Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Penyebab Pembacaan Proklamasi Di Gayo Lues Diwarnai Sorakan

Ikhwanesia - Pembacaan teks Proklamasi hari kemerdekaan pada peringatan HUT RI ke-70 di lapangan Pancasila Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues (Galus) diwarnai dengan sorakan para peserta upacara.

Pantauan Serambinews.com, teks proklamasi yang dibacakan oleh Ketua DPRK Galus, H. Ali Husin SH mengalami kesalahan yaitu penulisan kata yang berulang-ulang, sehingga menjadi bahan sorakan.

Penyebab Pembacaan Proklamasi Di Gayo Lues Diwarnai Sorakan

Penyebab Pembacaan Proklamasi Di Gayo Lues Diwarnai Sorakan

"Ini salah satu kelemahan dari panitia yang menganggap sepele, sehingga bisa berdampak pada kesalahan yang begitu fatal, seharusnya sebelum teks itu dibacakan dan diserahkan kepada petugas yang membacakannya diteliti kebenarannya terlebih dahulu," sebut sejumlah PNS di tengah-tengah lapangan itu. Sembari bertanya, siapa yang membuat teks proklamasi itu sebenarnya.

Sementara itu, Ketua DPRK Galus, H Ali Husin SH, kepada Serambinews.com membenarkan adanya kesalahan dalam penulisan dalam teks proklamasi tersebut.

"Saya bacakan sesuai teks yang diberikan oleh panitia, ternyata dalam teks proklamasi itu ada kesalahan penulisan," sebut Ketua DPRK Galus. hal seperti ini tidak boleh terulang lagi

Penyebab Pembacaan Proklamasi Di Gayo Lues Diwarnai Sorakan


sumber: serambinews.com

5 Kisah Unik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Ikhwanesia- Dibanding negara lain, barangkali kemeriahan upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, tidak ada apa-apanya. Ikrar kemerdekaan Bangsa Indonesia, dibacakan dalam kondisi prihatin dan sangat sederhana. Meski begitu, tidak seperti negara lain, kemerdekaan Bangsa Indonesia diperoleh atas perjuangan sendiri, bukan pemberian bangsa lain. Momen perayaan kemerdekaan harus kita maknai dengan dalam. dan dengan mengenang perjuangan agar kita semakin cinta dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, siapa sangka dalam perjuangan kemerdekaan juga menyimpan "kisah-kisah unik"

5 Kisah Unik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

5 Kisah Unik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Inilah beberapa di antaranya :

Bendera Dari Kain Seprai
Sebelum 16 Agustus 1945, Fatmawati, istri Bung Karno, sebenarnya sudah membuat bendera merah putih. Tapi, bendera itu dianggap terlalu kecil, karena panjangnya hanya 50 cm.

Fatmawati lalu membongkar lemarinya, dan menemukan selembar kain seprai putih, tapi tidak ada kain merah. Lalu, seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo berkeliling dan mendapatkan kain merah milik penjual soto. Kain tersebut dibeli dan diberikan ke Fatmawati. Bendera baru berukuran 276x200 cm itupun dikibarkan pada 17 Agustus 1945, di tiang bambu sederhana.

Teks Proklamasi Hilang
Setelah membacakan teks proklamasi, Bung Karno membuang secarik kertas teks bersejarah, ke tong sampah. Beruntung, wartawan BM Diah memungutnya kembali. Tapi, sempat beredar kabar dokumen penting itu hilang. BM Diah menyimpan rapi dokumen proklamasi itu, hingga baru menyerahkannya ke pemerintah pada 29 Mei 1992. Artinya, dokumen berisi teks proklamasi sempat menghilang selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

Bung Karno Sakit dan Tidak Berpuasa
Meski Bulan Ramadan, saat itu Bung Karno tidak berpuasa, karena sakit akibat gejala malaria tertiana. Pada pagi hari 17 Agustus 1945, Bung Karno dibangunkan dr Soeharto, dan mengeluhkan badannya greges-greges. Bung Karno kemudian disuntik dan minum obat. Setelah itu, ia tidur lagi dan baru bangun pada pukul 09.00 WIB. Setelah membacakan teks proklamasi pada pukul 10.10 WIB, Bung Karno kembali masuk kamar untuk beristirahat.

Bisa Lebih Dari Dua Proklamator
Sebenarnya Indonesia bisa punya lebih dari dua proklamator (Bung Karno dan Bung Hatta). Usai penyusunan naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol No 1 Jakarta, Bung Hatta mengusulkan agar semua yang menghadiri rapat, ikut menandatangani teks proklamasi. Tapi, usul itu ditolak Soekarni. Bung Hatta hanya bisa menggerutu, karena melihat teman-temannya tidak mau ikut 'membuat sejarah'. Mereka yang hadir saat itu antara lain Bung Hatta, Bung Karno, Soekarni, Achmad Soebardjo, dan Sajuti Melik.

5 Kisah Unik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Negatif Film Disimpan Di Bawah Pohon
Upacara proklamasi diabadikan oleh fotografer Frans Mendoer. Begitu upacara selesai, Frans didatangi tentara Jepang yang ingin merampas negatif film. Frans berbohong dengan mengatakan negatifnya sudah diserahkan ke Barisan Pelopor. Padahal, negatif film momen penting itu ia tanam di bawah pohon di halaman kantor Asia Raja. Andai negatif film tersebut sempat dirampas Jepang. Tentu kita tidak akan pernah bisa melihat momen dramatis peristiwa proklamasi yang menentukan perjalanan sejarah Bangsa Indonesia.

Kisah-kisah Unik Bung Tomo Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Ikhwanesia - Kisah-kisah Unik Bung Tomo Dalam Perjuangan Kemerdekaan, Momen perayaan kemerdekaan harus kita maknai dengan dalam. dan dengan mengenang perjuangan agar kita semakin cinta dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, siapa sangka dalam perjuangan kemerdekaan juga menyimpan "kisah-kisah unik", salah satunya Bung Tomo. Mari kita simak kisanya.

Senjata Makan Tuan
Kejadian ini dikisahkan sendirai oleh Bung Tomo didalam bukunya 10 November. Saat Itu Kota Surabaya menjadi panas dan bergejolak pasca kedatangan pasukan sekutu yang mencoba ingin mempermainkan kedaulatan Republik Indonesia. Tekad arek-arek Suroboyo sudah bulat untuk tetap mempertahankan Kemerdekaan. Rakyat biasa yang belum terlatih secara militer bahkan belum pernah memegang senjata menampakan semangat tempur sampai titik darah terakhir. Modal rakyat yang berjuang di medan tempur hanyalah keberanian dan spontanitas semata, sementara kemampuan bertempur dan strategi perang amat minim, maklum namanya juga tentara dadakan.

Kisah Unik Bung Tomo Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Kisah-kisah Unik Bung Tomo Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Keberanian dan spontanitas pasukan rakyat tanpa diiringi pengetahuan tersebut tidak jarang malah menimbulkan peristiwa yang dapat membahayakan nyawanya sendiri. Peristiwa itu terjadi ketika rakyat mengepung penjara koben yang dipergunakan untuk tempat perlindungan pasukan gurkha (tentara dari India yang diikutsertakan Inggris dalam pasukan Sekutu). Beberapa orang dari tentara rakyat melemparkan granat ke dalam gedung penjara tersebut tanpa mencabut terlebih dahulu kawat penguncinya. Ternyata sebagian pasukan rakyat belum mengerti cara mempergunakan granat. Mereka menyangka granat tangan itu akan meledak dengan sendirinya jika berbentur dengan tanah atau benda lain tanpa menarik platuknya. Bagi pasukan gurkha justru hal itu mengguntungkannya (ya iyalah dapat granat gratis). Mereka seakan mendapat durian runtuh saat melihat banyaknya granat yang masih 'orisinil' itu dilempar pasukan rakyat kearahnya. Yang terjadinya selanjutnya adalah malapetaka bagi pasukan rakyat. Pasukan gurkha lalu melempar balik granat-granat tersebut, dengan cara yang benar tentunya. Hasilnya, "Buuummmm.." granat itu meledak melukai pasukan rakyat. Pihak musuh pun telah berhasil mengirim kembali granat-granat itu kepada pengirimnya. Benar-benar senjata makan tuan.

