuhi.

Ia mengirim Letnan Marinir Shubrick untuk mengamat-amati keadaan di darat, tapi penduduk Kuala Batu tidak terkecob oleh penyamaran yang dilakukan Downes. Mereka lalu berkumpul di pantai untuk menghadapi sesuatu kemungkinan. Mendengar laporan yang demikian dan Shubrick, Downes memerintahkan untuk mendarat dengan kekuatan seluruh anak buah Potomac dan mengepung benteng-benteng yang berada di pantai Kuala Batu serta menangkap pemimpin-pemimpinnya.

Subuh 6 Februari 1832, sebanyak 260 orang marinir Amerika di bawah pimpinan Shubrick mendarat di Kuala Batu dan mengepung benteng-benteng yang ada di sana. Namun, karena ada perlawanan maka marinir Amerika membunuh semua yang berada di dalam benteng-benteng, termasuk wanita dan anak-anak serta merampas segala sesuaru yang berharga.

Setelah melakukan pembunuhan itu, mariner Amerika mengundurkan diri dengan dua orang diantara mereka tewas dan sembilan luka-luka. Downes kemudian memerintahkan menembaki kota pelahuhan Kuala Batu melalui meriam-meriam dari kapal Potomac. Seketika Pelabuhan Kuala batu pun jadi abu.

Tindakan Downes itu dikecam oleh sebagian politikus Amerika, diantaranta George Bencroft, yang pada waktu penembakan Kuala Batu berada di atas kapal Potomac. Sebagian harian Amerika yang terbit di Washington, seperti harian dagang yang sangat berpengaruh, Nile’s Weekly Register, kuga mengecam tindakan tersebut.

Pada tanggal 23 Juli 1832 seorang anggota DPR Amerika, Henry A.S. Dearborn dan Partai Republik Massachusetts yang beroposisi, mengajukan sebuah mosi yang meminta agar Presiden Jackson menyampaikan kepada Kongres mengenai Instruksi Downes untuk menggempur Kuala Batu, dan laporan tentang peristiwa tersebut. Mosi ini diterima oleh sidang. Pada hari itu juga, Presiden Jackson memenuhi permintaan kongres, tetapi minta agar hal tersebut jangan dipublikasikan sebelum laporan lebih lanjut diterima.

Dalam sidang Sabtu malam, tanggal 24 Juli 1832, permintaan Presiden itu diperdebatkan. Anggota Dearborn berpendapat bahwa hal tersebut harus dipublikasikan karena bila menutup-nutupi peristiwa tersebut, Downes akan mendapatkan sorotan jelek dari khalayak ramai. Sebaliknya, Ketua Komisi Urusan Angkatan Laut, Michael Hoffman dan Partai Dernokrat New York, menentang pendapat Dearborn dengan suatu amandemen bahwa peristiwa tersebut dapat dipublikasikan, tetapi harus menunggu laporan lebih lanjut.

Dalam amanat tahunannya, Presiden Jackson tidak menyinggung sama sekali peristiwa penggempuran Kuala Batu oleh Potomac yang dipimpin Downes. “Hal mi menunjukkan bahwa peristiwa pembakaran Kuala Batu dan pernbantaian penduduknya oleh marinir Amerika telah dipeti-es'kan (dibekukan),” tulis M Nur El Ibrahimy

Oleh iskandarnorman.multiply.com

Apakah Rakyat Aceh Bersatu Hanya Dalam Perang?


Perang dan konflik bersenjata telah menjadi keseharian rakyat Aceh. Dari perlawanan yang dibangun untuk melawan penjajahan Portugis, Belanda, Jepang, orde lama dan yang terakhir melawan kediktatoran orde baru atas ketidakadilan yang dibangun darah dan air mata pahlawan dan kesetiaan rakyat Aceh. Situasi ini telah menjadi ujian berat bagi persatuan rakyat Aceh.Berbagai istilah berkembang di masyarakat Aceh, seakan istilah tersebut menjadi ungkapan terhadap pengalaman pahit dalam membangun sebuah perjuangan. Kita ambil cotoh seperti kata ”Cu’ak” dan ”Panglima tibang” sering diungkapkan masyarakt Aceh untuk mereka yang tidak konsisten terhadap perjuangan.Ada pula kata yang diucapkan untuk membangkitkan semangat perjuangan dan persatuan seperti ”Perang sabi” atau kata ”PAI” untuk memberi batas jelas terhadap lawan mana yang perlu diwaspadai dan bisa menjadi musuh terhadap perjuangan.Selain itu ungkapan paranoid pun lahir dan berkembang yang sering diucapkan untuk merefleksikan kekecewaan batin terhadap mereka yang tidak konsisten. 

Sebut saja salah satu yang sangat populer adalah ”Tayue jak dikeu ditoeh geuntet, tayu jak dilikoet di koh likoet” (artinya kalau disuruh jadi pemimpin akan berkhianat dan kalau menjadi rakyat akan memberontak pada pemimpinnya). Ungkapan ini diucapkan untuk merefleksikan bahwa betapa tidak konsistenya sebagian mereka yang penuh ambisi untuk memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang tidak benar.Kita juga perlu mencermati refleksi sejarah akan eksistensi persatuan rakyat Aceh sebagai pelajaran sehingga tidak terjungkal dalam kisah yang sama. Hanya keledai dungulah yang sering jatuh dalam lubang yang sama. Sebut saja kisah panjang patriotisme rakyat Aceh melawan dan mengusir penjajahan Portugis, Belanda, Jepang yang diakhiri dengan kemerdekaan Indonesia. Dengan lantang seorang Tgk Daud Beureueh berani mewakili rakyat Aceh untuk menyatakan bergabung dengan Indonesia.

