Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Kisah Batu Yang Melarikan Pakaian Nabi Musa As

Ikhwanesia- Kisah Batu Yang Melarikan Pakaian Nabi Musa As, Heboh batu akik di Indonesia ternyata pada masa nabi Musa, Batu juga membuat kisah tersendiri. mari kita simak. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bani Israil biasa mandi dengan bertelanjang, satu sama lain saling melihat anggota badan temannya. Tetapi Nabi Musa mandi seorang diri. Mereka mengatakan, ‘Demi Allah! Tidak ada yang melarang Musa mandi bersama-sama dengan kita kecuali karena dia berpenyakit, buah pelirnya besar.’

Pada suatu kali, Nabi Musa mandi. Kainnya diletakkan di atas batu, lalu batu itu melarikan kain Nabi Musa dan beliau menyusulnya sambil berteriak, ‘Kainku! Kainku, wahai batu!’ Sehingga, Bani Isaril dapat melihat (aurat) Nabi Musa, lantas mereka berkata, ‘Demi Allah! Musa tidak berpenyakit apa-apa.’ Lalu Nabi Musa mengambil kainnya dan dipukulnya batu itu.”

Abu Hurairah berkata, “Pada batu itu terdapat enam atau tujuh bekas pukulan.”

Kisah Batu Yang Melarikan Pakaian Nabi Musa As

Kisah Batu Yang Melarikan Pakaian Nabi Musa As

Serta turunlah ayat yang berkenaan dengan cerita ini,

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لاَتَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ ءَاذَوْا مُوْسَى فَبَرَّأَهُ اللهُ مِمَّا قَالُوْا وَكَانَ عِنْدَ اللهِ وَجِيْهًا

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihakannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan dia adalah orang yang mempunyai kedudukan di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 69) (HR. Al-Bukhari no. 278 dan Muslim no. 2372)

  • Dalam keadaan darurat diperbolehkan telanjang. Adapun dalam kondisi wajar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada Muawiyah bin Al-Hakam, “Jagalah auratmu kecuali untuk istrimu atau budak-budak yang kamu miliki.”
  • Ketika darurat, seperti pengobatan dan lain-lain, diperbolehkan melihat aurat orang lain.
  • Diperbolehkan mandi telanjang jika seorang diri, dan yang lebih utama adalah memakai penutup.
  • Syariat umat sebelum Nabi Muhammad yang bertentangan dengan syariat Muhammad, tidak menjadi syariat Muhammad.
  • Para nabi adalah manusia-manusia yang berparas dan berakhlak sempurna.
  • Para nabi, sebagaimana manusia, mempunyai sifat-sifat yang manusiawi, mereka bisa marah dan memukul.
  • Menerangkan keteguhan dan kesabaran para nabi atas perilaku orang-orang bodoh dan gangguan mereka.
  • Keutamaan rasa malu. Malu merupakan akhlak mulia dan sifat para nabi.

Kisah Batu Yang Melarikan Pakaian Nabi Musa As


Sumber: 61 Kisah Pengantar Tidur, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan VI, 2009

Tragisnya Kisah Kematian Abu Jahal

Tragisnya Kisah Kematian Abu Jahal
Kesombongan Abu Jahal benar-benar melampaui batas. Abu Jahal telah menentang Nabi Muhammad SAW sedemikian ngototnya. Bahkan pada saat dirinya sudah sekarat luka parah terkena luka tusukpun masih sempat berkata sombong. Ia pun berhasil dibunuh oleh Ibn Mas’ud dan mati dan mati sangat mengenaskan

Berikut Kisahnya

Keangkuhan Abu Jahal bersama kaum musyrikin akhirnya berakhir dengan cara mengenaskan. Ia yang selalu menentang Rasulullah SAW akhirnya kalah dalam perang Badar. Dalam peperangan tersebut. Dalam peperangan tersebut, orang-orang Islam mendapatkan kemenangan besar, sementara kaum musyrikin banyak yang mati dan lari karena tak kuasa menahan serangan umat muslim.

Dikisahkan dalam pertempuran itu, Abu Jahal terjebak dalam kebingungan karena pasukannya kocar-kacir. Namun karena begitu besarnya rasa angkuh dalam dirinya, ia berdiri sambil berteriak dengan penuh kesombongan.

“Demi Latta dan Uzza, kami tidak akan kembali hingga kami mengikat Muhammad beserta para sahabatnya dengan tali dan janganlah seorang dari kalian merasa iba hanya dengan membunuh satu orang dari mereka. Berilah mereka pelajaran yang sebenarnya hingga mereka tahu akibat perbuatan mereka yang membenci agama kalian, “kata Abu Jahal.

Perang Badar

Namun tak lama kemudian teriakan Abu Jahal pun lenyap seperti ditelan lembah BADAR. Abu Jahal terus mendapatkan perlawanan dari umat Islam hingga dalam kondisi terjepit.

“Apa yang terjadi dalam peperangan yang sengit ini terhadapku, aku ibarat anak dua tahun yang baru keluar giginya. Seperti inilah ibuku melahirkanku, “ujarnya tak berdaya.