Lho, Ko Saya Di Tahan?
Apa jadinya bila seorang pejuang ditahan oleh pejuang lainnya, pasti ada yang tidak beres. Kejadian tidak mengenakan itu pernah dialami Bung Tomo. Ditengah kesibukannya memobilisasi perjuangan rakyat melawan pasukan sekutu dan NICA, Bung Tomo malah ditahan dimarkas Pemuda Republik. Tak jelas apa perkara Bung Tomo hingga ia ditahan. Lebih lucunya lagi ternyata oarang-orang yang menahan Bumg Tomo juga tidak mengetahui apa alasannya menahan beliau. Perintah penahanan itu langsung dari Dr. Mustopo (Markas Besar Tentara). Sambil menunggu keterangan dari Markas Besar Tentara ihwal alasan penahanannya, Bung Tomo tampak gusar, cemas dan hanya pasrah. Hatinya mungkin saja bergumam " Apa salahku hingga para Pemuda Republik dan Markas Besar Tentara yang sama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan malah menahanku ? "

Akhirnya menjelang malam Hari baru ada kejelasan mengenai nasibnya. Ketika Pemuda Republik melaporkan penahanan Bung Tomo ke Markas Besar Tentara, seketika itupun Bung Tomo dibebaskan. Lalu apa yang membuat ia ditahan dan seketika dibebaskan? Ternyata ini semua hanyalah salah paham. Awal kejadian ini bermula ketika beberapa hari sebelumnya Dr. Mustopo dari Markas Besar Tentara memerintahkan Markas Pemuda Republik di Surabaya untuk "Melindungi" Bung Tomo dari kekuataan bersenjata (yang di maksud Dr. Mostop adalah Tentara Sekutu atau NICA tetapi mungkin Dr.Mustopo tidak mengatakan secara eksplisit didalam perintahnya). Namun, Pimpinan Pemuda Republik Indonesia nampaknya salah paham saat menerima perintah dari Dr.Mustopo. Kata "Perlindungan" ditafsirkan oleh para pemuda republik adalah penahanan. Merasa salah tangkap maka pimpinan Pemuda Republik meminta maaf dan kemudian mengajak Bung Tomo makan malam bersama di Markas Besar Tentara. Oaalaah piye toh..????

Berbohong Demi Perjuangan Rakyat
Siapa bilang bohong itu selalu buruk, disaat tidak ada cara lain maka berbohong untuk kebaikan apalagi kebaikan orang banyak tentu saja dimaklumi. Begitu juga mungkin yang ada di dalam benak Bung Tomo saat akan melucuti senjata dari seorang Kenpetai (Polisi Jepang). Saat itu memang para pemuda di Surabya sedang getol-getolnya melucuti dan merebut senjata dari para kenpetai meskipun belum ada perintah resmi dari pemerintah pusat maupun daerah. Dalam sebuah pelucutan terhadap kenpetai terjadi ketegangan. Ketegangan tersebut disebabkan kenpetai tersebut tidak mau menyerahkan senjatanya. Bung Tomo yang ada disitu harus memutar otak bagaimana caranya agar seorang Kenpetai ini mau menyerahkan senjatanya. Maka dengan memperkenalkan diri sebagai seorang wartawan domei (kantor berita terbesar Nippon) Bung Tomo menerangkan bahwa telah terjadi keputusan penyerahan kekuasaan oleh Panglima Tinggi Balatentara Dai di Jawa kepada Bung Karno. Pernyataan yang hanya isapan jempol tersebut dikarangkai dengan berbagai argumentasi Bung Tomo yang meyakinkan. Akhiranya kenpetai itu pun dengan sukarela melepaskan senjatanya. Dan para pemuda lain yang sebelumnya terlihat berwajah tegang kini tersenyum riang laksana anak kecil yang merndapat mainan baru. Horee berhasil Bung..

Ironi Seorang Pahlawan
Siapa tak kenal dengan Bung Tomo? heroisme perjuangannya sampai sekarang telah menorehkan catatan sejarah yang memberikan inspirasi bagi generasi selanjutnya. Konsistensi beliau dalam mempertahankan idealismenya tak pernal luntur oleh zaman, bagi Bung Tomo kebenaran harus dibela dan jangan pernah biarkan kesalahan berlalu didepan kita tanpa koreksi dan kritik. Pandangan ini pula yang membawa Bung Tomo harus merasakan hidup didalam penjara. Uniknya bukan Jepang atau Belanda yang memenjarakannya tetapi Rezim Orde Baru dibawah Suharto yang saat itu sedang menbangun hegemoni kekuasaannya. Kritikan-kritikan beliau terhadap berbagai penyimpangan yang dilakukan orde baru nampaknya membuat gerah penguasa. Sebagai konsekuensinya Bung tomo harus "menginap di hotel prodeo" pada tahun 1978 selama satu tahun.

Perlu waktu 27 Tahun bagi para penguasa bangsa ini sejak wafatnya Bung Tomo untuk memberikan gelar pahlawan kepadanya. Padahal Hari Pahlawan yang kita peringati setiap 10 November diperingati berdasarkan peristiwa Pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Dan kita semua tahu Bung Tomo adalah tokoh penting dalam peristiwa tersebut. Nampaknya Pesan Bung Karno "Jas Merah" (Jangan sekali-sekali melupakan sejarah) tidak di hiraukan lagi oleh para penguasa setelahnya.

Foto Bersejarah itu
Di foto itu Bung Tomo yang ceking terlihat gagah berpidato. Berseragam militer, tangan kanannya menunjuk ke atas. Kumisnya tipis, matanya tajam. Kepalanya dinaungi payung bergaris-garis dan corong bundar menghadang mulutnya. Namun siapa sangka, foto itu sebenarnya bukan diambil saat perang 10 November 1945, tetapi beberapa tahun setelahnya. Istri Bung Tomo, Sulistina, mengakui foto itu tidak dijepret di Surabaya. "Ituyang motret
IPPHOS, di lapangan Mojokerto. Waktu itu Bapak sedang berpidato. Nggak dibuat-buat, kok," tanya ujar Sulistina. Putra kedua Bung Tomo, Bambang Sulistomo, membenarkan ayahnya tidak sempat diabadikan pada perang 10 November karena perannya yang penting sehingga posisinya selalu dirahasiakan.

