Showing posts with label gerakan. Show all posts
Showing posts with label gerakan. Show all posts

Sejarah Lahirnya GAM

GAM Lahir Karena Penindasan dan Pelecehan Tanah Adat


BICARA GAM, mau tak mau, harus bicara kelahiran negara Republik Indonesia. Sebab, dari situlah kisah gerakan menuntut kemerdekaan dimulai. Lima hari setelah RI diproklamasikan, Aceh menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Jakarta. Di bawah Residen Aceh, yang juga tokoh terkemuka, Tengku Nyak Arief, Aceh menyatakan janji kesetiaan, mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai bagian tak terpisahkan.
Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah. ''Demi Allah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia sampai titik darah saya yang terakhir.'' Kecuali Mohammad Daud Beureueh, seluruh tokoh dan ulama Aceh mengucapkan janji itu. Pukul 10.00, Husein Naim dan M Amin Bugeh mengibarkan bendera di gedung Shu Chokan (kini, kantor gubernur). Tengku Nyak Arief gubernur di bumi Serambi Mekah.
Tetapi, ternyata tak semua tokoh Aceh mengucapkan janji setia. Mereka para hulubalang, prajurit di medan laga. Prajurit yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Mereka yakin, tanpa RI, mereka bisa mengelola sendiri negara Aceh. Inilah kisah awal sebuah gerakan kemerdekaan. Motornya adalah Daud Cumbok. Markasnya di daerah Bireuen. Tokoh-tokoh ulama menentang Daud Cumbok. Melalui tokoh dan pejuang Aceh, M. Nur El Ibrahimy, Daud Cumbok digempur dan kalah. Dalam sejarah, perang ini dinamakan perang saudara atau Perang Cumbok yang menewaskan tak kurang 1.500 orang selama setahun hingga 1946.
Tahun 1948, ketika pemerintahan RI berpindah ke Yogyakarta dan Syafrudin Prawiranegara ditunjuk sebagai Presiden Pemerintahan Darurat RI (PDRI), Aceh minta menjadi propinsi sendiri. Saat itulah, M. Daud Beureueh ditunjuk sebagai Gubernur Militer Aceh.
Oleh karena kondisi negara terus labil dan Belanda merajalela kembali, muncul gagasan melepaskan diri dari RI. Ide datang dari dr. Mansur. Wilayahnya tak cuma Aceh. Tetapi, meliputi Aceh, Nias, Tapanuli, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkalis, Indragiri, Riau, Bengkulu, Jambi, dan Minangkabau. Daud Beureueh menentang ide ini. Dia pun berkampanye kepada seluruh rakyat, bahwa Aceh adalah bagian RI. Sebagai tanda bukti, Beureueh memobilisasi dana rakyat.
Setahun kemudian, 1949, Beureueh berhasil mengumpulkan dana rakyat 500.000 dolar AS. Uang itu disumbangkan utuh buat bangsa Indonesia. Uang itu diberikan ABRI 250 ribu dolar, 50 ribu dolar untuk perkantoran pemerintahan negara RI, 100 ribu dolar untuk pengembalian pemerintahan RI dari Yogyakarta ke Jakarta, dan 100 ribu dolar diberikan kepada pemerintah pusat melalui AA Maramis. Aceh juga menyumbang emas lantakan untuk membeli obligasi pemerintah, membiayai berdirinya perwakilan RI di India, Singapura dan pembelian dua pesawat terbang untuk keperluan para pemimpin RI. Saat itu Soekarno menyebut Aceh adalah modal utama kemerdekaan RI.
Setahun berlangsung, kekecewaan tumbuh. Propinsi Aceh dilebur ke Propinsi Sumatera Utara. Rakyat Aceh marah. Apalagi, janji Soekarno pada 16 Juni 1948 bahwa Aceh akan diberi hak mengurus rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam tak juga dipenuhi.
Intinya, Daud Beureueh ingin pengakuan hak menjalankan agama di Aceh. Bukan dilarang. Beureueh tak minta merdeka, cuma minta kebebasan menjalankan agamanya sesuai syariat Islam. Daud Beureueh pun menggulirkan ide pembentukan Negara Islam Indonesia pada April 1953. Ide ini di Jawa Barat telah diusung Kartosuwiryo pada 1949 melalui Darul Islam. Lima bulan kemudian, Beureueh menyatakan bergabung dan mengakui NII Kartosuwiryo.