Melihat Abu Jahal dalam kondisi bahaya, kaum musyrikin mengelilingi Abu Jahal. Mereka mengelilinginya hingga Abu Jahal persis berada di tengah-tengah bagaikan pepohonan yang mengelilingi hutan. Tapi dalam sekejap saja tubuh Abu Jahal ambruk ke tanah. Napasnya terengah-engah karena tusukan panah dan tebasan pedang dari pahlawan Islam.

Dalam kondisi sekarat, Abu Jahal pun menunggu detik-detik kematiannya yang sangat menyakitkan. Ia terkapar dan merasakan sebutuk-buruk penyiksaan.

Tatkala peperangan telah reda, kaum musyrikin lari dengan kekalahan. Sementara kaum muslimin bergembira atas kemenangan tersebut.

Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa yang mau memperlihatkan kepada kami apa yang diperbuat Abu Jahal? “
Mendapatkan pertanyaan itu, Ibn Mas’ud berdiri dan bergegas pergi lalu mendapati Abu Jahal dalam kondisi lemah setelah dipukuli oleh dua putra Afraa Mu’awwidz dan Mu’adz.
Ibnu Mas’ud pun kemudian menarik jenggot Abu Jahal seraya berkata, “Apakah engkau Abu Jahal?”
“Giliran siapa ini, “kata Abu Jahal dengan sisa-sisa tenaganya.
“Allah SWT dan Rasul-Nya, bukankah Allah SWT telah menghinakanmu wahai musuh Allah? “jawab Ibnu Mas’ud.
“Apakah ada yang lebih hebat dari lelaki yang dibunuh olehkaumnya sendiri? “jawab Abu Jahal dengan nada yang masih saja sombong.

Mendapat Gelar Fir’aun

Sesaat kemudian Abdullah pun membunuhnya kemudian mendatangi Raulullah SAW seraya berkata,
“Aku telah membunuhnya, aku telah membunuh Abu Jahal.”

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Demi Allah yang Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.”

Beliau pun mengung-ulang ucapannya sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda,
“Allahu Akbar, segala puji bagi Allah, Maha Benar Janji-Mya, menolong hamba-Nya dan memporak-porandakan pasukan, pergi dan perlihatkanlah padaku.”

Para sahabat kemudian bergegas pergi lalu memperlihatkan jasad Abu Jahal kepada Beliau. Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Inilah Fir’aunnya umat ini.”

semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah ini. semoga kita menjadi insan yang husnus khatimah, aamiin :)

sebarkan!

Memori Cinta Serambi Mekkah

Masjid Baiturrahman Kota Banda Aceh masih berdiri anggun dan kokoh. Aku memandangnya dari lantai dua gedung Museum Tsunami, dari balik jendela kaca besar yang berkilau ditimpa cahaya matahari. Dulu, sembilan tahun yang lalu, halaman masjid itu dipenuhi puing-puing runtuhan bangunan, dan jasad-jasad tak bernyawa tumpuk-menumpuk seperti timbunan sampah.

Aku tercenung. Sendirian. Bayangan-bayangan masa lalu meninggalkan jejak kelam, semuanya terekam dengan jelas dan kembali berputar membangunkan memori yang lama terkubur. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.  Peristiwa itu sangat dahsyat, bahkan aku mengira hari itu adalah Hari Kiamat. Pikiranku melayang-layang di udara, terbang ke sana ke mari.

***

Ulee Lhue, 26 Desember 2004

Dalam balutan baju koko putih, aku terus mempersiapkan diri. Menghafalkan kalimat ijab qobul. Ratri cantik sekali, ia mengenakan baju gamis putih. Wajahnya putih bersinar meskipun dengan riasan seadanya. Pak penghulu, wali dan dua orang saksi telah siap melaksanakan prosesi suci itu. Tangan ayah Ratri mejabat tanganku erat, ia menatap dalam-dalam. Keringat dingin mengucur di kening, rasanya grogi. Persendianku seperti mau lepas.

“Saya terima nikahnya Ratri Hasanah binti Yusuf…” belum selesai kalimat itu kuucapkan, tiba-tiba bumi Aceh berguncang dahsyat. Rumah panggung kayu itu berderit kencang, piring-piring berjatuhan dan serpihan kayu mulai rontok. Semua berteriak, menangis, bertakbir dan menjerit. Suasana akad nikah yang syahdu berubah menjadi hiruk pikuk.

Aku terhuyung-huyung, berjalan tak tentu arah seperti orang yang sedang mabuk. Semuanya berdesakan di pintu rumah, ingin menyelamatkan diri sebelum rumah itu roboh.

“Semuanya cepat keluar!” Teriakku. Satu persatu anggota keluarga dan tamu undangan berhasil diselamatkan.

“Bagaimana ini gempa, apa mau dilanjutkan?” tanya seorang kerabat.

Aku melirik ke arah calon mertua dengan tatapan penuh harap agar prosesi akad nikah itu tetap dilanjutkan.