Lantas siapa yang memotret Si Bung sehingga foto hitam putih ini mampu bercerita banyak tentang kegagahan 10 November ? Surya mendatangi kantor IPPHOS Surabaya di Jl Urip Sumohardjo. IPPHOS kependekan dari Indonesia Press Photo Service, biro dokumentasi foto satu-satunya di zaman perang. Sayang, IPPHOS Surabaya tidak aktif lagi. Tidak ada orang yang bisa memberi keterangan tentang foto ini. Beruntung, ada sejumlah literatur terkait foto legendaris ini. Faktanya, selama periode terakhir 1945, ketika perang Surabaya berkecamuk, ternyata tidak ada satupun surat kabar yang memuat foto Bung Tomo berpayung ini. Foto itu pertama kali muncul dalam majalah dwi bahasa, Mandarin dan Indonesia, Nanjang Post, edisi
Februari 1947. Ada foto Bung Tomo dengan pose dahsyat ini. Dijelaskan dalam keterangan foto itu bahwa Bung Tomo sedang berpidato di lapangan Mojokerto dalam rangka mengumpulkan pakaian untuk korban Perang Surabaya.

Saat itu masih banyak warga Surabaya yang bertahan di pengungsian di Mojokerto dan jatuh miskin. Sementara Surabaya sedang diduduki Belanda. Sulistina hanya mengenal nama Mendur, wartawan foto IPPHOS yang mengambil gambar 'Bapak'. Lantas siapa Mendur? Nama lengkapnya Alexius Mendur (1907-1984), pendiri IPPHOS. Mendur adalah legenda fotografi era perang. Dialah yang mengabadikan hampir semua peristiwa bersejarah periode 1945-1949.

Kisah Unik Bung Tomo Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Dia satu-satunya fotografer yang memotret pembacaan proklamasi RI 17 Agustus 1945. Alex bukan orang asing bagi Bung Tomo. Mereka bersahabat sejak lama karena sama-sama wartawan. Di zaman Jepang, Bung Tomo adalah pemimpin redaksi kantor Berita Domei yang kelak menjadi Kantor Berita Antara di Surabaya.Sementara, Mendur tercatat sebagai kepala desk foto kantor berita Domei Jakarta. Alex Mendur dan saudara kembarnya, Frans Mendur, mendirikan IPPHOS pada 2 Oktober 1946 di Jakarta. Beberapa nama lain juga tercatat sebagai pendiri IPPHOS. Misalnya, JK Umbas, FF Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda.

Hasil jepretan Mendur itu sudah berbicara banyak. Tanpa mendengar pidato Bung Tomo dan hanya melihat foto itu, orang sudah bisa membayangkan dengan jelas bagaimana situasi pada masa itu. Tak mengherankan kalau kemudian foto itu dianggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah dibuat di era perang kemerdekaan.

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah SAW

Dengan suara terbata-bata, pagi itu Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam berkhutbah, "Wahai umatku, kita semua dalam kekuasaan Allah dan dalam cinta kasih-Nya. Maka taat dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, yaiut Al-Qur'an dan Sunnahku. Barangsiapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk Surga bersama-sama denganku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang menatap satu persatu para sahabatnya. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar Bin Khathab menahan nafas dalam tangisnya. Utsman Bin 'Affan menghela nafas panjang. Ali Bin Abi Thalib hanya bisa menundukkan kepala.

"Isyarat telah datang dan saatnya telah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua." Keluh dalam hati para Sahabat Rasul. Manusia paling Mulia sejagat itu telah hampir selesai menunaikan tugasnya. Dan tanda-tanda itu tampak semakin kuat. Sayyidina Ali dengan cekatan memeluk Rasulullah yang begitu lemah dan begitu goyah ketika turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi. Tapi pintu rumah Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam masih tertutup. Didalam rumahnya, Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam tengah terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma sebagai alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam.

"Assalamu'alaikum. Bolehkah saya masuk?" tanyanya.

Siti Fatimah tidak serta merta mengijinkan ia masuk.

"Wa'alaikumsalam. Maaf Ayahandaku lagi demam."

Ia kembali menemani Ayahandanya yang ternyata sudah membuka mata sembari bertanya :

"Siapakah dia wahai anakku?"

"Tak tahulah Ayahandaku. Sepertinya baru kali ini aku melihatnya." tutur Fatimah dengan lembutnya.

Lalu Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah puterinya ingin dikenangnya.

"Ketahuilah Fatimah. Dialah yang akan menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang akan memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malaikatul Maut." kata Rasulullah.

Seketika Fatimah berusaha menahan ledakan tangisnya.

Malaikat Turun ke Bumi
Ketika Malaikat maut datang mendekat, Rasulullah menanyakan kenapa Malaikat Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggillah Malaikat Jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut kedatangan Ruh kekasih Allah yang begitu Mulia ini.

"Jibril, katakan apa hakku nanti di hadapan Allah." tanya Rasulullah dengan suara yang teramat lemah dan lirih.

"Pintu-pintu langit telah terbuka. Para Malaikat telah menanti Ruhmu. Semua Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu." jawab Malaikat Jibril.

Dan ternyata itu tidak membuat hati Rasulullah lega. Matanya masih begitu tampak penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini ya Rasul?" tanya Malaikat Jibril.
"Katakan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" lanjut Rasulullah.
"Jangan khawatir ya Rasulullah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, "Kuharamkan Surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya." jawab Malaikat Jibril.

Detik demi detik semakin berlalu. Saatnya Malaikat Izrail (Maut) melaksanakan tugasnya. Perlahan Ruh Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam ditariknya. Tampak sekujur tubuh Rasulullah bersimbah keringat. Urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakitnya Sakratul Maut ini." Rasulullah mengaduh lirih.

Fatimah tak kuasa menatap Ayahandanya. Dibiarkan matanya terpejam. Sayyidina Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Malaikat Jibrilpun memalingkan muka.

"Jijikkah engkau melihatku hingga engkau palingkan wajahmu Ya Jibril?" tanya Rasulullah pada Malaikat Jibril sang Penyampai Wahyu itu.

"Siapa yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal ya Rasul?" kata Malaikat Jibril.

Kasih Sayang Kepada Umat Tiada Duanya
Kemudian terdengar Rasulullah memekik karena merasakan sakit yang tak tertahankan. "Ya Allah, dahsyat sekali sakitnya maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku. Jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin. Kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya mulai bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wa salam.

"Uushikum bishshalaati wamaa malakat aymanukum."
Aku berpesan kepada kalian jagalah sholat dan peliharalah orang-orang lemah diantara kamu."

Di luar pintu, tangispun mulai terdengar bersahutan. Sahabat Rasulullah saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Dan Sayyidina Ali kembali mendekatkan telinga di bibir Rasulullah yang mulai tampak kebiru-biruan.

"Ummatii...Ummatii....Ummatii."
Bagaimana nasib umatku.. umatku.. umatku.

Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji'un.

Berakhirlah sudah riwayat hidup seorang manusia yang kemuliaannya tak ada yang menandingi. Seorang manusia pilihan yang telah memberi sinar cahaya terang dan membawa kita terbebas dari kegelapan. Sosok yang begitu cinta kepada umatnya. Di saat ajalpun Rasulullah tidak memikirkan anaknya, isterinya atau yang lainnya. Dalam hatinya Rasulullah begitu gelisah memikirkan nasib umatnya.
wassalamu'alaikum

Tragisnya Kisah Kematian Abu Jahal

Tragisnya Kisah Kematian Abu Jahal
Kesombongan Abu Jahal benar-benar melampaui batas. Abu Jahal telah menentang Nabi Muhammad SAW sedemikian ngototnya. Bahkan pada saat dirinya sudah sekarat luka parah terkena luka tusukpun masih sempat berkata sombong. Ia pun berhasil dibunuh oleh Ibn Mas’ud dan mati dan mati sangat mengenaskan

Berikut Kisahnya

Keangkuhan Abu Jahal bersama kaum musyrikin akhirnya berakhir dengan cara mengenaskan. Ia yang selalu menentang Rasulullah SAW akhirnya kalah dalam perang Badar. Dalam peperangan tersebut. Dalam peperangan tersebut, orang-orang Islam mendapatkan kemenangan besar, sementara kaum musyrikin banyak yang mati dan lari karena tak kuasa menahan serangan umat muslim.