Dari sinilah lantas Beureueh melakukan gerilya. Rakyat Aceh, yang notabene Islam, mendukung sepenuhnya ide NII itu. Tentara NII pun dibentuk, bernama Tentara Islam Indonesia (TII). Lantas, terkenallah pemberontakan DI/TII di sejumlah daerah. Beureueh lari ke hutan. Cuma, ada tragedi di sini. Pada 1955 telah terjadi pembunuhan masal oleh TNI. Sekitar 64 warga Aceh tak berdosa dibariskan di lapangan lalu ditembaki. Aksi ini mengecewakan tokoh Aceh yang pro-Soekarno. Melalui berbagai gejolak dan perundingan, pada 1959, Aceh memperoleh status propinsi daerah istimewa.
Beureueh merasa dikhianati Soekarno. Bung Karno tidak mengindahkan struktur kepemimpinan adat dan tak menghargai peranan ulama dalam kehidupan bernegara. Padahal, rakyat Aceh itu sangat besar kepercayaannya kepada ulama. Gerilya dilakukan. Tetapi, Bung Karno mengerahkan tentaranya ke Aceh. Tahun 1962, Beureueh dibujuk menantunya El Ibrahimy agar menuruti Menhankam AH Nasution untuk menyerah. Beureueh menurut karena ada janji akan dibuatkan UU Syariat Islam bagi rakyat Aceh (baru terwujud tahun 2001).
GAM lahir di era Soeharto. Saat itu, sedang terjadi industrialisasi di Aceh. Soeharto benar-benar mencampakkan adat dan segala penghormatan rakyat Aceh. Efek judi melahirkan prostitusi, mabuk-mabukan, bar, dan segala macam yang bertentangan dengan Islam dan adat rakyat Aceh. Kekayaan alam Aceh dikuras melalui pembangunan industri yang dikuasai orang asing melalui restu pusat. Sementara rakyat Aceh tetap miskin. Pendidikan rendah, kondisi ekonomi sangat memprihatinkan.
Melihat hal ini, Daud Beureueh dan tokoh tua Aceh yang sudah tenang kemudian bergerilya kembali untuk mengembalikan kehormatan rakyat, adat Aceh dan agama Islam. Pertemuan digagas tahun 1970-an. Mereka sepakat meneruskan pembentukan Republik Islam Aceh, yakni sebuah negeri yang mulia dan penuh ampunan Tuhan. Kini mereka sadar, tujuan itu tak bisa tercapai tanpa senjata.
Lalu diutuslah Zainal Abidin menemui Hasan Tiro yang sedang belajar di Amerika. Pertemuan terjadi tahun 1972 dan disepakati Tiro akan mengirim senjata ke Aceh. Zainal tak lain adalah kakak Tiro. Sayang, senjata tak juga dikirim hingga Beureueh meninggal. Hasan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Hasan Tiro, Ilyas Leubee, dan masih banyak lagi berkumpul di kaki Gunung Halimun, Pidie. Di sana, pada 24 Mei 1977, para tokoh eks DI/TII dan tokoh muda Aceh mendirikan GAM.
Selama empat hari bersidang, Daud Beureueh ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi. Sementara Hasan Tiro yang tak hadir dalam pendirian GAM itu ditunjuk sebagai wali negara. GAM terdiri atas 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur. Mereka pun bergerilya memuliakan rakyat Aceh, adat, dan agamanya yang diinjak-injak Soeharto.
Para (Mantan) Panglima GAM
Miliki Pabrik Senjata dan Berlatih di Libia
Setelah didirikan, GAM mendapat dukungan rakyat. Hubungan dengan dunia internasional terus dibangun. Kekuatan bersenjata pun disusun. Berapa anggota GAM, bagaimana kekuatannya, jaringan internasionalnya, dan dananya?
Inong Balee Army
MASIH ingat deadline maklumat pemerintah 12 Mei 2003 lalu. Hingga batas waktu ultimatum, pemerintah tak juga mengeluarkan keputusan sebagai tanda awal operasi militer ke Aceh. Konon, saat itu pemerintah menghitung kekuatan TNI di sana. Ada kekhawatiran, TNI bakal dilibas GAM melalui perang gerilya.