Sepertinya calon mertua memahami makna tatapanku, “Sudah kepalang tanggung kita lanjutkan saja.”

Pernikahanku hanya disaksikan sedikit orang, sebagian tamu undangan memilih pulang. Seluruh keluarga dan para undangan duduk beralaskan tanah, diantara rimbunnya pohon kelapa yang tumbuh di pesisir pantai Ulee Lhue. Lagi, ayah Ratri menjabat erat tanganku.

Aku menarik nafas panjang, “Saya terima nikahnya Ratri Hasanah binti Yusuf dengan mas kawin seperangkat alat shalat tunai.” Pak penghulu berucap hamdalah, Ratri sudah resmi menjadi istriku. Keluarga dan para undangan mengucapkan selamat.

Beberapa menit kemudian, lamat-lamat kudengar orang-orang berteriak kegirangan melihat ikan-ikan bergelimpangan, “Air laut surut, banyak kali ikannya!” Mereka berlomba-lomba menangkapi ikan yang menggelepar-gelepar. Firasatku berkata lain. Air laut surut, ini pertanda tidak baik. Tsunami.

Aku berteriak-teriak dari kejauhan, “Jangan ke pantai!” Namun apa daya suaraku tak mampu menjangkaunya. Hilang ditelan angin.

“Memangnya ada apa, Faris?” tanya ibuku.

Aku tak sempat menjawab pertanyaannya, “Ayo kita semua pergi dari sini, carilah tempat yang lebih tinggi!” Seketika semuanya menjadi panik.

Mobil-mobil bak terbuka sudah dipenuhi orang, semuanya memaksakan diri untuk menaikinya. Sempit, berhimpitan. Tak ada tempat yang tersisa untukku. Ayah, ibu, istri dan mertuaku sudah berada di atasnya.

Kupandangi Ratri, dan mengecup keningnya, “Pergilah ke tempat yang aman, jangan khawatirkan Abang.” Ada gurat cemas di wajahnya.

Ibu berkali-kali berpesan, “Faris, apapun yang terjadi janganlah mati kecuali dalam keadaan Islam.” Bulir-bulir bening membasahi pipinya yang keriput.

“Tenanglah Ma, insya Allah Faris baik-baik saja.” Aku berlari ke arah Juki, motor tua itu setia menunggu di halaman rumah panggung yang miring akibat gempa.

Brem! Brem! Aku memacu Juki secepat kilat. Nging! Nging! Suara itu berdenging semakin keras, seperti suara pesawat terbang yang mendekat. Aku menoleh ke belakang, dari kejauhan terdengar teriakan-teriakan ketakutan. Suara tawa anak-anak berubah menjadi tangisan pilu.

Nging! Nging! Suara itu semakin dekat memekakkan telinga. “Ada apa ini?” Batinku. Aku terus menambah kecepatan, Juki mulai berkerikit. Lagi, aku menoleh ke belakang. Tiba-tiba, air hitam bercampur pasir dan puing-puing bangunan mulai melahap pohon kelapa yang ada di depannya. “Allahuakbar!” Aku berteriak, bayang-bayang kematian ada di benakku.

Ayolah Juki, jangan menyerah! Motor butut itu mulai terengah-engah. Air bah raksasa itu semakin mendekat. Byur! Aku ditelan olehnya, melayang-layang di antara timbunan sampah rongsokan. Dadaku sakit sekali, akibat menelan air bercampur pasir. Ujung-ujung kayu yang patah menyayat tubuhku. Perih.

Dalam kegelapan dan pekatnya gulungan ombak tsunami, aku memohon pada-Nya, “Jika memang ini saatnya hamba mati…matikanlah dalam keadaan husnul khatimah.” Pasrah. Tiba-tiba, aku menabrak sebuah dinding. Timbul, tenggelam. Sekilas kulihat ada seutas tali menjuntai dari atap rumah yang dindingnya masih berdiri kuat.

Dengan tenaga yang tersisa aku berusaha menggapainya. Hap! Berhasil, dengan tubuh dipenuhi luka aku memanjat ke atap rumah. Dan terduduk lemas di atasnya, rasanya tak kuat lagi. Kutumpahkan rasa syukur itu dalam sujud panjang berurai air mata. Kupandangi sekeliling, air tsunami itu masih melampiaskan murkanya. Ia menyeret apa saja yang ada di hadapannya. Sepintas, kudengar sayup-sayup suara meminta tolong.

“Tolong! Tolong!” Seorang kakek tua bergelantungan di batang pohon yang patah. Terseret arus. Aku berusaha meleparkan tali itu padanya, ia berhasil menggapainya. Namun naas, tali itu terputus. Ia terus menjauh dan menghilang.

Aceh saat itu, gelap gulita di malam hari, tidak ada seberkas cahaya sedikitpun. Dinginnya angin malam menusuk tulangku. Malam itu, aku bermalam di atas atap rumah bersama dengan beberapa jenazah yang tersangkut di pinggir-pinggirnya, tak ada lagi rasa takut di hatiku.