Dikisahkan dalam pertempuran itu, Abu Jahal terjebak dalam kebingungan karena pasukannya kocar-kacir. Namun karena begitu besarnya rasa angkuh dalam dirinya, ia berdiri sambil berteriak dengan penuh kesombongan.

“Demi Latta dan Uzza, kami tidak akan kembali hingga kami mengikat Muhammad beserta para sahabatnya dengan tali dan janganlah seorang dari kalian merasa iba hanya dengan membunuh satu orang dari mereka. Berilah mereka pelajaran yang sebenarnya hingga mereka tahu akibat perbuatan mereka yang membenci agama kalian, “kata Abu Jahal.

Perang Badar

Namun tak lama kemudian teriakan Abu Jahal pun lenyap seperti ditelan lembah BADAR. Abu Jahal terus mendapatkan perlawanan dari umat Islam hingga dalam kondisi terjepit.

“Apa yang terjadi dalam peperangan yang sengit ini terhadapku, aku ibarat anak dua tahun yang baru keluar giginya. Seperti inilah ibuku melahirkanku, “ujarnya tak berdaya.

Melihat Abu Jahal dalam kondisi bahaya, kaum musyrikin mengelilingi Abu Jahal. Mereka mengelilinginya hingga Abu Jahal persis berada di tengah-tengah bagaikan pepohonan yang mengelilingi hutan. Tapi dalam sekejap saja tubuh Abu Jahal ambruk ke tanah. Napasnya terengah-engah karena tusukan panah dan tebasan pedang dari pahlawan Islam.

Dalam kondisi sekarat, Abu Jahal pun menunggu detik-detik kematiannya yang sangat menyakitkan. Ia terkapar dan merasakan sebutuk-buruk penyiksaan.

Tatkala peperangan telah reda, kaum musyrikin lari dengan kekalahan. Sementara kaum muslimin bergembira atas kemenangan tersebut.

Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa yang mau memperlihatkan kepada kami apa yang diperbuat Abu Jahal? “
Mendapatkan pertanyaan itu, Ibn Mas’ud berdiri dan bergegas pergi lalu mendapati Abu Jahal dalam kondisi lemah setelah dipukuli oleh dua putra Afraa Mu’awwidz dan Mu’adz.
Ibnu Mas’ud pun kemudian menarik jenggot Abu Jahal seraya berkata, “Apakah engkau Abu Jahal?”
“Giliran siapa ini, “kata Abu Jahal dengan sisa-sisa tenaganya.
“Allah SWT dan Rasul-Nya, bukankah Allah SWT telah menghinakanmu wahai musuh Allah? “jawab Ibnu Mas’ud.
“Apakah ada yang lebih hebat dari lelaki yang dibunuh olehkaumnya sendiri? “jawab Abu Jahal dengan nada yang masih saja sombong.

Mendapat Gelar Fir’aun

Sesaat kemudian Abdullah pun membunuhnya kemudian mendatangi Raulullah SAW seraya berkata,
“Aku telah membunuhnya, aku telah membunuh Abu Jahal.”

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Demi Allah yang Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.”

Beliau pun mengung-ulang ucapannya sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda,
“Allahu Akbar, segala puji bagi Allah, Maha Benar Janji-Mya, menolong hamba-Nya dan memporak-porandakan pasukan, pergi dan perlihatkanlah padaku.”

Para sahabat kemudian bergegas pergi lalu memperlihatkan jasad Abu Jahal kepada Beliau. Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Inilah Fir’aunnya umat ini.”

semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah ini. semoga kita menjadi insan yang husnus khatimah, aamiin :)

sebarkan!

Ternyata Dulu Tahlilan 7 Hari Populer di Makkah dan Madinah

Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah (salah satu pengarang kitab tafsir Jalalain) didalam al-Hawi lil-Fatawi menceritakan bahwa kegiatan 'tahlilan' berupa memberikan makan selama 7 hari setelah kematian merupakan amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh umat Islam di Makkah maupun Madinah. Hal itu berlangsung hingga masa beliau :

أن سنة الإطعام سبعة أيام، بلغني أنها مستمرة إلى الآن بمكة والمدينة، فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة إلى الآن، وأنهم أخذوها خلفا عن سلف إلى الصدر الأول
“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. [1]

Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As-Suyuthi :

أن سنة الإطعام سبعة أيام بلغني و رأيته أنها مستمرة إلى الأن بمكة والمدينة من السنة 1947 م إلى ان رجعت إلى إندونيسيا فى السنة 1958 م. فالظاهر انها لم تترك من الصحابة إلى الأن وأنهم أخذوها خلفاً عن سلف إلى الصدر الإول. اه. وهذا نقلناها من قول السيوطى بتصرفٍ. وقال الإمام الحافظ السيوطى : وشرع الإطعام لإنه قد يكون له ذنب يحتاج ما يكفرها من صدقةٍ ونحوها فكان فى الصدقةِ معونةٌ لهُ على تخفيف الذنوب ليخفف عنه هول السؤل وصعوبة خطاب الملكين وإغلاظهما و انتهارهما.
“Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali Indonesia tahun 1958 M. Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata : “disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebegisannyaa dan gertakannya”. [2]

Istilah 7 hari sendiri didasarkan pada riwayat shahih dari Thawus yang mana sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat tersebut juga atas taqrir dari Rasulullah, sebagian juga mengatakan hanya dilakukan oleh para sahabat dan tidak sampai pada masa Rasulullah.

(red. Ibnu Manshur)

[1] al-Hawi al-Fatawi [2/234] lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi.
[2] Kasyful Astaar lil-‘Allamah al-Jalil Muhammad Nur al-Buqir, beliau merupakan murid dari ulama besar seperti Syaikh Hasan al-Yamani, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutubi, Syaikh Sayyid Alwi Abbas al-Maliki, Syaikh ‘Ali al-Maghribi al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath dan Syaikh Alimuddin Muhammad Yasiin al-Fadani.


sumber: muslimedianews

Teks Lengkap Pidato Bung Tomo 10 Nevember 1945

Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia
terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya
kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini
tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet
yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua
kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang
mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan
mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera puitih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara
di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
bahwa rakyat Indonesia di Surabaya
pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku
pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi
pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali
pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan
pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera
pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana
hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan mendatangkan presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini
maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pertempuran
tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri
dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya
Saudara-saudara kita semuanya
kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini
akan menerima tantangan tentara inggris itu
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya
ingin mendengarkan jawaban rakyat Indoneisa
ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini
dengarkanlah ini tentara inggris
ini jawaban kita
ini jawaban rakyat Surabaya
ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian
hai tentara inggris
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu
kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu
kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita
untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi inilah jawaban kita:
selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
tetapi saya peringatkan sekali lagi
jangan mulai menembak
baru kalau kita ditembak
maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka
Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!

sumber: islamedia

Uni Eropa Cemas Turki Menjadi Negara Islam

Perlahan tapi pasti doktrin sekulerisme mulai tersisihkan di Turki. Sebaliknya, studi Alquran di sekolah umum mulai digalakan di negara dua benua tersebut.

Perubahan itu rupanya dicium Uni Eropa yang tak berdiam diri terhadap langkah yang diambil Turki. Uni Eropa pun mengekspresikan kekhawatirkannya terkait perubahan itu.