Secara tidak langsung, kabar ini menyiratkan ketangguhan kekuatan bersenjata GAM. Sesungguhnya jumlah anggota GAM itu sebagian besar rakyat Aceh. Filosofinya begini. Jika rakyat terus ditindas, maka seluruh rakyat itu akan bangkit melawan. Dan, hal seperti inilah yang terjadi di bumi Serambi Mekah itu. Perlawanan GAM mendapat simpati luar biasa dari rakyat Aceh. Rakyat yang lama ternista dan teraniaya.
Sambil berkelakar, Panglima Tertinggi GAM dan Wakil Wali Negara Aceh Tengku Abdullah Syafei (alm) sempat mengatakan, bayi-bayi warga Aceh telah disediakan senjata AK-47 oleh GAM. Mereka akan dididik dan dilatih sebagai tentara GAM dan segera pergi berperang melawan TNI.
Sejatinya, basis perjuangan GAM dilakukan dalam dua sisi, diplomatik dan bersenjata. Jalur diplomasi langsung dipimpin Hasan Tiro dari Swedia. Opini dunia dikendalikan dari sini. Sementara basis militer dikendalikan dari markasnya di perbatasan Aceh Utara-Pidie. Seluruh kekuatan GAM dioperasikan dari tempat ini. Termasuk, seluruh komando di sejumlah wilayah di Aceh dan di beberapa negara seperti Malaysia, Pattani (Thailand), Moro (Filipina), Afghanistan, dan Kazakhstan. Tetapi, kerap GAM menipu TNI dengan cara mengubah-ubah tempat markas utamanya.
Di seluruh Aceh, GAM membuka tujuh komando, yaitu komando wilayah Pase Pantebahagia, Peurulak, Tamiang, Bateelik, Pidie, Aceh Darussalam, dan Meureum. Masing-masing komando dibawahi panglima wilayah.
Sejak berdiri tahun 1977, GAM dengan cepat melakukan pendidikan militer bagi anggota-anggotanya. Setidaknya tahun 1980-an, ribuan anak muda dilatih di camp militer di Libia. Saat itu, Presiden Libia Mohammar Khadafi mengadakan pelatihan militer bagi gerakan separatis dan teroris di seluruh dunia. Hasan Tiro berhasil memasukkan nama GAM sebagai salah satu peserta pelatihan. Pemuda kader GAM juga berhasil masuk dalam latihan di camp militer di Kandahar, Afghanistan pimpinan Osama bin Laden.
Gelombang pertama masuk tahun 1986, selanjutnya terus dilakukan hingga akhir 1990. Selama DOM, pengiriman tersendat. Tetapi, angkatan 1995-1998 sudah mendapat latihan intensif. Ketika DOM dicabut, prajurit dari Libia ini ditarik ke Aceh. Jumlahnya sekitar 5.000 personel dan dijadikan pasukan elite GAM (semacam Kopassus).
Jalur ke Libia memang agak mudah. Dari Aceh, para pemuda Aceh itu dikirim melalui Malaysia lalu menuju Libia. Jalur lainnya dari Aceh lalu ke Thailand menuju Afghanistan dan melanjutkan ke Libia. Dari jalur ketiga, yakni melalui Aceh menuju Filipina Selatan dan ke Libia. Tiga jalur penting ini hampir selalu lolos dari jangkauan petugas imigrasi, polisi, dan patroli TNI-AL.
Di era Syafei hingga sekarang dipegang Muzakkir Manaf, personel GAM terdiri atas pasukan tempur, intelijen, polisi, pasukan inong baleh (pasukan janda korban DOM) dan karades (pasukan khusus) serta Lasykar Tjut Nyak Dien (tentara wanita).
Wakil Panglima GAM Wilayah Pase Akhmad Kandang (alm) pernah mengklaim, jumlah personel GAM 70 ribu. Anggota GAM 490 ribu. Jumlah itu termasuk jumlah korban DOM 6.169 orang.
Sumber resmi Mabes TNI cuma menyebut sekitar enam ribu orang. Mantan Menhan Machfud MD menyebut 4.869 personel. Dari jumlah itu, 804 di antaranya dididik di Libia dan 115 dilatih di Filipina -- Moro. Persediaan senjatanya terdiri atas pistol, senapan, GLM, mortir, granat, pelontar granat, pelontar roket, RPG, dan bom rakitan. Jenis senapan di antaranya AK-47, M-16, FN, Colt, dan SS-1.