***

Fajar menyingsing, di bawah kaki langit biru. Aku mulai menelusuri bumi tempat berpijak dengan mata nanar. Ini benar-benar pemandangan yang mengerikan. Semuanya rata dengan tanah, tak ada sehelai ilalangpun berdiri tegak. Krak! Aku tidak sengaja menginjak jenazah yang tertutup triplek. Bau anyir jenazah bercampur lumpur, menyengat hidung.

Sudah tiga hari aku berjalan tak tentu arah. Sepertinya terjangan tsunami membawaku hingga beberapa kilometer dari Ulee Lhue. Tak ada satupun manusia hidup yang kutemui. Lapar. Aku mengais-ngais timbunan sampah, berharap ada makanan untuk mengganjal perut. Sebungkus mie instan tersumbul dari balik serpihan kaca, aku mengunyahnya tanpa dimasak.

Dari kejauhan kulihat tanda-tanda kehidupan. Tiga orang laki-laki datang berbaris sambil menggotong kantong mayat.

Aku berteriak seraya melambaikan tangan, “Tolong! Di sini ada orang!” Satu kali panggilan tidak terdengar.

“Tolong!” Salah satu dari mereka menoleh ke arahku.

“Di sana ada yang hidup!” Pekiknya kepada teman yang lain. Mereka menghampiriku, lega rasanya.

Aku terus mengikuti mereka mengevakuasi mayat, ada seorang anak kecil berusia dua tahun. Ia tidak beranjak dari samping jenazah lelaki paruh baya, aku terus memperhatikannya. Iba. Ia membelai lembut rambut jenazah, “Ayah, bangun! Bobonya jangan lama-lama…” Mataku berkaca-kaca sambil memalingkan wajah menyembunyikan tangis.

“Hari ini sudah cukup, kita kembali ke posko!” Lelaki bertubuh tegap itu membawa jenazah tersebut. Anak kecil itu terus menggenggam tangan ayahnya yang dingin dan kaku.

“Kemana kita akan pergi?” tanyaku pada salah satu dari mereka.

“Kita akan ke posko pengungsian di desa Lampisang.”

Setelah beberapa hari di pengungsian, aku mulai mencari jejak-jejak keluarga yang mungkin masih tersisa. Berbekal sepeda milik seorang pengungsi, dimulailah pencarian itu. Kukayuh sepeda itu ke daerah Lhoknga, rumahku hanya tersisa dinding dapurnya. Semua kenangan masa kecil, runtuh bersama rumah itu. Aku mendekat, ada goresan merah di dinding. Syaiful masih hidup, posko Masjid Lampenerut. “Pak Wa Syaiful masih hidup!” Batinku menjerit kegirangan.

Segera kunaiki sepeda itu, menuju Masjid Lampenerut. Selama perjalanan sudah terbayangkan kegembiraan bertemu dengan keluarga yang lain. Ayah, ibu, mertua, dan istri. Berharap mereka masih hidup. Senja menjelang, keringat sebesar jagung membasahi tubuhku. Masjid Lampenerut dipenuhi pengungsi, aku menghampiri seorang relawan dan bertanya perihal pak Wa Syaiful.

Pak Wa Syaiful memelukku. Erat. Ia menangis kencang, aku terharu tak sanggup membendung air mata yang deras mengalir.

“Pak Wa mana yang lainnya? Mana ayah, ibu, mertua, dan istriku?” tanyaku penuh harap.

Pak Wa Syaiful terbata-bata, “Faris, ayah dan Ma sudah dimakamkan di kuburan massal di Pocut Baren.” Mataku bengkak karena menangis, rasanya masih belum percaya mereka telah tiada.

“Apa ada kabar tentang istri dan mertuaku, Pak Wa?”

Pak Wa Syaiful menepuk punggungku, “Kemarin pak Wa dapat kabar dari seorang relawan, kemungkinan istrimu ada di RS Fath.” Tanpa berpikir panjang, aku segera menuju RS Fath. Pasien-pasien luka dirawat di koridor rumah sakit, semua ruangan sudah penuh.

Aku bertanya kepada petugas rumah sakit, “Adakah pasien bernama Ratri Hasanah?”

Ia mulai membuka buku catatan pasien, “Ada Pak, di ruangan nomor 34.”

Kubuka pintu itu, ayah mertua duduk di sisi Ratri. Ia menyambut dan merangkulku, ada embun di matanya. Ratri terus bergumam, ia tak sadarkan diri. Perlahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, ternyata ia menggumamkan ayat-ayat al-Qur’an. Ia melantunkan sebuah ayat. Ini bacaan al-Qur’an terindah yang pernah kudengar. Kuresapi maknanya di relung-relung hati terdalam. Tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. Air mataku jatuh, membasahi pipi Ratri.

Tiba-tiba, seorang dokter menghampiri ayah mertua, mereka berbincang-bincang sejenak di luar ruangan. Aku mengitipnya dari balik pintu, ayah mertua terduduk menutup kedua wajahnya. Tubuh ringkihnya berguncang-guncang menahan kesedihan.