Padahal kalau beliau lebih arif dan demokratis, belum tentu rakyat Aceh setuju terhadap langkah tersebut.Hasil deklarasi Tgk Daud Beureueh akhirnya melahirkan konflik baru atas ketidakpuasan beliau terhadap janji Soekarno. Perlawananpun dikobarkan untuk melawan ketidakadilan pemerintahan Soekarno. Perlawanan berakhir dengan lahirnya perjanjian Lamteh yang diprakarsai oleh beberapa tokoh Aceh dan tentunya dengan beberapa janji baru terhadap tuntutan yang digelorakan rakyat Aceh.Dalam masa damai banyak tokoh dan pejuang Aceh, seakan larut dengan penghargaan dan keuntunga ekonomi yang mereka terima. Mereka lupa bahwa persatuan masih dibutuhkan untuk menuntut konsistensi pemerintah pusat dalam mengimplementasikan butit-butir perjanjian. Ketakutan dan keengganan untuk menggugat pemerintah pusat terhadap apa yang telah mereka janjikan, melemahkan daya tawar Aceh untuk mendapatkan apa sebenarnya menjadi hak mereka.

Ketika Hasan Tiro menggelorakan semangat baru perjuangan untuk melawan ketidakadilan ekonomi dibawah pemerintahan Soeharto, banyak dari tokoh DITII nya Daud Beureueh bersatu padu bergabung dan ikut berjuang. Drama perdamaian Lamteh ibarat pepesan kosong yang tidak sedikitpun mengikat mereka, karena hakikatnya memang dagelan politik wayang untuk meredam perjuangan rakyat Aceh.Saat ini perdamaian pun telah dibangun dengan landasan yang lebih kuat. MOU Helsinki yang difasilitasi CMI dan turut dikawal oleh semua negara Eropa. Butir-butir perjanjian MOU Helsinki jelas sangat menguntungkan rakyat Aceh bila pemerintah pusat dengan ikhlas mau mengimplementasikannya. Implementasi butir-butir MOU Helsinki tidak akan serta merta dikabulkan, tapi harus didesak dan diperjuangkan. Jangan lagi mengulang sejarah lama kalau kita tidak mau dibilang keledai dungu.

Saat ini mereka yang dahulu mengaku pejuang, aktivis dan tokoh masyarakat Aceh larut dalam memperjuangkan kepentingan ekonomi dan kekuasaan masing-masing. Kita terpecah belah dalam perebutan kekuasaan dan kekayaan. Sehingga muncul pertanyaan apakah persatuan rakyat Aceh hanya ada dalam perang?.Kita tidak ingat bahwa persatuan masih dibutuhkan karena memang perjuangan belum usai. Jangan saling sikut, karena kita perlu berjalan seiring layaknya dalam perang sehingga kita tidak mudah menjadi sasaran tembak lawan. Jangan terlena dengan kekuasaan, penghargaan dan keuntungan ekonomi, sementara kita melupakan hakekat perjuangan yang ingin dicapai.Semua lapisan rakyat Aceh baik bekas kombatan, aktivis, tokoh masyarakat, tokoh politik dan tokoh agama harus bersatu padu mengawal pelaksanaan butir-butir MOU Helsinki. 
Kita harus waspada terhadap pengalihan isu dalam upaya pengaburan esensi MOU Helsinki. Kita harus mengawal bersama kalau tidak ingin Aceh kembali tertipu.Kita harus ingat persatuan tidak hanya dibutuhkan saat perang, karena saat damaipun persatuan sangat dibutuhkan. Aceh sudah cukup banyak ditipu, karena memang kita mau ditipu. Sekarang saatnya menguatkan tekad dalam satu derap langkah yang seayun dan seirama berjuang untuk Aceh yang lebih bermartabat. (Taduek tadeng beusaban pakat sang seuneusap meu ado-a, bek dile pike keu hudep mangat segoh ta ingat keu nasib bangsa,nyo masanyoe geutanyoe lalee, hana le wate peubibeuh bangsa).

Teuku Raja Angkasah, Perang Aceh Bakongan

Teuku Raja Angkasah, mendeklarasikan perang melawan Kompeni Belanda. Hingga akhirnya syahid di Buket Gadeng, Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan, 25 Oktober 1925.Postur tubuhnya memang kecil, tapi bukan berarti tidak punya nyali dan keberanian. Sejak kecil, sahabat Teuku Cut Ali ini, sudah memiliki keberanian dan kelebihan. Kelihaian dalam memainkan pedang, menjadikan putra dari Teuku Abdurrahman itu disegani kawan-kawan seperjuangannya. Belanda menjulukinya sebagai “Harimau Sumatera” karena keperkasaannya.Teuku Raja Angkasah mulai memimpin perang melawan marsose Belanda awal tahun 1925.