Uni Eropa menuduh Ankara menggunakan kekuasaan untuk secara perlahan menyingkirkan sekularisme Turki dengan memperkenalkan studi Alquran di sekolah umum. Mereka juga menuduh Ankara menurunkan batas usia, dimana orang tua dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah agama Islam. Langkah lain yang jadi pengamatan Uni Eropa adalah reaksi keras Pemerintah Turki terkait aborsi.

Anggota Komisi Pembesaran Uni Eropa, Stefan Fuele, Kamis (7/5) kemarin, mengungkapkan keprihatinannya terkait dengan meningkatnya penahanan terhadap anggota parlemen, akademisi dan mahasiswa serta kebebasan pers. “Hal ini menghambat Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa,” kata dia seperti dikutip middleeastonline.com, Selasa (12/6).



Hal lain yang menjadi perhatian Uni Eropa adalah adanya rencana Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Perdana Menteri, Reccep Tayyip Erdogan yang berusaha untuk meluncurkan saluran televisi Islam dan proposal pembangunan tempat ibadah di ruang publik seperti teater dan opera.

Kepala Delegasi Uni Eropa, Jean Maurice Ripert mengatakan, perubahan yang dilakukan tidak sesuai dengan semangat sekularisme Turki. “Sejumlah politisi membuat perbandingan yang tidak sesuai,” imbuhnya.

Turki saat ini tengah menyiapkan RUU untuk memangkas batas waktu aborsi dari 10 pekan menjadi empat dan enam pekan. Ribuan perempuan dikabarkan menolak rencana tersebut.

Tak hanya itu, Turki juga berencana mengaktifkan kembali Masjid Aya Sophia sebagai tempat ibadah umat Muslim. Turki juga membangun Masjid Agung di Istanbul, yang nantinya bakal menjadi landmark baru kota tersebut. Oleh para pengkritik Erdogan, kebijakan itu dinilai mempromosikan Islam dan merusak tradisi sekuler Turki. (*/republika)

11 Februari: Meninggalnya Teuku Umar


Teuku Umar Meninggal

Teuku Umar dilahirkan pada tahun 1854 di Meulaboh, Aceh Barat. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899.

Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut setaa berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak 19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.


Februari 1899, Jenderal Van Heutsz   mendapat  laporan dari mata-matanya mengenai kedatangan Teuku Umar di Meulaboh, dan segera menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat diperbatasan Meulaboh. Malam menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya tiba di pinggiran kota Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat. Posisi pasukan Umar tidak menguntungkan dan tidak mungkin mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur. Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya.
 
Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar berita kematian suaminya, Cut Nyak Dhien sangat bersedih, namun bukan berarti perjuangan telah berakhir. Dengan gugurnya suaminya tersebut, Cut Nyak Dhien bertekad untuk meneruskan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Ia pun mengambil alih pimpinan perlawanan pejuang Aceh.