***

“Abi,” tangan mungil itu menggamit tanganku, memecah lamunan. Senyumnya yang ceria menghibur hati.

“Ayo kita pulang, Bi. Ummi sudah menunggu.” Ia menyeretku menuruni tangga ke lantai satu. Ratri duduk di atas kursi roda. Nabila, putriku membantu mendorong kursi roda.

Masih terngiang-ngiang di telinga, vonis dokter sembilan tahun yang lalu, “Cedera hebat yang dialami Ratri merusak syarafnya, kemungkinan ia mengalami kelumpuhan permanen dari bagian pinggang sampai kakinya. Ia tidak akan bisa berjalan, kecuali jika Tuhan berkehendak lain.”

Kutatap matanya yang bening. Ia cantik lahir batin, aku benar-benar jatuh cinta. Seulas senyum menghiasi bibir merah Ratri. Menatap cerahnya masa depan. Aku berjalan gontai, di bawah kaki langit biru Kota Banda Aceh.

Tentang Ummu Maila

Seorang ibu rumah tangga, yang sedang mencoba hobi baru yaitu menulis. Ternyata menulis itu mengasyikkan sama menariknya dengan membaca.

Sumber: Dakwatuna

Saat Teman Ingin Menikah


“Ada yang jatuh cinta padamu: aku”
Sebut saja ia seorang lelaki yang mengaku “pejantan tangguh”, yang sedang semangat menyelesaikan skripsi, insomnia hingga pagi, Razai namanya.

 Zainab, tak ada manusia yang benar-benar bertahan dalam kesendirian,
Jika kau temukan ia dalam perjalanan hidupmu, segera beritahu aku,
Agar dapat kubagi kebahagiaanku dalam menantimu
Menuju detik-detik itu tiba

 Zainab, senyummu, memaku aku yang selalu malu
Berlagak sok kaku di depan dirimu
Bahkan panggilan “kakak” pun semakin membuat diri membeku
Ketika kupu-kupu memberi cahaya baru
 Memecah kesunyian di antara pertemuan kita
Dan teman-teman

Ada Tuhan, Yang Maha Mengetahui kerinduanku
pribadimu, mendesir di jalan-jalan darahku yang perlahan melambat
Kemudian terpacu, atas jantung yang berdetak kian cepat

Zainab,
Kini, kuutarakan niatku untuk membersamaimu
Dalam susah maupun senang
Dalam sedih maupun bergembira
Dalam aku yang diam-diam berdoa di hadapan Tuhan

Zainab,
Perlahan motor bututku melaju ke rumahmu
karena sejauh apapun kau ingin berlari aku ingin selalu mengejar punggungmu
dengan rindu

 Zainab, Bukankah menikah itu adalah yang juga kau harapkan?
Menggenapkan setengah imanku
Juga imanmu
Bersamaku.

Maka,
Zainab Izinkan aku mencintaimu dengan alasan yang tak rumit
biarlah ia sederhana dan apa adanya
aku jatuh cinta
dan terus jatuh cinta

 Surat An-Nur ayat 32: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui.”

Zainab,
 Ini aku di depan rumahmu
“Kalau saja aku boleh mengulah, sudah ku pinta Tuhan untuk mencabut perasaan dag-dig-dug ini . Jika ianya tak nyata, agar terlupa segala resah gelisah. Agar terlupa segala rasa sakit yang menyiksa. Tapi inilah cinta yang sebenarnya. Aku di depan rumahmu, bersiap untuk melamarmu. Dalam payung halalNya. Dalam paying keridhoanNya. Sudikah kau?”

 Illahi, ku langitkan namanya
Dalam tahajjud yang tak seberapa lama
Berikan aku kesempatan
Untuk membangun cinta
Menuju syurga
Meski matahari tenggelam berkali-kali,
Ribuan bidadari di papan reklame,
Jalanan macet,
Hingga tugas skripsiku yang tak terselesaikan,
Bagaimana gelarku di undangan pernikahan kita?
Ah, Zainab… 

 “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka (di dalam kehidupan Jannah), dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur 21) 

Bukan hal yang salah jika Razai mengaku cinta ada dalam bagian hidupnya. Karena setiap orang normal akan berkeinginan : berbahagia dengan pasangan hingga ke syurga.

 *Tulisan ini didedikasikan untuk teman (dan teman-teman lainnya) yang ingin sekali menikah. Mari kita doakan agar kita semua segera dipertemukan dengan jodohnya dalam kebersamaan yang halal hingga ke syurga. Selamat menikmati.

 Sumber : Sri Luhur Syastari (@cutdekAyi)

Siddharta Gautama Adalah Nabi Dzulkifli (?)


Benarkah Buddha adalah Nabi Zulkifli a.s? Apakah bukti Buddha adalah Nabi Zulkifli? Kalau kita simak dan pelajari riwayat hidup kedua-dua tokoh ini, maka ada kemungkinan 90 % mereka adalah orang yang sama.