Dari mana persenjataan itu diperoleh? Ada jalur internasional yang menyuplainya. Sejumlah negara disebut antara lain, gerakan separatis Pattani Thailand, Malaysia, gerakan Islam Moro Filipina, eks pejuang Kamboja, gerakan separatis Sikh India, gerakan Elan Tamil, dan Kazhakstan serta Libia dan Afghanistan. GAM juga membuat pabrik senjata. Di antaranya, di Kreung Sabe, Teunom -- Aceh Barat -- dan di Lhokseumawe dan Nisau-Aceh Utara serta di Aceh Timur. Jenis senjata yang diproduksi seperti bom, amunisi, senjata laras panjang dan pendek, pabrik senjata ini bisa dibongkar pasang sesuai dengan kondisi medan. Jika akan diserbu TNI, pabrik senjata telah dipindahkan ke daerah lain. Para ahli senjata disekolahkan ke Afghanistan dan Libia.
Senjata-Senjata GAM juga berasal dari Jakarta dan Bandung.
Pasar gelap senjata ini dilakukan oleh oknum TNI dan Polri yang haus kekayaan. Bagi GAM, asal ada senjata, uang tidak masalah. Sebab, faktanya GAM ternyata memiliki sumber dana yang sangat besar. Jumlah pembelian ke oknum TNI/Polri ini bisa trilyunan rupiah. Sebuah penggerebekan tahun 2000 oleh Polda Metro Jaya sempat menemukan kuitansi Rp 3 milyar untuk pembelian senjata GAM di pasar gelap dari oknum TNI.
Kini, senjata yang dimiliki TNI juga dimiliki GAM. Yang tak dimiliki GAM adalah senjata berat. Sebab, sifatnya yang lamban. Prinsip GAM, senjata itu harus memiliki mobilitas tinggi, mudah dibawa ke mana-mana. Sebab, strategi perangnya yang hit and run. GAM bahkan mengaku memiliki senjata yang lebih modern daripada TNI. Misalnya, senjata otomatis yang dimiliki para karades. Senjata otomatis, berbentuk kecil mungil itu bisa tahan berhari-hari dalam air. Anggota karades inilah yang biasa menyusup ke kota-kota dan menyergap anggota TNI/Polri yang teledor.
Membeli senjata tentu dengan uang melimpah. Sebab, harganya yang tak murah. Lantas, dari mana mereka mendapatkan dana? GAM memiliki donatur tetap dari pengusaha-pengusaha Aceh yang sukses di luar negeri. Di antaranya, di Thailand, Malaysia, Singapura, Amerika, dan Eropa. Dana juga didapatkan dari sumbangan wajib yang diambil dari perusahaan-perusahaan lokal dan multinasional di Aceh.
Sebagai gambaran, tahun 2000 lalu, GAM meminta sumbangan wajib kepada seorang pengusaha lokal bernama Tengku Abu Bakar sebesar Rp 100 juta. Abu Bakar diberi surat berkop Neugara Atjeh-Sumatera tertanggal 15 Februari 2000 yang ditandatangani oleh Panglima GAM Wilayah Aceh Rajek Tengku Tarzura.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut Pupuk Iskandar Muda pernah menyetor Rp 10 milyar ke GAM untuk biaya keamanan. GAM kerap melakukan gangguan bila tidak mendapatkan sumbangan wajib tersebut. Makanya, setiap bulan, GAM mendapat upeti dari para pengusaha ''sahabat GAM'' itu.
Sistem komunikasi GAM juga sangat canggih. Sistem komunikasi berlapis dilakukan GAM sebagai benteng pertahanan dan propaganda. Selain handytalky, GAM juga memiliki radio tranking, radar dan telepon satelit. GAM juga memiliki penyadap telepon. Acap kali gerakan TNI/Polri dimentahkan aksi-aksi penyadapan ini. Penggerebekan sering kali gagal total.
Sistem organisasinya yang disusun dengan sistem sel juga membantu GAM survive. Tidak mudah menemukan markas GAM. Meski, ada sebagian anggota GAM yang ditangkap. Antara anggota dan pejabat satu dengan yang lain kadang tidak berhubungan, tidak saling mengenal.
Ketua Umum Forum Perjuangan dan Keadilan Rakyat Aceh (FOPKRA) Shalahuddin Al Fatah menuturkan, sejak zaman Belanda, rakyat Aceh memang tidak pernah menang. Tetapi, rakyat Aceh tidak pernah ditaklukkan. Fakta sejarah pula, gerakan rakyat Aceh menentang pusat tidak pernah menang. Tetapi, TNI tidak pernah bisa menaklukkan mereka.