Sejarah Lahirnya GAM

GAM Lahir Karena Penindasan dan Pelecehan Tanah Adat


BICARA GAM, mau tak mau, harus bicara kelahiran negara Republik Indonesia. Sebab, dari situlah kisah gerakan menuntut kemerdekaan dimulai. Lima hari setelah RI diproklamasikan, Aceh menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Jakarta. Di bawah Residen Aceh, yang juga tokoh terkemuka, Tengku Nyak Arief, Aceh menyatakan janji kesetiaan, mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai bagian tak terpisahkan.
Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah. ''Demi Allah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia sampai titik darah saya yang terakhir.'' Kecuali Mohammad Daud Beureueh, seluruh tokoh dan ulama Aceh mengucapkan janji itu. Pukul 10.00, Husein Naim dan M Amin Bugeh mengibarkan bendera di gedung Shu Chokan (kini, kantor gubernur). Tengku Nyak Arief gubernur di bumi Serambi Mekah.
Tetapi, ternyata tak semua tokoh Aceh mengucapkan janji setia. Mereka para hulubalang, prajurit di medan laga. Prajurit yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Mereka yakin, tanpa RI, mereka bisa mengelola sendiri negara Aceh. Inilah kisah awal sebuah gerakan kemerdekaan. Motornya adalah Daud Cumbok. Markasnya di daerah Bireuen. Tokoh-tokoh ulama menentang Daud Cumbok. Melalui tokoh dan pejuang Aceh, M. Nur El Ibrahimy, Daud Cumbok digempur dan kalah. Dalam sejarah, perang ini dinamakan perang saudara atau Perang Cumbok yang menewaskan tak kurang 1.500 orang selama setahun hingga 1946.
Tahun 1948, ketika pemerintahan RI berpindah ke Yogyakarta dan Syafrudin Prawiranegara ditunjuk sebagai Presiden Pemerintahan Darurat RI (PDRI), Aceh minta menjadi propinsi sendiri. Saat itulah, M. Daud Beureueh ditunjuk sebagai Gubernur Militer Aceh.
Oleh karena kondisi negara terus labil dan Belanda merajalela kembali, muncul gagasan melepaskan diri dari RI. Ide datang dari dr. Mansur. Wilayahnya tak cuma Aceh. Tetapi, meliputi Aceh, Nias, Tapanuli, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkalis, Indragiri, Riau, Bengkulu, Jambi, dan Minangkabau. Daud Beureueh menentang ide ini. Dia pun berkampanye kepada seluruh rakyat, bahwa Aceh adalah bagian RI. Sebagai tanda bukti, Beureueh memobilisasi dana rakyat.
Setahun kemudian, 1949, Beureueh berhasil mengumpulkan dana rakyat 500.000 dolar AS. Uang itu disumbangkan utuh buat bangsa Indonesia. Uang itu diberikan ABRI 250 ribu dolar, 50 ribu dolar untuk perkantoran pemerintahan negara RI, 100 ribu dolar untuk pengembalian pemerintahan RI dari Yogyakarta ke Jakarta, dan 100 ribu dolar diberikan kepada pemerintah pusat melalui AA Maramis. Aceh juga menyumbang emas lantakan untuk membeli obligasi pemerintah, membiayai berdirinya perwakilan RI di India, Singapura dan pembelian dua pesawat terbang untuk keperluan para pemimpin RI. Saat itu Soekarno menyebut Aceh adalah modal utama kemerdekaan RI.
Setahun berlangsung, kekecewaan tumbuh. Propinsi Aceh dilebur ke Propinsi Sumatera Utara. Rakyat Aceh marah. Apalagi, janji Soekarno pada 16 Juni 1948 bahwa Aceh akan diberi hak mengurus rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam tak juga dipenuhi.
Intinya, Daud Beureueh ingin pengakuan hak menjalankan agama di Aceh. Bukan dilarang. Beureueh tak minta merdeka, cuma minta kebebasan menjalankan agamanya sesuai syariat Islam. Daud Beureueh pun menggulirkan ide pembentukan Negara Islam Indonesia pada April 1953. Ide ini di Jawa Barat telah diusung Kartosuwiryo pada 1949 melalui Darul Islam. Lima bulan kemudian, Beureueh menyatakan bergabung dan mengakui NII Kartosuwiryo.
Dari sinilah lantas Beureueh melakukan gerilya. Rakyat Aceh, yang notabene Islam, mendukung sepenuhnya ide NII itu. Tentara NII pun dibentuk, bernama Tentara Islam Indonesia (TII). Lantas, terkenallah pemberontakan DI/TII di sejumlah daerah. Beureueh lari ke hutan. Cuma, ada tragedi di sini. Pada 1955 telah terjadi pembunuhan masal oleh TNI. Sekitar 64 warga Aceh tak berdosa dibariskan di lapangan lalu ditembaki. Aksi ini mengecewakan tokoh Aceh yang pro-Soekarno. Melalui berbagai gejolak dan perundingan, pada 1959, Aceh memperoleh status propinsi daerah istimewa.
Beureueh merasa dikhianati Soekarno. Bung Karno tidak mengindahkan struktur kepemimpinan adat dan tak menghargai peranan ulama dalam kehidupan bernegara. Padahal, rakyat Aceh itu sangat besar kepercayaannya kepada ulama. Gerilya dilakukan. Tetapi, Bung Karno mengerahkan tentaranya ke Aceh. Tahun 1962, Beureueh dibujuk menantunya El Ibrahimy agar menuruti Menhankam AH Nasution untuk menyerah. Beureueh menurut karena ada janji akan dibuatkan UU Syariat Islam bagi rakyat Aceh (baru terwujud tahun 2001).
GAM lahir di era Soeharto. Saat itu, sedang terjadi industrialisasi di Aceh. Soeharto benar-benar mencampakkan adat dan segala penghormatan rakyat Aceh. Efek judi melahirkan prostitusi, mabuk-mabukan, bar, dan segala macam yang bertentangan dengan Islam dan adat rakyat Aceh. Kekayaan alam Aceh dikuras melalui pembangunan industri yang dikuasai orang asing melalui restu pusat. Sementara rakyat Aceh tetap miskin. Pendidikan rendah, kondisi ekonomi sangat memprihatinkan.
Melihat hal ini, Daud Beureueh dan tokoh tua Aceh yang sudah tenang kemudian bergerilya kembali untuk mengembalikan kehormatan rakyat, adat Aceh dan agama Islam. Pertemuan digagas tahun 1970-an. Mereka sepakat meneruskan pembentukan Republik Islam Aceh, yakni sebuah negeri yang mulia dan penuh ampunan Tuhan. Kini mereka sadar, tujuan itu tak bisa tercapai tanpa senjata.
Lalu diutuslah Zainal Abidin menemui Hasan Tiro yang sedang belajar di Amerika. Pertemuan terjadi tahun 1972 dan disepakati Tiro akan mengirim senjata ke Aceh. Zainal tak lain adalah kakak Tiro. Sayang, senjata tak juga dikirim hingga Beureueh meninggal. Hasan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Hasan Tiro, Ilyas Leubee, dan masih banyak lagi berkumpul di kaki Gunung Halimun, Pidie. Di sana, pada 24 Mei 1977, para tokoh eks DI/TII dan tokoh muda Aceh mendirikan GAM.
Selama empat hari bersidang, Daud Beureueh ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi. Sementara Hasan Tiro yang tak hadir dalam pendirian GAM itu ditunjuk sebagai wali negara. GAM terdiri atas 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur. Mereka pun bergerilya memuliakan rakyat Aceh, adat, dan agamanya yang diinjak-injak Soeharto.
Para (Mantan) Panglima GAM
Miliki Pabrik Senjata dan Berlatih di Libia
Setelah didirikan, GAM mendapat dukungan rakyat. Hubungan dengan dunia internasional terus dibangun. Kekuatan bersenjata pun disusun. Berapa anggota GAM, bagaimana kekuatannya, jaringan internasionalnya, dan dananya?
Inong Balee Army
MASIH ingat deadline maklumat pemerintah 12 Mei 2003 lalu. Hingga batas waktu ultimatum, pemerintah tak juga mengeluarkan keputusan sebagai tanda awal operasi militer ke Aceh. Konon, saat itu pemerintah menghitung kekuatan TNI di sana. Ada kekhawatiran, TNI bakal dilibas GAM melalui perang gerilya.
Secara tidak langsung, kabar ini menyiratkan ketangguhan kekuatan bersenjata GAM. Sesungguhnya jumlah anggota GAM itu sebagian besar rakyat Aceh. Filosofinya begini. Jika rakyat terus ditindas, maka seluruh rakyat itu akan bangkit melawan. Dan, hal seperti inilah yang terjadi di bumi Serambi Mekah itu. Perlawanan GAM mendapat simpati luar biasa dari rakyat Aceh. Rakyat yang lama ternista dan teraniaya.
Sambil berkelakar, Panglima Tertinggi GAM dan Wakil Wali Negara Aceh Tengku Abdullah Syafei (alm) sempat mengatakan, bayi-bayi warga Aceh telah disediakan senjata AK-47 oleh GAM. Mereka akan dididik dan dilatih sebagai tentara GAM dan segera pergi berperang melawan TNI.
Sejatinya, basis perjuangan GAM dilakukan dalam dua sisi, diplomatik dan bersenjata. Jalur diplomasi langsung dipimpin Hasan Tiro dari Swedia. Opini dunia dikendalikan dari sini. Sementara basis militer dikendalikan dari markasnya di perbatasan Aceh Utara-Pidie. Seluruh kekuatan GAM dioperasikan dari tempat ini. Termasuk, seluruh komando di sejumlah wilayah di Aceh dan di beberapa negara seperti Malaysia, Pattani (Thailand), Moro (Filipina), Afghanistan, dan Kazakhstan. Tetapi, kerap GAM menipu TNI dengan cara mengubah-ubah tempat markas utamanya.
Di seluruh Aceh, GAM membuka tujuh komando, yaitu komando wilayah Pase Pantebahagia, Peurulak, Tamiang, Bateelik, Pidie, Aceh Darussalam, dan Meureum. Masing-masing komando dibawahi panglima wilayah.
Sejak berdiri tahun 1977, GAM dengan cepat melakukan pendidikan militer bagi anggota-anggotanya. Setidaknya tahun 1980-an, ribuan anak muda dilatih di camp militer di Libia. Saat itu, Presiden Libia Mohammar Khadafi mengadakan pelatihan militer bagi gerakan separatis dan teroris di seluruh dunia. Hasan Tiro berhasil memasukkan nama GAM sebagai salah satu peserta pelatihan. Pemuda kader GAM juga berhasil masuk dalam latihan di camp militer di Kandahar, Afghanistan pimpinan Osama bin Laden.
Gelombang pertama masuk tahun 1986, selanjutnya terus dilakukan hingga akhir 1990. Selama DOM, pengiriman tersendat. Tetapi, angkatan 1995-1998 sudah mendapat latihan intensif. Ketika DOM dicabut, prajurit dari Libia ini ditarik ke Aceh. Jumlahnya sekitar 5.000 personel dan dijadikan pasukan elite GAM (semacam Kopassus).
Jalur ke Libia memang agak mudah. Dari Aceh, para pemuda Aceh itu dikirim melalui Malaysia lalu menuju Libia. Jalur lainnya dari Aceh lalu ke Thailand menuju Afghanistan dan melanjutkan ke Libia. Dari jalur ketiga, yakni melalui Aceh menuju Filipina Selatan dan ke Libia. Tiga jalur penting ini hampir selalu lolos dari jangkauan petugas imigrasi, polisi, dan patroli TNI-AL.
Di era Syafei hingga sekarang dipegang Muzakkir Manaf, personel GAM terdiri atas pasukan tempur, intelijen, polisi, pasukan inong baleh (pasukan janda korban DOM) dan karades (pasukan khusus) serta Lasykar Tjut Nyak Dien (tentara wanita).
Wakil Panglima GAM Wilayah Pase Akhmad Kandang (alm) pernah mengklaim, jumlah personel GAM 70 ribu. Anggota GAM 490 ribu. Jumlah itu termasuk jumlah korban DOM 6.169 orang.
Sumber resmi Mabes TNI cuma menyebut sekitar enam ribu orang. Mantan Menhan Machfud MD menyebut 4.869 personel. Dari jumlah itu, 804 di antaranya dididik di Libia dan 115 dilatih di Filipina -- Moro. Persediaan senjatanya terdiri atas pistol, senapan, GLM, mortir, granat, pelontar granat, pelontar roket, RPG, dan bom rakitan. Jenis senapan di antaranya AK-47, M-16, FN, Colt, dan SS-1.
Dari mana persenjataan itu diperoleh? Ada jalur internasional yang menyuplainya. Sejumlah negara disebut antara lain, gerakan separatis Pattani Thailand, Malaysia, gerakan Islam Moro Filipina, eks pejuang Kamboja, gerakan separatis Sikh India, gerakan Elan Tamil, dan Kazhakstan serta Libia dan Afghanistan. GAM juga membuat pabrik senjata. Di antaranya, di Kreung Sabe, Teunom -- Aceh Barat -- dan di Lhokseumawe dan Nisau-Aceh Utara serta di Aceh Timur. Jenis senjata yang diproduksi seperti bom, amunisi, senjata laras panjang dan pendek, pabrik senjata ini bisa dibongkar pasang sesuai dengan kondisi medan. Jika akan diserbu TNI, pabrik senjata telah dipindahkan ke daerah lain. Para ahli senjata disekolahkan ke Afghanistan dan Libia.
Senjata-Senjata GAM juga berasal dari Jakarta dan Bandung.
Pasar gelap senjata ini dilakukan oleh oknum TNI dan Polri yang haus kekayaan. Bagi GAM, asal ada senjata, uang tidak masalah. Sebab, faktanya GAM ternyata memiliki sumber dana yang sangat besar. Jumlah pembelian ke oknum TNI/Polri ini bisa trilyunan rupiah. Sebuah penggerebekan tahun 2000 oleh Polda Metro Jaya sempat menemukan kuitansi Rp 3 milyar untuk pembelian senjata GAM di pasar gelap dari oknum TNI.
Kini, senjata yang dimiliki TNI juga dimiliki GAM. Yang tak dimiliki GAM adalah senjata berat. Sebab, sifatnya yang lamban. Prinsip GAM, senjata itu harus memiliki mobilitas tinggi, mudah dibawa ke mana-mana. Sebab, strategi perangnya yang hit and run. GAM bahkan mengaku memiliki senjata yang lebih modern daripada TNI. Misalnya, senjata otomatis yang dimiliki para karades. Senjata otomatis, berbentuk kecil mungil itu bisa tahan berhari-hari dalam air. Anggota karades inilah yang biasa menyusup ke kota-kota dan menyergap anggota TNI/Polri yang teledor.
Membeli senjata tentu dengan uang melimpah. Sebab, harganya yang tak murah. Lantas, dari mana mereka mendapatkan dana? GAM memiliki donatur tetap dari pengusaha-pengusaha Aceh yang sukses di luar negeri. Di antaranya, di Thailand, Malaysia, Singapura, Amerika, dan Eropa. Dana juga didapatkan dari sumbangan wajib yang diambil dari perusahaan-perusahaan lokal dan multinasional di Aceh.
Sebagai gambaran, tahun 2000 lalu, GAM meminta sumbangan wajib kepada seorang pengusaha lokal bernama Tengku Abu Bakar sebesar Rp 100 juta. Abu Bakar diberi surat berkop Neugara Atjeh-Sumatera tertanggal 15 Februari 2000 yang ditandatangani oleh Panglima GAM Wilayah Aceh Rajek Tengku Tarzura.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut Pupuk Iskandar Muda pernah menyetor Rp 10 milyar ke GAM untuk biaya keamanan. GAM kerap melakukan gangguan bila tidak mendapatkan sumbangan wajib tersebut. Makanya, setiap bulan, GAM mendapat upeti dari para pengusaha ''sahabat GAM'' itu.
Sistem komunikasi GAM juga sangat canggih. Sistem komunikasi berlapis dilakukan GAM sebagai benteng pertahanan dan propaganda. Selain handytalky, GAM juga memiliki radio tranking, radar dan telepon satelit. GAM juga memiliki penyadap telepon. Acap kali gerakan TNI/Polri dimentahkan aksi-aksi penyadapan ini. Penggerebekan sering kali gagal total.
Sistem organisasinya yang disusun dengan sistem sel juga membantu GAM survive. Tidak mudah menemukan markas GAM. Meski, ada sebagian anggota GAM yang ditangkap. Antara anggota dan pejabat satu dengan yang lain kadang tidak berhubungan, tidak saling mengenal.
Ketua Umum Forum Perjuangan dan Keadilan Rakyat Aceh (FOPKRA) Shalahuddin Al Fatah menuturkan, sejak zaman Belanda, rakyat Aceh memang tidak pernah menang. Tetapi, rakyat Aceh tidak pernah ditaklukkan. Fakta sejarah pula, gerakan rakyat Aceh menentang pusat tidak pernah menang. Tetapi, TNI tidak pernah bisa menaklukkan mereka.