1. Menurut Abu’l Kalam Azad (seorang Urdu scholar), Sang Buddha (Buddha Shakyamuni) yang dikenal sebagai guru suci bagi umat Buddha tidak lain adalah Nabi Zulkifli as, yg dalam Al-Quran disebut sebagai Nabi yg mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi, dan sangat baik. Dalam bahasa Arab Zulkifli sendiri berarti “orang yg berasal dari Kifl”. Sedangkan Kifl itu sendiri, masih menurut Kalam Azad, merupakan nama Arab untuk Kapila (singkatan dari Kapilavastu).

2. Buddha Maitreya yang dikenal dalam agama Buddha sebagai “Buddha yang akan datang” menurut beberapa analisa tidak lain adalah Nabi Muhammad saw. Dalam kitab Chakkavatti Sinhnad Suttanta D. III, 76 bisa ditemui: “There will arise in the world a Buddha named Maitreya (the benevolent one) a holy one, a supreme one, an enlightened one, endowed with wisdom in conduct, auspicious, knowing the universe“.




SIAPAKAH NABI ZULKIFLI

Zulkifli bermaksud sanggup menjalankan amanah raja. Menurut cerita, raja di negeri itu sudah lanjut usia dan ingin mengundurkan diri daripada menjadi pemerintah, tetapi beliau tidak mempunyai anak.
Justeru, raja itu berkata di khalayak ramai:”Wahai rakyatku! Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada waktu malam. Selain itu, sentiasa bersabar ketika menghadapi urusan, maka akan aku serahkan kerajaan ini kepadanya.”

Tiada seorang pun menyahut tawaran raja itu. Sekali lagi raja berkata:”Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada malamnya serta sanggup bersabar?”

Sejurus itu, Basyar dengan suara yang lantang menyatakan kesanggupannya. Dengan keberanian dan kesanggupan Basyar melaksanakan amanah itu beliau diberi gelaran Zulkifli.

Baginda juga adalah nabi yang cukup sabar seperti firman Allah, bermaksud:
“Ismail, Idris dan Zulkifli adalah orang yang sabar dan Kami beri rahmat kepada semua karena mereka orang yang suka bersabar.”

SIAPAKAH SIDDHARTHA GAUTAMA

Pada akhir abad ketujuh S.M. (tahun 623 S.M.), lahirlah seorang yang bernama Siddhartha Gautama di bandar Kapilavastu/Kapilavathu (Kapil, lidah Arab menyebut Kafil @ Kafli). Siddhartha Gautama merupakan putera kepada Raja Suddhodana dan Permaisuri Maha Maya. Raja Suddhodana dari keturunan suku kaum Sakyas, dari keluarga kesastrian dan memerintah Sakyas berdekatan negeri Nepal. Manakala Permaisuri Maha Maya pula adalah puteri kepada Raja Anjana yang memerintah kaum Koliya di bandar Devadaha.

Sebelum kelahiran Buddha: Permaisuri bermimpi dibawa oleh 4 orang dewa ke sebuah gunung yang tinggi. Kemudian, permaisuri melihat seekor gajah putih yang cantik. Pada belalai gajah itu terdapat sekuntum bunga teratai. Gajah mengelilinginya 3 kali sebelum masuk ke dalam perut permaisuri.

MAKSUD ISTILAH BUDDHA

Dalam agama Buddha, perkataan Buddha bermaksud ‘seorang yang bijaksana’ atau ‘dia yang mendapat petunjuk’. Kadang kala istilah ini digunakan dengan maksud ‘nabi’. Gautama Buddha pernah menceritakan kedatangan seorang Antim Buddha. Perkataan Antim bermaksud ‘yang terakhir’ dan Antim Buddha bermaksud ‘nabi yang terakhir’ (Antim terakhir yang dimaksudkan ialah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir). Pada saat kematian Gautama Buddha, beliau memberitahu perkara ini kepada pengikut setianya bernama Ananda.

Makna “Nabi” dalam bahasa Arab (berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ dapat melihat tempat yang jauh). Nabi dalam bahasa Arab sinonim dengan kata Buddha sebagaimana yang difahami oleh para penganut Buddha. Sinonimnya pengertian ini dapat diringkaskan sebagai “Seorang yang diberi petunjuk oleh Tuhan sehingga mendapat kebijaksanaan yang tinggi menggunung”.

RINGKASAN KISAH SIDDARTHA GAUTAMA

Kelahiran Bodhisatta (Bodhisattva, bakal Buddha atau bakal mencapai Pencerahan) pada tanggal 623 S.M. pada bulan purnama Vesak. Selepas sahaja Bodhisatta dilahirkan, Permaisuri Maha Maya mangkat selepas tujuh hari melahirkan anak.

Pada hari kelahiran Bodhisatta telah disadari secara ghaib oleh seorang tua yang sedang bertapa di kaki gunung Himalaya yang digelar Asita Bijaksana (nama asalnya Kala Devala). Asita bergegas ke istana pada keesokannya untuk melihat dan menilik putera Raja Suddhodana.