"Jangan mengucapkan kata-kata atau sebuah janji, bila kita sendiri masih meragukan untuk menepati janji tersebut..."

Referensi :



Gerakan Dakwah Sekolah dalam Menangkal Isu Radikalisme

http://images.arkinitur.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SPpsowoKCEYAAEhZTfE1/Kegiatan-Rohis.JPG?et=J951tQOGu6Mh2CFewmB7QA&nmid=0
Islamedia - Rohis sebagai instrumen pendidikan Islam di lingkungan sekolah kini telah menjamur di berbagai sekolah. Di awal pembentukannya sekitar era tahun ‘80an hingga saat ini telah sukses melahirkan banyak orang yang mampu berkontribusi di masyarakat dengan tetap mempertahankan karakter keislaman yang baik. Alumni Rohis ini tersebar di berbagai lini masyarakat seperti menjadi dokter, ekonom, sastrawan, peneliti, seniman, guru, wirausaha dan lain-lain. 

Rohis selalu menekankan islam sebagai pendidikan karakter para binaannya. Melalui kegiatan mentoring yang ada hampir di setiap sekolah menjadi semacam kuliah intensif bagi para aktivis rohis untuk lebih memperdalam pengetahuan keislaman mereka. Melalui kegiatan keorganisasian yang berkembang di Rohis, para aktivis Rohis diajarkan memenejerial sesuatu. Training-training dan pembinaan akademik yang juga sering kali diisi oleh para alumni menjadikan para aktivis Rohis mampu bersaing dengan temannya yang nonRohis di sekolah. 

Di bidang seni pun tak lupa Rohis memberikan alternatif seni yang islami, seperti nasyid dan teater islami. Secara siginifikan beberapa rohis mampu merubah keadaan sekolah menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Namun sayang, karena ulah beberapa gelintir gerakan islam radikal dan permainan media yang terlalu berlebihan. Rohis hari ini mulai tersudutkan oleh berbagai pemberitaan media mengenai gerakan islam radikal seperti gerakan Negara Islam Indonesia (NII) KW IX dan gerakan terorisme. Media lebih banyak mengungkap jika gerakan islam radikal ini sekarang banyak digerakkan oleh kaum muda khususnya akademisi seperti para pelajar. Gerakan islam radikal diisukan banyak mengkader banyak anggotanya melalui kegiatan ekstraklikuler Rohis ini.

Isu ini pun diperkuat oleh beberapa statement para ahli dan penelitian serta survei berbagai lembaga penelitian –yang walau masih bisa dipertanyakan keilmiahannya tapi cukup mengefek pada opini masyarakat-.
Seperti pernyataan Sidney Jones, pakar terorisme internasional, yang mengatakan kegiatan di lembaga Rohis bisa menjadi pintu masuk virus terorisme di wilayah SMP atau SMA.

Lalu Studi Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang digelar Oktober-Januari 2011 menunjukkan sekitar Mayoritas pelajar di Jakarta dan sekitarnya ternyata cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah agama dan moral.

Studi ini jelas-jelas mempersepsikan bahwa kebanyakan pelajar muslim yang loyal pada agamanya menyetujui gerakan islam radikal. Dan kebanyakan pelajar ini berada di lingkungan Rohis. Sehingga masyarakat memiliki persepsi jika Rohis pun ikut menyetujui gerakan islam radikal ini.

Memperbaiki opini masyarakat atas Rohis

Rohis sebagai sebuah kumpulan para pelajar yang selain baik akhlaknya juga cerdas haruslah bersikap bijak dalam menaggulangi citra buruk yang sekarang banyak disematkan masyarakat terhadap dirinya. 

Kader-kader Rohis dari sekarang harus mulai memberikan pengertian kepada masyarakat khususnya orang-orang terdekat mereka seperti keluarga dan sekolah bahwa Rohis bukanlah sarana pengkaderan gerakan islam Radikal. Kader Rohis juga harus mulai menanggalkan citra ekslusif yang sering kali melekat karena kurang pergaulannya dengan teman-teman yang lain. Ikut membaur sebagai pelajar tapi tidak melebur sebagai kader dakwah.