"Jangan mengucapkan kata-kata atau sebuah janji, bila kita sendiri masih meragukan untuk menepati janji tersebut..."

Referensi :



Memahami Orang Aceh


Judul Buku: Memahami Orang Aceh
Penulis: Dr. Mohd. Harun, M.Pd.
Penerbit: Citapustaka Media Perintis
Cetakan I: April 2009
Isi: xvi + 304

Beranjak dari penelitian disertasi, “Memahami Orang Aceh” menjadi sebuah buku yang sangat kuat mengangkat karakteristik dan tipologi masyarakat Aceh. Apalagi, penelitian dititikberatkan pada hadih maja yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Aceh. Oleh karena itu, buku setebal 304 halaman ini sangat patut dijadikan cermin dari kehidupan masyarakat Aceh: tempoe doeloe dan kini.

Bukan hanya itu, latar belakang si penulis yang menyandang predikat doktor bidang pendidikan dan bergelut sebagai pengajar sastra, adat dan budaya di Universitas Syiah Kuala dalam kesehariannya, semakin mengokohkan bahwa disertasi ini murni hasil penelitian lapangan. Tentunya ia memiliki landasan yang sangat kuat sebagai sumber acuan para peneliti berikutnya, yakni penelitian tentang karakteristik masyarakat Aceh.

Membaca buku mantan wartawan ini, kita semakin menyadari bahwa masyarakat Aceh sesungguhnya memiliki hati yang lembut dan kasih sayang. Adapun timbulnya sikap atau sifat iri hati, itu disebutkan bukan sifat mutlak ureueng Aceh, melainkan timbul kemudian hari karena sebab sesuatu semisal dikhianati, dicerca, dimaki, ditipu, dan sebagainya. Padahal, orang Aceh memiliki sifat lembut dan selalu mengalah. Hal itu terungkap dalam hadih maja pada buku ini, yang dikutip pula oleh Rektor Unsyiah, Darni M. Daud, pada pengantarnya. Hadih maja tersebut adalah surôt lhèe langkah meureundah diri, mangat jituri nyang bijaksana.

Secara umum, buku ini mengkaji struktur, fungsi, dan nilai hadih maja sebagai sastra lisan dalam masyarakat Aceh. Hadih maja dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan peribahasa, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut proverb, bahasa Arab matsal, bahasa Belanda Spreekword.