Asita mendapati terdapat 32 tanda utama dan 80 tanda kecil menunjukkan Bodhisatta bakal menjadi Manusia Agung dan Guru Agung kepada manusia dan dewa-dewa (i.e. Jin dan Malaikat, kelemahan umat Hindu dan Buddha ialah tidak dapat bedakan antara Jin dan Malaikat yang keduanya dipanggil DEWA-DEWA).

Asita menangis karena sedih tidak sempat mendengar ucapan dan pengajaran Buddha di masa akan datang, beliau kemudian berlutut tunduk hormat kepada bayi Bodhisatta.

Kenyataan terakhir Asita ialah Bodhisatta hanya akan menjadi salah satu dari dua yaitu sekiranya ia kekal membesar dalam istana dia akan menjadi Maharaja Agung manakala kalau dia berjaya lari dari istana maka dia akan menjadi Mahaguru Agung.

Upacara menamakan putera raja diadakan pada hari kelima selepas Boddhisatta dilahirkan. Pada akhir majlis itu, 108 orang bijaksana memutuskan nama yang sesuai untuk putera raja iaitu SIDDHARTHA GAUTAMA yang membawa maksud ‘Cita-Cita Terkabul’.

Siddhartha kemudian membesar di istana dan belajar kepada seorang guru istana bernama Sirva Mitra. Beliau menjadi pelajar yang luar biasa pintar dan mahir dengan ilmu ketenteraan. Yang menjadi keheranan kepada orang disekeliling dan gurunya ialah sifat Siddharta yang sensitif terhadap penganiayaan hingga tidak ada seorang pun yang beliau lihat menganiaya binatang kecuali mencegahnya serta merta.

Malah beliau sangat bersedih melihat para petani berkerja keras membajak tanah dibawah terik matahari menyebabkannya lari ketempat lain ke sebuah pohon (Tiin-Bodhi) dan duduk di sana secara bertafakur (samadhi) untuk membuang stress.

PERSAMAAN NABI ZULKIFLI DENGAN SIDDARTHA GAUTAMA

Maka berbalik kepada maudhu’ perbahasan, benarkah Buddha itu disebut dalam Al-Qur’an? Sebenarnya tidak ada kata-kata “Buddha” dalam Al-Qur’an, namun menurut Dr. Alexander Berzin bahawa terdapat catatan para sejarawan dan peneliti yang mengaitkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan Sang Buddha, yaitu pada maksud ayat;

“Demi (buah) Tin (fig) dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”(At-Tin 95 : 1)

Beliau menjelaskan bahwa buah Zaitun melambangkan Jerusalem, Isa a.s. (Jesus, Kristian). Bukit Sinai melambangkan Musa a.s. dan Yahudi. Kota Mekah pula menunjukkan Islam dan Muhammad SAW. Manakala pohon Tin (fig) pula melambangkan apa?

Tin (fig) = Pohon Bodhi

Pohon Bodhi adalah tempat Buddha mencapai Pencerahan Sempurna. Al-Qasimi di dalam tafsirnya berpendapat bahawa sumpah Allah SWT dengan buah tin yang dimaksud ialah pohon Bodhi. Prof. Hamidullah juga berpendapat sama dengan al-Qasimi bahawa perumpamaan pohon (buah) tin (fig) di dalam Al-Qur’an ini menunjukkan Buddha itu sendiri, maka dari sinilah mengapa sebahagian ilmuan Islam meyakini bahawa Buddha telah diakui sebagai nabi di dalam agama Islam.

Manakala Hamid Abdul Qadir, seorang sejarawan abad ke-20 mengatakan dalam bukunya Buddha Yang Agung: Riwayat dan Ajarannya (Arab: Budha al-Akbar Hayatuh wa Falsaftuh), menjelaskan bahawa Buddha adalah nabi Dhul-Kifl, yang bererti “ia yang berasal dari Kifl”. Nabi Dhul-Kifl @ Zulkifli disebutkan 2 kali dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (Al-Anbiya’ 21: 85).

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (Shad 38 : 48).

KESIMPULAN

“Kifl” adalah terjemahan Arab dari Kapilavastu (Kapil), tempat kelahiran Bodhisattva (Buddha). Hal ini juga yang mungkin menyebabkan Mawlana Abul Azad seorang ahli teologi Muslim abad ke-20 turut menekankan bahawa Dhul-Kifl dalam Al-Qur’an boleh jadi adalah Buddha.

Dalam sejarah Islam, Nabi Zulkifli a.s. adalah antara nabi yang mempunyai cerita yang paling sedikit dibicarakan. Hal ini mungkin menjadi faktor kepada sebahagian ulama’ menyamakan watak Dzul-Kifli dalam Al-Qur’an dengan Buddha yang secara kebetulan banyak persamaan sekiranya disuaikan.