Rohis pun harus mampu memerankan peran penting dalam kegiatan di sekolah seperti dalam prestasi akademik dan nonakademik, sehingga nantinya muncul persepsi positif dan menggeser persepsi negatif tadi di kalangan masyarakat.

Lalu yang sering kali menjadi polemik adalah acap kali kader Rohis memberikan pengertian mengenai jihad yang bukannya salah, hanya saja sering kali tidak dimengerti dan menimbulkan persepsi yang salah bagi orang lain. Jika memang tidak terlalu perlu, hindarkan pembicaraan mengenai konsep jihad maupun gerakan islam jika memang dirasa banyak membawa sisi negatif dalam persepsi orang tersebut.

Alumni serta Pembina Rohis haruslah memberikan pengertian yang jelas mengenai isu-isu kekinian islam sehingga kader-kader Rohis pun tidak ikut larut pula dalam opini-opini negatif ini.

Peran Organisasi Eksternal Dakwah Sekolah

Belajar dari revolusi jilbab yang terjadi sekitar tahun 80-90an dimana saat itu banyak para siswi muslimah berjilbab yang mengalami diskriminasi karena pandangan negatif masyarakat mengenai jilbab atau kerudung yang masih baru kala itu.  Seperti munculnya isu negatif yang populer kala itu bahwa wanita berjilbab atau berkerudung seringkali menebar racun di pasar-pasar dan isu-isu negatif lainnya. Peran organisasi eksternal dakwah sekolah amat dibutuhkan saat itu, sehingga Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai organisasi ekternal dakwah sekolah kala itu mengeluarkan pernyataan dan melakukan dialog advokasi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sehingga munculnya SK no 100 tahun 1991 yang mampu mengakomodir sisiwi-siswi muslimah yang ingin berjilbab.

Lalu kita dapat belajar pula dari Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) sebagai gerakan eksternal dakwah sekolah pada tahun 2000an awal menanggapi permasalahan yang sering kali terjadi di Rohis-rohis sekolah khususnya mengenai harusnya menanggalkan jilbab dalam foto ijazah. KAPMI kala itu mampu mendesak pemerintah untuk diperbolehkannya pemakaian jilbab dalam ijazah.

Kini, ada banyak gerakan dakwah sekolah eksternal dakwah sekolah –dalam arti gerakan dakwah sekolah yang tidak secara direct di lingkungan sekolah- seperti forum-forum Rohis dan paguyuban-paguyuban rohis lainnya yang ada di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Seharusnya gerakan-gerakan dakwah sekolah eksternal ini mampu diberdayakan sebagai sebuah kekuatan kesatuan para kader Rohis untuk berperan menanggulangi isu-isu negatif yang berkembang saat ini. Gerakan eksternal dakwah sekolah kontemporer sekarang dapat melakukan persamaan sikap dulu di kalangan Rohis. Lalu setelah kesamaan sikap didapatkan, gerakan eksternal dakwah sekolah ini mulai melakukan penggiringan isu ke arah yang lebih baik dengan cara edukasi masyarakat untuk tidak menyamakan Rohis dengan tempat pengkaderan gerakan islam radikal. Pengedukasian ini bisa berupa pengiriman surat, tulisan dan pernyataan sikap gerakan eksternal dakwah sekolah ini ke media-media yang ada untuk menunujukkan Rohis sesungguhnya. Atau dengan melakukan dialog langsung dengan tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh. Bisa juga dengan kampaye damai di jalan jika dirasa perlu.

Isu-isu negatif yang berkembang saat ini jelas sangat merugikan Rohis dalam geraknya terutama pengkaderan yang sebentar lagi akan dilaksanakan dalam proses penerimaan siswa baru. Maka itu, perlu segera diperbaiki isu-isu yang berkembang saat ini. Agar nantinya Rohis mampu menjalankan pengkaderan dengan baik dan semestinya. Karena bagaimana pun Rohis hampir menjadi satu-satunya alat pendidikan nonakademik bagi siswa-siswi di sekolah yang ingin memperdalam agamanya.


Elam Sanurihim Ayatuna
Penulis adalah ketua divisi operasional Forum Silaturahim Rohis (FORTRIS) Jakata dan juga pengurus Forum Aktivis Rohis (FARIS) Tangerang. Pernah menjadi ketua Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) Daerah Jakarta Barat dan Ketua Rohis SMA N 112 Jakarta