Melalui hadih maja-hadih maja yang sudah dikumpulnya bertahun-tahun, Harun mencoba memberikan pengetahuan baru kepada kita. Bahwa hadih maja yang selama ini terkesan sekedar jadi penambah pemanis kata bagi orang tua-orang tua ternyata memiliki nilai filosofis yang sangat dalam, yang dapat menunjukkan karakteristik masyarakat pemakainya: tentunya hal ini berdasarkan zaman pula.

Kendati tidak semua hadih maja dapat berlaku secara harfiah di segala zaman, nilai filosofis di dalamnya tetap menggambarkan tipologi masyarakat Aceh secara keseluruhan. Misalkan saja pada hadih maja Ureueng Aceh hanjeut teupèh / meunyo ka teupèh, bu leubèh han meuteumè rasa / meunyo hana teupèh, boh krèh jeut taraba /.

Filosofis yang diemban hadih maja tersebut masih terlihat dalam masyarakat Aceh hingga saat ini. Oleh karena itu, upaya pendokumentasian hadih maja apalagi dalam bentuk penelitian ilmiah seperti yang dilakukan Harun patut mendapatkan apresiasi tinggi.

Lebih rinci, Harun membagi beberapa konsep pemikiran dan watak orang Aceh melalui perspektif hadih maja: konsep nilai filosofis orang Aceh; konsep nilai etis orang Aceh; dan konsep nilai estetis orang Aceh. Ia mengakui bahwa ada satu konsep lagi yang tidak dimasukkan di sini, konsep religius orang Aceh, atas pertimbangan masih belum sempurnanya hasil penelitian tentang religius dalam masyarakat Aceh. Namun demikian, konsep dasar religius orang Aceh dapat dilihat pada disertasi Harun, yang dikeluarkan oleh Universitas Negeri Malang, 2006.

Akhirnya, membaca buku bersampul gambar orang tua bertopi ke belakang, hasil lukisan Mahdi Abdullah, ini membuat saya seperti semakin kenal ke-Aceh-an dalam diri dan masyarakat tempat saya tinggal. Gambar sampul buku itu pun seperti khas gambar salah seorang masyarakat Aceh, yang gemar telanjang dada dan memakai topi yang arahnya ke belakang. Pantas pula Rektor Unsyiah menyebutkan pada pengantarnya bahwa “Memahami Orang Aceh” adalah buku yang memuat berbagai aspek kehidupan masyarakat Aceh secara rinci.

Hemat saya, akan lebih rinci lagi manakala buku ini juga memuat pandangan orang Aceh dari sisi religius, sebab persoalan agama bagi masyarakat Aceh sudah seperti rapatnya kulit dengan ari. Namun demikian, buku ini tetap dapat menjadi landasan bagi para peneliti yang hendak mengkaji seluk beluk masyarakat Aceh, dulu dan sekarang.

sumber:atjehcyber
[Herman RN, Redaktur Pelaksan tuhoe]
Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XI, Desember 2009

Nasihat Rasulullah Untuk Putrinya

Berikut ini beberapa nasihat Rasulullah SAW untuk putrinda kesayangannya,Fatimah az-Zahra.
Dari nasihat tersebut terungkap konsep kebahagiaan rumah tangga.

Suatu hari Rasulullah SAW menyempatkan diri berkunjung ke rumah Fatimah az-Zahra.Setiba dirumah putri kesayangannya itu,Rasulullah SAW berucap salam kemudian masuk.Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling syair (sejenis gandum) dengan penggilingan tangan dari batu. .

Seketika itu Rasulullah SAW bertanya,”Duhai Fatimah,apa gerangan yang membuat engkau menangis?.Semoga Allah tidak menyebabkan air matamu berderai.” Jawab Fatimah,”Wahai Rasulullah…penggilingan dan urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan ananda menangis.” Lalu duduklah Rasulullah SAW disisi Fatimah.Kemudian Fatimah melanjutkan,”Duhai Ayahanda,sudikah kiranya Ayah minta kepada Ali,suamiku,mencarikan seorang jariah (hamba perempuan) untuk membantu ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah?”.

Maka bangkitlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu.Dengan tangannya,beliau mengambil sejumput gandum lalu diletakkannya dipenggilingan tangan seraya membaca Basmalah.Ajaib..!!,dengan ijin Allah penggilinan tersebut berputar sendiri. Sementara penggilingan itu berputar,Rasulullah SAW bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa,sehingga habislah bulir-bulir gandum itu tergiling.”Berhentilah berputar atas izin Allah SWT,” maka penggilingan itupun berhenti berputar.Lalu dengan izin Allah,penggilingan itu berkata-kata dalam bahasa manusia. “Ya Rasulullah SAW..,demi Allah yang telah menjadikan Tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Kalaulah Tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga barat pun niscaya hamba akan gilingkan semuanya.Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT,‘Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (dari) manusia dan batu.Penjaganya para malaikat yang kasar lagi keras,yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan’.Maka hamba takut ya Rasulullah…kelak hamba menjadi batu dalam neraka.”

Dan bersabdalah Rasulullah SAW,”Bergembiralah,karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah az-Zahra didalam surga”.Maka bergembiralah penggilingan batu itu,kemudian diamlah ia.
Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah,”Jika Allah SWT menghendaki,niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu.Tapi Allah menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh-Nya beberapa kesalahanmu,dan diangkat-Nya beberapa derajat untukmu.

~ Wanita yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya,Allah SWT menuliskan setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat”.

~ “Wahai Fatimah,wanita yang berkeringat ketika menggiling gandum untuk suaminya..,Allah menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit.

~ Wanita yang meminyaki dan menyisir rambut anak-anaknya serta mencuci pakaian mereka..,Allah mencatat pahala seperti orang yang memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya..,Allah akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar dihari kiamat”.

~ “Wahai Fatimah,yang lebih utama dari semua itu adalah keridaan suami terhadap istrinya.Jika suamimu tidak rida,aku tidaklah mendoakan kamu.Tidaklah engkau ketahui,rida suami adalah rida Allah SWT,dan kemarahan suami adalah kemarahan Allah SWT?”.

~ “Apabila seorang wanita mengandung janin,beristighfarlah para malaikat,dan Allah mencatat tiap hari seribu kebaikan dan menghapus seribu kejahatan.Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan..,Allah mencatat pahala seperti orang-orang yg berjihad.Apabila ia melahirkan,keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaan saat ibunya melahirkannya.Apabila ia meninggal,tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun.Kelak akan didapati kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga,dan Allah mengaruniakan pahala seribu haji dan seribu umroh. Dan beristighfarlah seribu malaikat sampai hari kiamat “.

~ “Wahai Fatimah,wanita yg melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar..,Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya.Dan Allah SWT akan mengenakannya seperangkat pakaian hijau,dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya seribu kebaikan.Wanita yang tersenyum dihadapan suaminya,Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat”.

~ “Wahai Fatimah,wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring,atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati..,berserulah para malaikat untuknya,”Teruskanlah amalmu,maka Allah SWT telah mengampunimu dari dosa yang lalu dan yang akan datang.”

~ “Wahai Fatimah,wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya,serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya,Allah SWT memberinya minuman dari sungai-sungai surga.Allah SWT meringankan sakaratul mautnya,dan kuburnya akan menjadi taman-taman disurga.Allah SWT akan menyelamatkan dari api neraka,selamat dari titian sirathalmustakim”.
Subhanallah….

Wassalam.......( ~GR~)
Buku : Biografi Fatimah Az Zahra Binti Rasulullah