Yang menarik perhatian saya ialah mengenai surah at-tin (the fig). Allah berfirman mengenai pokok/buah tin, pokok/buah zaitun, bukit sinai dan kota mekah. Mekah dikaitkan dgn Nabi Muhammad s.a.w., Bukit Sinai dengan Nabi Musa, zaitun dengan Nabi Isa a.s., dan siapa pula dikaitkan dengan buah atau pokok tin?

Dikatakan dalam sejarah bahawa Gautama Buddha duduk bawah pokok tin. Kalau ikut istilah islam, dia dapat wahyu masa duduk bawah pokok tersebut. Ikut tulisan orang Buddhist, dia dapat ilham masa duduk bawah pokok tersebut.

Bila Allah berfirman :“Wattiini wazaitun. watuurisinina wahazal baladil amin.”
Allah menyebut perihal Nabi-Nabi-Nya. Tiin (Nabi Zulkifli-Buddha), Zaitun (Nabi Isa a.s), Siniina- bukit Sinai (Nabi Musa) dan Baladil amin -Tanah yang aman dan selamat (Mekah)- Nabi Muhammad saw. ia ikut urutan, hebatnya Qur’an sebagai kalimat Tuhan susunan sejarah riwayat Nabi-Nya. Mari kita sama-sama fikirkan. HANYA ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI.

sumber: zilzaal.blogspot.com 

Lem Alteco Untuk Handphone Ust. Hidayat Nur Wahid


Beberapa waktu yang lalu sejenak kita terpesona dengan adanya tokoh seperti Dahlan Iskan dan Jokowi, "apakah tidak ada kader PKS seperti mereka" ? begitu pertanyaan salah seorang simpatisan partai dakwah ini. Sederhana pertanyaannya, apakah tidak ada tokoh seperti mereka di PKS?. Jawabannya sederhana, di PKS ada tokoh seperti mereka, bahkan tidak hanya satu dua orang. Tapi masalahnya adalah, tidak ada media yang mengekspose. Siapa yang tidak tahu Dahlan Iskan, pendiri Jawa Pos  ini tentu mempunyai kekuatan dan relasi media yang kuat untuk melakukan penokohan.

Salah satu kader terbaik PKS adalah Ust. Hidayat Nur Wahid, banyak cerita tentang kiprah beliau. Ini saatnya untuk kita bercerita. Ini saatnya kita menyampaikan salah satu kader terbaik Bangsa, sosok negarawan yang memang layak menjadi bagian untuk memimpin Negeri Indonesia Raya ini.






Kesederhanaan beliau bukan hanya ditampakkan sebagai pencitraan saat Pilkada saja, tapi sudah jauh dari dahulu beliau lakukan. Dalam tulisan kali ini sedikit cerita tentang kesederhanaan beliau.

Menurut Cerita salah seorang narasumber, Sekitar Tahun 2007, Pak Dayat, panggilan akrab Ust Hidayat menjadi salah satu narasumber di sebuah kampus negri di Jawa Tengah. Kapasitas beliau saat itu adalah sebagai ketua MPR. Dialog yang berlangsung hangat tiba-tiba senyap dan terhenti ketika ada bunya Handphone.Tit..tit..tit..tit, seketika hadirin dan para wartawan terhenyak dan para jurnalis segera mengambil gambar dan mendekat ke arah sumber suara yang ternyata adalah bunyi HP dari Pak Dayat. Seorang Ketua MPR, dengan Hand Phone sangat sederhana dan terkesan Jadul.

Dan Cerita tentang Hanphone Pak Dayat ini pun berlanjut, seperti diceritakan Ust. Cahyadi Takariawan
 "Sangat banyak kisah kehidupan keseharian pak Hidayat. Salah satunya saya dapatkan dari seorang teman yang pernah menjadi asisten beliau saat menjadi Ketua MPR. Teman ini bercerita, suatu ketika diminta pak Hidayat membelikan lem alteco. Tanpa bertanya kegunaan lem tersebut, sang asisten langsung pergi membelikan. Setelah lem diserahkan ke pak Hidayat, sang asisten penasaran, digunakan untuk apa lem tersebut. Maka diam-diam ia menyelinap masuk ke ruang kerja pak Hidayat. 

Betapa terkejut sang asisten menyaksikan pak Hidayat menggunakan lem tersebut untuk memperbaiki casing HP beliau yang retak karena terjatuh.Ia tidak menyangka, seorang politisi senior, seorang Ketua MPR, masing mengurus casing HP yang pecah. Bukan membeli casing baru, atau membeli HP baru, namun membeli lem untuk memperbaiki casing yang pecah. Lagi-lagi, kejadian seperti ini tidak pernah masuk pemberitaan media massa. Kehidupan beliau sangat sepi dari publisitas. Beliau melakukan segala aktivitas secara alami, tanpa kemasan branding, atau menyewa konsultan untuk memperbaiki penampilan atau membayar media planner untuk mengatur tampilan beliau di media. Semua berjalan sangat alami, tanpa sentuhan entertainment. Itulah sosok sederhana Hidayat Nurwahid yang sempat saya kenal." Pungkas Pak Cahyadi. 

sumber: zilzaal.blogspot.com